Plan bosan, padahal tadi dia sangat senang bisa mencoba busur panah yang cukup berat di tangannya. Sasarannya juga sudah kena, tapi dia tetap bosan. Sungguh, Plan merasa seperti diacuhkan sekarang, ohh salahkan saja Alpha Phiravich yang sialnya sangat tampan itu yang membuatnya rindu! Mean baru pergi sebentar tapi Plan uring-uringan sepanjang hari karena tak bisa banyak mengobrol dengan sang Alpha.
Dia membereskan sisa busur panah yang ada ke dalam wadahnya, hendak kembali ke kamar sang Alpha tapi lebih dahulu berniat minta maaf pada Porche karena telah mencuri senjatanya dan menggunakannya tanpa ijin. Meskipun jahil, Plan masih tahu tata krama.
Dia bangun dari posisinya yang jongkok, hendak berbalik badan tapi wajahnya menabrak sesuatu yang keras dan dia terjatuh dengan bokongnya yang mencium batu yang cukup besar yang tadi ada di belakangnya dan digunakan untuk duduk beberapa waktu lalu. Rasanya sakit sekali! Dia bahkan merasakan nadinya seolah berhenti sesaat dan digantikan rasa sakit yang menjalar pada tubuhnya.
"Aduh sakit!" Plan memegang bokongnya dan mulutnya tak berhenti mengaduh kesakitan, tangan kanannya memegang wajahnya yang tadi menabrak sesuatu yang bidang dan keras.
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, RATHAVIT?!"
Suara pertama yang menyapa indra pendengarannya milik seseorang yang dipikirkannya sejak tadi, Mean Phiravich.
"Aku bosan, jadi jalan-jalan dan mencoba panah milik P'Porche. Aduhh sakit!" Dia mengaduh lagi setelah menjawab pertanyaan yang dilayangkan Alpha pack Blue Moon itu.
Plan masih mengusap-usap bokongnya yang sungguh sakit sekarang, dia benar-benar tak tahu jika sang Alpha bisa menemukannya disana.
"Sini, aku bantu berdiri." Mean mengayunkan tangan kanannya di depan wajah Plan, menawarinya bantuan. Senyumnya terkembang, sangat mempesona.
"Mai! Gendong aku, Phi." Dia meminta tanpa tahu malu.
Plan tak peduli bagaimana pandangan orang padanya, dia sedang merajuk sekarang. Kesal setengah mati, jadi sekarang dia berhak manja pada sang Alpha yang hanya bicara sebentar dengannya dan pamit untuk menyelesaikan kepentingannya.
"Kau ini mahasiswa, tidak malu minta gendong padaku?" Mean mencoba sabar menghadapi matenya yang dia tahu sedang merajuk, meledek anak itu supaya berhenti manja.
Sejak kapan Plan manja pada Mean? Itu kejadian langka, jarang terjadi. Perlu diingat, kejadian langka! Hanya terjadi ketika Mean sering pergi dan keluar dari pack untuk menjalankan tugasnya sebagai Alpha. Sejak malam itu, Plan jadi lebih terbuka padanya. Plan anak tunggal dan juga yatim piatu, jadi wajar jika dia manja pada Mean. Sebenarnya juga lumayan manja pada sang kakak, Perth, tapi masih dalam tahap yang tak berlebihan. Dan menurut Mean, manjanya Plan padanya sangat berlebihan.
"Tidak! Aku tak peduli pada orang lain, bokongku sakit jadi phi harus menolongku." Dia mengeluarkan jurus puppy eyesnya.
Mean jengah, dia lelah dan butuh istirahat, tapi apa ini? Matenya malah meminta agar dia menggendongnya. Tin sedang marah karena Mean yang keterlaluan pada Plan, bagaimana bisa permintaan matenya di tolak?
"Lebih baik aku istirahat dan tidur di kamarku, tunggu saja sampai sakitmu hilang baru kembali ke kamar." Mean berkata dengan enteng, Plan menganga mendengar penuturan Mean yang terkesan tak peduli padanya.
'Dasar Phiravich,' Plan mengumpat dalam hati.
Seberapa banyakpun Plan mengumpat, tak ada masalah untuknya. P'Perth memberitahunya jika Mean tak dapat membaca pikirannya, jadi dia aman! Ahahaha.
Plan menengok ke arah belakang Mean dan mendapati Warrior yang di kenalnya berdiri dengan tenang, sebuah ide terlintas di otaknya.
"Kalau begitu, P'Porche harus menggendongku!" Plan mulai memerintah, " Jongkok Phi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHA (2WISH) DICETAK
FanfictionMean Phiravich, menyembunyikan jati dirinya dan hidup sebagai jajaran pengusaha muda sukses di Thailand. Siapa sangka? Ternyata dia adalah seorang Alpha dari bangsa Werewolf, pack Blue Moon. Ada satu hal yang menjadi rahasia besarnya,, dan punya mis...
