Ketika Vani keluar dari kamar kecil, Ken tidak seorang diri. Ada laki-laki lain yang berdiri di sebelah ranjang pasien. Laki-laki itu sepertinya menyadari kehadiran Vani, jadi ia mengulas senyum dan izin pamit. Setelah pintu tertutup, manik Vani mengangkap ada banyak kantung plastik. Ia menduga kalau laki-laki—orang suruhan Ken—tadilah yang membawa semua itu. Ken sudah duduk bersandar pada ranjang, laki-laki tadi yang membantunya untuk duduk.
Vani yang penasaran lekas membuka isi kantung plastik. Di sana ada banyak macam buah-buahan termasuk buah kesukaannya, anggur. Ia tidak berhenti di sana, tangannya bergerak lagi untuk membuka kantung plastik satunya yang hanya berisi dua kotak. Vani menebak isi dari dua kotak itu adalah makan siang untuk mereka.
"Kamu jadi beliin aku ayam geprek?" tanya Vani sembari mengeluarkan kotak dari dalam kantung plastik.
"Enggak," jawab Ken enteng.
Vani memberengut, hilang sudah khayalannya untuk makan ayam geprek. Padahal ia sangat menginginkannya. Gadis itu membuka satu kotak, isinya berupa bubur ayam yang masih hangat.
"Katanya enggak suka bubur?" sindir Vani.
"Ya enggak semua bubur, Sayang. Bubur yang ini enak banget," puji Ken terkekeh pelan.
Vani mencibir dan melanjutkan membuka kotak satunya. Matanya berbinar, ada nasi ayam dengan saus asam manis dan beberapa perintilan lainnya.
"Enggak dapet ayam geprek, ini juga boleh," kekeh Vani.
Ken tersenyum kecil, ia sudah menebak jika Vani akan menyukai makanan yang ia pesan. Dilihat dari bentuknya saja mampu menggugah selera, apalagi saat dimakan pasti rasanya lebih enak.
"Duduk sini, kita makan bareng," ajak Ken menepuk sisi ranjang yang ia tempati.
"Enggak mau, sempit. Aku duduk di kursi aja." Vani menolak halus lalu ia teringat sesuatu. "Oh iya, emang bisa makan sendiri?"
Ken mencebik, tangannya tidak separah itu sampai ia tidak bisa makan sendiri. Yang memar itu wajah dan perutnya, bukan tangan. Ken masih sanggup makan sendiri bahkan melakukan hal yang lebih dari itu juga ia masih mampu.
"Tangan aku masih berfungsi dengan baik, tapi kalo kamu mau nyuapin juga enggak apa-apa."
"Makan sendiri aja!" dengkus Vani.
Vani menyuapkan nasi beserta potongan ayam ke dalam mulutnya, rasanya benar-benar enak. Ia tidak menyesal walaupun tidak jadi makan ayam geprek. Ken ikut menyendok bubur ayam ke dalam mulut secara perlahan, luka di sudut bibirnya sudah mongering, tetapi masih terasa berdenyut. Ia memperhatikan Vani yang makan dengan lahap.
"Enak banget ya?" tanya Ken.
Vani mengangguk, ia kesulitan untuk berbicara karena mulutnya penuh. Setelah nasinya tertelan vani mengancungkan jari jempolnya didepan ken.
"Enak, belinya di mana?"
"Nanti kapan-kapan kita ke sana bareng."
¤♥¤
Suasana di mansion pagi ini sangat berbeda, tidak seperti biasanya. Suasana di sana pun begitu sepi, sehingga muncul rasa ingin memecahkan keheningan. Tidak ada keberadaan Vani di tengah-tengah mereka. Vano lantas menggerakan kepalanya, mencari keberadaan Vani. Namun, karena tak kunjung menemukannya, Vano akhirnya melontarkan pertanyaan. "Vani mana?"
Tidak ada yang menjawab. Mama dan papanya sama-sama diam.
"Vani gak pulang?" tanya Vano lagi berusaha mencari kejelasan.
"Sarapan dulu, Nak. Nanti dibahas lagi," jawab Levi mengelus bahu Vano.
Vano menurut tidak ingin membuat keributan. Ia sangat yakin jika kakaknya semalaman tidak pulang karena menemani lelaki brengsek itu. Ia menghela napas dan mulai menyuapkan makanan ke mulut. Setelah sarapan selesai, Vano tidak beranjak dari tempatnya. Ia menunggu kedua orang tuanya untuk berbicara.
"Liburnya masih lama?" tanya Sean pada Vano.
"Seminggu lagi, Pa." Liburan Vano sebentar lagi usai, ia akan segera kembali ke tempatnya menimba ilmu. Dan jawaban Vano tidak direspons oleh orang tuanya. Suasana kembali hening seperti sebelumnya. "Pa, gim—"
"Jangan bahas kakak kamu!" peringat Sean memotong ucapan Vano dengan tatapan datar kemudian beranjak meninggalkan ruang makan.
"Papa kamu masih marah," ucap Levi sambil melihat suaminya yang langsung pergi ke kantor tanpa mengatakan apa pun.
Vano menatap mamanya sembari menghela napas. "Kalau gitu Vano izin keluar, Ma. Ke rumah temen," ucap Vano mendekat dan mencium punggung tangan mamanya.
"Jangan pulang malem!"
"Iya, Ma."
Vano berbohong. Sebenarnya ia akan mencari tahu tentang keberadaan Vani. Sebagai saudara, Vano merasa tak tenang. Namun, mengapa orang tuanya terlihat biasa-biasa saja? Ia sendiri tahu.
¤♥¤
Ken mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Tubuhnya sulit untuk bergerak, dan senyumnya perlahan mengembang. Pantas saja tidurnya terasa nyenyak sekali walaupun dirinya sedang sakit, ternyata Vani ikut tidur di ranjang yang sama walau harus berhim-pitan. Ken juga tidak tahu bagaimana bisa seperti ini. Seingatnya, semalam suster di rumah sakit telah menyediakan bantal dan selimut serta kasur lipat yang bisa digunakan oleh Vani untuk tidur. Ia juga sudah menawarkan Vani untuk tidur di ranjang tempatnya berba-ring, biar saja dirinya yang tidur di lantai. Namun, Vani malah menolaknya mentah-mentah. Gadis itu bilang ia tak masalah tidur di lantai, toh ada kasur, bantal, dan selimut. Apa yang terjadi pagi ini sungguh berbeda dengan yang diucapkannya semalam. Ken terkekeh pelan. Sekarang, ia memiliki kesempatan untuk meman-dangi wajah polos Vani saat tertidur, menurutnya gadis itu tetap cantik.
Pintu ruangan terbuka. Ken meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Meminta agar dokter dan suster yang baru saja membuka pintu tidak bersuara. Ken melihat dokter itu tersenyum lalu memilih kembali menutup pintu, tidak ingin mengganggu dirinya dan Vani.
Si gadis menggeliat pelan, ia merentangkan tangannya sampai mengenai wajah Ken yang memar. Sebuah ringisan lolos dari mulut si pria. Rasa sakit seketika kembali muncul di wajahnya. Ketika mata Vani terbuka, ia menoleh dan menemukan Ken di sampingnya. Lantas, Vani berteriak, bahkan hampir saja jatuh ke bawah kalau tidak ada tangan kekar Ken yang menahannya.
"Vani!"
"Ma-maaf," lirih Vani kemudian turun dari ranjang.
Ken menetralkan kembali raut wajahnya, menatap Vani yang menunduk. "Ada ilernya."
Spontan Vani mengelap sudut bibirnya, dan hal itu justru membuat Ken tertawa. Tidak ada apa pun yang menempel di wajah Vani, Ken hanya membual saja.
Vani mendengkus. Pagi-pagi ia harus senam jantung melihat Ken yang tidur di sampingnya. Saking terkejutnya ia hampir terjengkang ke belakang, untung Ken sigap menahannya. Malu sekali rasanya jika yang dikatakan Ken benar, bahwa ada iler menempel di wajahnya. Rasanya Vani ingin memukul Ken ketika tahu laki-laki itu hanya menipunya. Vani menghentak-hentakkan kakinya saat berjalan ke arah toilet. Ken menghentikan tawanya, bisa-bisa ia awet muda jika setiap pagi seperti ini. Calon istrinya sangat menggemaskan. Ia melirik jam dinding, sudah pukul 9 pagi dan Vani belum sarapan.
Setelah urusannya selesai di toilet, Vani keluar dengan wajah yang lebih segar. Gadis itu melirik Ken yang terus memperhatikan dirinya. Wajahnya memerah karena malu, ia baru ingat saat di toilet tadi bahwa semalam ia yang menyempil tidur di samping Ken. Alasannya karena ia tidak bisa tidur.
__________________________________
Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk semuanya🙏🙏🙏
Mohon maaf apabila ada kata atau hal yang tidak berkenan dihati kalian para readers.
Beneran gak kerasa puasa tahun ini, tiba-tiba dah mau lebaran aja😚
Selamat hari raya idul fitri ya!!!
Kita maaf-maafanya secara onlen aja wkwkw,
Maapkeun tangannya burik abis mainan didapur😂😂
Ayo salaman onlen 😘😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
