Chapter 32 : Obrolan Ringan

2.1K 283 70
                                        

Aku mulai terkena virus Block Writer :(

Tapi aku mohon tetep nikmati cerita ini, ya?

Jangan lupa vomen ya, harus pokoknya. Aku maksa!

Tolong hargai lelah dan tekad saya.

***


Tiga pria sedang menikmati makan siang, kini mereka berada di restoran Jepang yang letaknya tepat di depan Phiravich Company. Mereka makan Barbeque ditemani soda yang sudah tersedia di gelas masing-masing, karena masih kerja, mereka tak mau ambil resiko dengan meminum alkohol di waktu siang begini.

Jangan lupakan juga disana masih ada bocah kuliahan yang sangat polos dan penurut. Juga lebih diam, membuat yang lebih dewasa memperhatikannya terus menerus. Perth melirik ke arah Plan, lalu melirik Mean dan bergantian sampai beberapa kali dan akhirnya saling komunikasi lewat mindlink untuk menghibur bocah imut Plan.

"Apa dagingnya kurang matang?" Tanya Perth basa-basi, semoga saja Plan langsung menjawab.

"Uh?" Plan terkejut, "Tidak, phi. Ini matang." Memberi jawaban dengan penjelasan singkat.

"Apa memikirkan tugas kuliah? Tugasnya susah?" Mean memberanikan diri bertanya. Sudah tak sabar dia.

Plan menengok kearah Mean, menatapnya cukup lama sampai akhirnya mengeluarkan senyum manis polos khas yang takkan membuat Mean khawatir, menghangatkan hati Mean yang beberapa waktu lalu diliputi rasa marah yang teramat besar.

"Tidak ada P'Mean, untuk kuliah aku sudah memahaminya juga bisa mengerjakan tugasnya, phi jangan khawatir." Dia menjawab, menenangkan yang lebih tua, "Ada yang ingin ku tanyakan," Plan mulai bicara sesuai isi hatinya.

"Tanya apa?" Mean bertanya dengan lembut.

"Uhm, itu..." Plan terbata.

"Katakan saja, tidak usah ragu." –Mean.

Plan menggigit bibir bawahnya dengan gigi atasnya, menariknya ke dalam. 'Uhh imut,' Mean gemas setengah mati tapi mencoba tak ditunjukkan. Plan mengambil potongan daging sapi ke dalam piring kecilnya, membiarkannya dingin di atas piringnya. Kakinya di gerak-gerakkan dibawah meja ke depan ke belakang sukses menimbulkan bunyi decitan pada kursinya.

Plan menghembuskan nafasnya beberapa kali, sepertinya anak itu masih ragu untuk bicara pada dua phi di depannya.

"Anu," Plan tersenyum kikuk, "Kenapa phi bilang aku istrimu?" Dia menunduk dalam, tapi wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Perth menyunggingkan senyum, senyumnya meledek Alphanya yang sedang tersenyum diam-diam tanpa sepengetahuan Plan. Lalu menunjukkan tangan kirinya yang mengepal seolah ingin menonjok wajah Perth.

Ada keheningan yang melanda, ketiganya diam. Jika Mean karena sedang memikirkan caranya menjawab pertanyaan bocah polos dihadapannya, sedangkan Perth diam karena memang bukan ranahnya dia bicara. Perth jengah dengan keadaan ini, oh ayolah, waktunya kakaknya menunjukkan pada manusia itu jika mereka terikat.

"Kau memang istriku, kau pikir hubungan kita ini apa Plan?" Tanya Mean tenang, "Bagiku kau segalanya untukku, tau kenapa kau tak ku biarkan pergi kemanapun seorang diri?"

Plan menarik wajahnya dari posisi menunduk, "Kenapa?" Tanyanya dengan mata yang membulat.

"Karena Plan Rathavit adalah Luna untuk pack ku, juga istriku di dunia nyata." Mean menjeda kalimatnya, "Mana mungkin seorang Alpha yang memiliki Luna akan membiarkan Lunanya berkeliaran seorang diri di luar wilayahku? Itu tidak akan terjadi, karena itu jangan salah paham dengan apa yang ku lakukan untukmu." Mean menjelaskan dengan suara yang lembut.

ALPHA (2WISH)  DICETAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang