CHAPTER BONUS 2 (END)

2.5K 210 109
                                        


Seorang remaja berusia 13 tahun kini sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sudah selesai memakai seragam, sebentar lagi menuju ke ruang makan. Mean sekeluarga kini sudah pindah ke kediamannya di Bangkok, Mark sudah masuk SMP. Mark yang paling bahagia karena akhirnya bisa memiliki teman manusia di Bangkok, tentu saja Gun harus ikut. Gun saat ini berusia 11 tahun dan sudah masuk ke SD yang sama dengan Mark, tapi karena sekarang Mark sudah SMP jadi mereka berpisah sementara. Mark selalu melindunginya, sebenarnya ingin tinggal bersama juga tapi belum waktunya, kata Daddy-nya, Mean.

Yah, sejak kecil Mark berporos pada orangtuanya dan Gun. Selain karena persahabatan orangtuanya, juga karena Mark yang sudah tertarik pada Gun sejak balita. Di sekolah, Mark sering mendapat cokelat dan makanan manis lain dari anak perempuan yang mengaguminya, tentu saja karena ketampanannya diatas rata-rata. Bahkan ketika usianya masih tergolong anak-anak.

"Ibu, masak apa hari ini?" Mark bertanya pada Plan yang masih membereskan meja makan dengan tatanan piring-piring untuk sarapan mereka.

"Omelet dan sup, juga stik daging sapi." Jawabnya dengan nada biasa, "Sudah ku bilang berapa kali, panggil Papa, jangan Ibu!" Plan kesal, terlihat dari nada suaranya.

Yah, ketika masih balita Mark selalu memanggil Papa. Setelah bertanya dia lahir dari mana pada Daddy-nya, Mark lalu mengubah panggilannya pada Plan dengan Ibu. Bagaimanapun, meskipun Plan laki-laki tapi dari perutnya-lah dia dilahirkan dan berada disana selama berbulan-bulan.

"Ibu__ Mark tidak mungkin memanggil Papa, bagaimanapun Ibu yang mengandung dan melahirkanku." Jawabnya memberi pengertian.

"Terserah saja, keras kepala." Plan mendumel dengan keras, meskipun Mark mendengar juga dia tak pernah marah pada Ibunya.

"Keras kepala itu juga dari dirimu, sayang." Mean menggeret kursi dan duduk diatasnya, mengamati dua orang yang sudah ada disana sejak beberapa saat yang lalu.

"Aku tahu itu, jangan mulai lagi, Mean!" Plan membuat peringatan.

Saat pertama kali Mark mengatakan ingin memanggilnya Ibu, Plan sempat tak mengajak bicara pada anaknya. Tapi lama-lama dia mulai terbiasa dan mengerti bahwa sifat keras kepalanya menurun dari-nya. Sementara itu ketampanannya tentu saja mengikuti Daddy-nya, sejak bayi saja sudah terlihat.

Plan marah pada Mean karena tak membelanya dari sang anak yang bersikeras memanggilnya Ibu, Mean mengatakan jika itu keinginan murni Mark. Anaknya ingin memanggil Ibu seperti teman-temannya yang menceritakan tentang Ibu mereka di sekolah. Dengan hati setengah dongkol Plan mengatakan tak akan marah lagi pada Mark, toh memang benar Mark lahir dari rahimnya.

Jika kalian bertanya sebesar apa rasa sayang dan cinta Mark pada sang Ibu, tentu saja sangat besar. Setelah Ayahnya bercerita tentang kejadian yang menimpa Ibunya sebelum dirinya dilahirkan, Mark tak sanggup membayangkan seperti apa sakitnya sang Ibu kala itu. Meskipun tertidur selama berhari-hari dan akhirnya terbangun setelah Mark keluar, Mark tahu Ibunya bertahan hanya untuk dirinya. Mark tahu Ibunya kembali untuk dirinya dan sang Ayah. Ayahnya menceritakan jika saat itu Mark harus dikeluarkan karena Ibunya sudah tidak sadarkan diri lebih dari 8 jam dan dokternya kesulitan menentukan waktu operasi karena keadaan Ibunya yang tak stabil. Detak jantung yang lemah dan nadi yang lemah membuat Dokter tidak berani melakukan tindakan kala itu, jika memaksakan maka bisa saja Ibunya tidak akan selamat dan Mark tak bisa membayangkan hidupnya yang hanya bersama Daddy-nya yang sibuk bekerja.

Mereka makan dengan khidmat, sesekali Mark menceritakan kejadian lucu di sekolah. Tidak pernah bercerita tentang mendapatkan coklat dan makanan manis dari kakak kelas dan teman sekolahnya. Meskipun begitu, Mean dan Plan tahu tentang semua hal yang terjadi pada anaknya, tentu saja karena ada yang mengawasinya meskipun Mark tidak tahu.

ALPHA (2WISH)  DICETAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang