Chapter 18 : Denganmu ~

2.6K 293 24
                                        

                      Ehehehe maafin yah baru bisa update, tadi ada sesuatu yang gak bisa ditinggalin.

.

.

.

Sore itu Plan baru bangun dari tidurnya. Mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Hampir saja dia terlonjak kaget karena wajah seseorang ada dihadapannya, itu Mean. Wajahnya terlalu dekat dengan Plan, untung saja Plan masih bisa mengenalinya, bisa saja Plan memukul wajah Mean jika Plan tak segera sadar jika itu Mean yang sempat dirinya tanyakan pada sang kakak, Lena.

Mean tersenyum lembut, Plan merasakannya. Tatapan Mean berbeda, lebih hangat dan menenangkan untuknya, tidak membuatnya canggung apalagi merasa risih. Plan mengelus tengkuknya yang tak gatal karena Mean terus menerus menatap wajahnya seolah tak ada objek lain yang bisa di pandang.

"P'Mean kapan kembali?" tanyanya kikuk.

Mencoba meredam suasana yang sepi sunyi diantara keduanya.

"Dua jam yang lalu," lalu senyum itu terbentuk lagi, bahkan lebih lebar, "Tidurmu nyenyak sekali, aku tak tega membangunkanmu jadi menunggumu bangun." Katanya.

"Eh? Menunggu? Dua jam?" tanyanya dengan perasaan tidak enak.

Mean sudah menunggu dua jam, tentu saja Plan merasa tak enak hati. Dia menumpang dan dia hanya tidur disana, meskipun terluka seharusnya sebagai manusia yang hidup bersosialisasi dia harus punya rasa tahu diri yang tinggi.

Mean mengangguk.

"Maaf phi, aku hanya tidur disini. Seharusnya aku melakukan sesuatu disini," katanya dengan perlahan.

"Tidak boleh!" Mean langsung melarang, "Tugasmu hanya istirahat supaya cepat sembuh," Mean mulai mengomel, "Jangan berpikir untuk melakukan semuanya sendiri disini, kau tamu dan tentu saja sebagai tuan rumah harus melayani dengan baik."

"Aku hanya menumpang! Phi perlu mengingat itu," Plan masih bersikeras.

"Berhenti keras kepala Plan." Mean mengingatkan, Plan selalu keras kepala jika ada yang menasehati.

Lalu beberapa saat keheningan melanda, Plan tak mengerti harus bicara apalagi sampai akhirnya dia mengingat suatu hal yang sejak tadi menjadi bahan keributan antara otak dan hatinya.

"P'Mean...." panggilnya pelan, "Adakah kamar yang kosong disini?" tanyanya pelan.

Mean menaikkan alisnya, lalu diam lagi. Membiarkan si mungil yang bicara.

"Ini kamar P'Mean, seharusnya P'Mean yang tidur disini. Jika ada kamar tamu atau kamar kosong, tak masalah, aku bisa menempatinya. Tak masalah juga aku harus tidur sendiri, tak apa. Sungguh!" Katanya dengan cepat.

"Banyak kamar kosong, tapi kau tak boleh tidur di ranjang berbeda." Titahnya.

Plan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Auw... tapi kan ini kamar P'Mean," elaknya, "Lagipula kamar ini terlalu luas untukku, juga uhmm...uhmmm ....itu...," Plan mulai terbata-bata, padahal Mean tak melakukan apapun.

"Itu apa?" Mean mendesak Plan untuk bicara padanya.

"Tidak ada!" Elaknya dengan cepat takut jika saat ini ketahuan karena memikirkan hal yang aneh di otaknya.

Mean kembali dari tempat berdirinya di pinggir jendela.

Tadi Mean sedang mengamati pasukan khususnya berlatih dari jendela kamarnya. Di halaman luas itu pasukan khususnya sedang di latih oleh ajudannya untuk berperang. Mengingat pembicaraannya dengan para tetua tempo hari tentu saja mereka harus bersiap melawan dan berperang jika memang itu diharuskan.

ALPHA (2WISH)  DICETAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang