Bener-bener yaa kleaan semua😂 tapi kusyukaaa, eungg😊
Enjoy guys!
Jangan lupa vote dan comment😘
.
.
***
Setelah mengangkat pakaian yang telah kering dihalaman belakang, Jennie membawanya ke ruang tengah untuk dilipat. Jennie menatap langit melewati jendelanya yang terbuka.
Senja yang mendung. Sepertinya akan hujan lagi. Untung saja pakaiannya telah kering semua.
Sepertinya malam ini Doyeon tidak akan berkunjung sebab akan turun hujan lebat. Jennie menutup pintu rumah dan menguncinya. Ia ke dapur untuk mengambil dua buah ember. Rumah yang berbentuk panggung itu terbuat dari papan, kayu, dan sedikit tembok. Sedangkan atapnya tidak baru lagi. Jadi, wajar saja jika ada beberapa bagian yang bocor sehingga Jennie harus menampungnya dengan ember jika hujan tiba.
"Padahal udara dingin, tetapi kenapa aku masih merasa panas?" gumam Jennie seraya duduk di kursi ruang tengah. Jennie mengelus perutnya dan tersenyum. Wajar saja jika wanita hamil selalu merasa kepanasan.
Jennie mulai melipat pakaian yang di ambilnya tadi. Beginilah kegiatannya sehari-hari.
Jennie mencuci tanpa mesin cuci, membersihkan rumah terkadang dibantu oleh Doyeon, memasak dan menyetrika sendiri. Di samping itu Jennie juga harus merawat tanaman hias serta berjalan kaki untuk menjualnya. Jennie memang lelah karena dia dalam keadaan hamil, namun ia menikmati apa yang dikerjakannya. Meskipun terkadang Doyeon dan ibunya sering menasehati Jennie agar lebih banyak beristirahat, akan tetapi Jennie sangat keras kepala.
Beruntung Doyeon dan keluarganya sangat menyayangi Jennie, seperti menyayangi anggota keluarga sendiri. Oleh sebab itu Jennie sangat betah tinggal dirumah sewa ini.
"Astaga, aku lupa mengembalikan jaket Yitian," ucap Jennie saat melihat jaket Yitian yang sempat dipinjamnya beberapa minggu yabg lalu. Padahal tadi Yitian berkunjung ke rumahnya, seharusnya Jennie mengembalikan jaket itu.
Jennie menggantung jaket tersebut di dinding dengan bagian punggung jaket menghadap ke depan. Di bagian punggung jaket itu tertulis nama Yitian.
Jennie tertegun sejenak lalu tersenyum.
"Aku bersyukur mempunyai teman sepertimu, Yitian."
Tok Tok Tok
Jennie sedikit terkejut mendengar ketukan di pintu rumahnya, ditambah dengan suara-suara gemuruh yang mulai terdengar. Ketukan pintu itu terdengar agak tidak sabaran.
Jennie mengernyit. Biasanya Doyeon akan berteriak di depan pintu jika Jennie belum juga membukakan pintu di ketukan pertama. Jadi, siapa kira-kira tamunya?
Jennie bertumpu pada lengan kursi agar bisa berdiri tegak. Perutnya yang membesar membuatnya sedikit kesulitan bergerak cepat.
"Tunggu sebentar!" seru Jennie seraya berjalan menghampiri pintu.
Diluar pintu rumah Jennie, Taehyung tertegun mendengar seruan dari dalam. Ia menelan ludah dengan susah payah. Suara Jennie! Setelah sekian lama ia merindukan suara itu, kini kembali terdengar merdu di telinganya.
Taehyung merasakan debaran jantungnya menggila di dadanya. Kedua telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat, bukan karena udara yang dingin serta air hujan yang mulai turun, melainkan karena sebentar lagi ia akan berhadapan dengan Jennie.
