Enjoy guys!
Jangan lupa vote dan comment😘
.
.
***
Suasana makan malam tetap seperti biasa, hanya saja lebih ramai karena anggota keluarga lebih lengkap. Tuan Kim dan Seolhyun nampak semakin lengket, sementara Taehyung lebih banyak diam. Ia tidak tertarik melirik Seolhyun bahkan Jennie.
Tuan Kim menyadari perubahan Taehyung. Selama beberapa terakhir, tepatnya setelah ia menikah dengan Seolhyun, Taehyung terkesan semakin tidak peduli padanya. Atau pada tugas-tugas ke luar negeri yang sebenarnya perlu turun tangannya.
"Taehyung." panggil Tuan Kim. Taehyung menoleh kepada Ayahnya.
"Iya, Ayah?"
"Besok kita mempunyai jadwal keberangkatan ke Jepang. Kau dan aku, sebenarnya. Mr. Sakuragi ingin membicarakan proyek pengeboran minyak yang berhubungan dengan kunjunganku ke Saudi Arabia. Kali ini kau harus ikut," ujar Tuan Kim tenang.
Tanpa di duga Taehyung mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa Ayahnya pergi lagi padahal baru saja sampai sore ini. Taehyung sedang malas berkomentar.
Seolhyun melirik Taehyung seraya tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya untuk mengelus tangan Taehyung, tentu saja gerakan yang wajar dari seorang ibu kepada anaknya, namun karena Jennie pernah mendengar dari Taehyung kalau Seolhyun menyukainya, membuat wanita itu terpana juga. Jennie tidak bisa menganggap kalau Seolhyun menyentuh Taehyung secara wajar. Ia pun mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Taehyung menatap tajam pada Seolhyun, namun tidak menepis tangannya.
"Taehyung sepertinya kelelahan, Sayang. Bisakah jadwal ke Jepang kita undur barang dua atau tiga hari lagi? Lagipula kau juga lelah kan, Sayang?" suara Seolhyun terdengar mendayu-dayu.
"Taehyung harus ikut denganku, Sayang. Sudah cukup lama ia bermalas-malasan." Tuan Kim bersikeras.
Taehyung menepis tangan Seolhyun lalu menjawab. "Tenang saja, Ibu. Sudah tugasku ikut dengan Ayah."
Jennie memandang Taehyung yang duduk di hadapannya. Mata mereka terpaku untuk beberapa detik. Seolhyun sama sekali tidak suka melihat itu. Ia berdehem keras untuk mengambil perhatian semua orang, tetapi tidak dengan Taehyung. Taehyung masih memandangi Jennie.
"Jennie. bagaimana pekerjaanmu?" tanya Seolhyun.
Jennie tersenyum. "Pekerjaanku baik-baik saja, Eonnie."
"Oh, baguslah. Oh ya, aku mempunyai oleh-oleh untukmu dari Saudi Arabia. Aku harap kau menyukainya."
***
"Pulang ke Jeonju? Apa kau serius?"
Jennie mengangguk. Ia sama sekli tidak menunjukkan kegusaran di wajahnya. Sebaliknya, Jennie tersenyum penuh arti kepada Seolhyun. Seakan-akan menunjukkan kalau tidak ada siapapun yang mengancamnya di tempat ini.
Seolhyun menggenggam tangan Jennie. Perasaan sayangnya kepada sang adik masih tersisa di hatinya yang paling dalam. Namun, sebenarnya ia tidak menolak permintaan Jennie untuk keluar dari rumah ini. Sebab itu akan membuatnya bebas bersama Taehyung.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Taehyung? Kau sudah putus dengannya?" Seolhyun berusaha mati-matian menahan nada semangat dalam suaranya.
Jennie tidak tahu harus menjawab apa, sebab hubungan mereka hanya mengada-ada. Ia tidak pernah menyetujui menjadi kekasih Taehyung. Namun daripada Seolhyun melontarkan pertanyaan lebih banyak lagi, Jennie akhirnya mengangguk, membenarkan pertanyaan Seolhyun.
