Seorang gadis yang sedang duduk menyendiri di kantin, tidak lupa juga dengan buku novel kesayangannya yang dia bawa terus-menerus. Panggil saja dia, Senja, Morina Senja Kaira. Gadis ini sedang menghindar dari keramaian di lapangan Basket karena sedang diadakannya kegiatan PORAK (Pekan Olahraga Antar Kelas).
Senja malas melihat tim kelasnya bermain, bukan karena tidak ingin mendukung, tetapi rasanya malas melihat kerumunan orang – orang disana. "Senja," panggil seseorang tepat dibelakang Senja.
Senja menoleh malas. "Apa? Lo pasti mau kasih tau gue soal pertandingannya darren, kan? Please, gue lagi nggak mau ngebucinin dia dulu sekarang, mood gue ancur."
Cinta menghela napasnya panjang. "Biasanya juga lo semangat kalo tentang Darren."
Senja menggelengkan kepalanya. "Hari nggak dulu, gue lagi bosen liat dia."
Namun, bukan Cinta namanya jika tidak memaksakan segala hal kepada Senja. Dia terus menerus menarik lengan Senja berharap agar Senja mau pergi ke lapangan basket dan menemaninya juga di sana. Senja hanya mampu menarik napasnya dalam-dalam. Sudah siap jika melihat Darren – laki-laki yang dia cintai disoraki oleh banyak perempuan.
**
Suasana di lapangan basket SMA Nusa Bakti begitu hidup, dipenuhi sorak sorai penonton yang memenuhi tribun. Darren, yang menjadi pusat perhatian banyak pengagumnya, sedang bertanding dengan penuh semangat. Senja, dengan hati yang berdebar-debar duduk di antara kerumunan, diam-diam memperhatikan Darren yang begitu fokus dalam permainannya.
Namun, Hati Senja terasa berat saat melihat betapa banyaknya perempuan yang terpesona oleh Darren, menyadarkannya bahwa dia hanyalah satu dari sekian banyak pengagum. Menyukai Darren adalah hal yang menurut Senja sebenarnya salah, selain akan terus melukainya, Senja juga tidak akan pernah mendapatkannya karena Senja terhalang oleh pertemanan yang terjalin baik dengan Darren saat di bangku kelas 10. Cinta memperhatikan Senja, dia mengetahui perasaan yang besar yang di pendam Senja kepada Darren. "Nggak apa-apa, Nja. Lo juga harus kasih dukungan buat Darren," ucap Cinta.
Senja menghela napasnya, kemudian mengangguk. Dia tahu saatnya untuk mengubah diamnya menjadi dukungan yang riuh. Senja mulai meneriakkan semangat untuk Darren, berharap suaranya dapat mencapai telinga Darren di tengah keramaian tribun yang ramai.
**
Senja dan Cinta duduk di sudut kantin sekolah, karena sudah masuk di waktu makan siang mereka. Senja memegang ponselnya dengan tegang, mata terus memandang layar, menunggu kabar dari ayahnya tentang keadaan bundanya yang masih belum sadar jauh dari Indonesia. Cinta mencoba menenangkan Senja dengan kata-kata penuh keyakinan. "Semuanya bakal baik-baik aja, Nja. Bokap lo pasti bakal kasih kabar baik buat lo secepatnya."
Senja mengangguk, namun, gelisahnya masih terlihat jelas. Saat obrolan bergeser, Senja tiba-tiba menyebut tentang Kanaya, teman sebelah kelasnya yang terlihat akrab dengan Darren. "Nta, gue tadi liat Kanaya kasih minuman dingin ke Darren. Tapi, perlakuan Darren ke dia, tuh, beda banget," ucap Senja.
Cinta terkekeh pelan mendengar ucapan Senja. "Banyak kali cewek-cewek yang kayak gitu sama Darren. Kanaya Cuma mau temenan aja atau dia lagi nunjukkin kesan baik ke Darren."
Namun, Senja tetap bersikeras. "Tapi, gue ngerasa ada sesuatu yang beda. Perlakuan Darren sama Kanaya kerasa lebih dalam."
Cinta menatap Senja dengan penuh empati. "Lo-nya aja kali yang terlalu khawatir. Kita nggak bisa mastiin apa yang sebenernya terjadi di antara mereka. Udah yang penting lo yakin semuanya baik-baik aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
SENJA (COMPLETED)
Teen Fiction[PLAGIATOR GO WAY] cinta tidak seperti yang kalian ketahui, cinta itu butuh banyak proses yang akhirnya bisa bahagia. Untuk benci, dia akan menghilang ketika cinta bisa datang. Tapi mengapa rasanya cinta dalam diam itu lebih sulit? Pertemuan ini bis...
