Plan menghabiskan hari terakhirnya dengan belajar di kampus, sepulangnya dari kampus akan bekerja paruh waktu untuk hari terakhirnya. Plan sudah berkata pada P’Type jika dia ingin mengambil liburnya, dan pria muda pemilik restoran itu mengijinkan. Plan selama ini tak pernah libur meskipun dia menyuruhnya, tapi kini Plan lah yang meminta ijin padanya.
P’Type memberi ijin tanpa menuntut apapun pada Plan, Plan selama ini sangat rajin bekerja. Tidak ada alasan untuknya menahan seorang bocah remaja yang ingin menghabiskan waktu libur panjangnya untuk berlibur di tempat yang diinginkannya.
Bukan tanpa alasan Plan menuruti kemauan Earth, setelah Plan pikir-pikir sejak pertama kali masuk kuliah, saat libur panjang tiba, Plan tak pernah liburan kemanapun, hanya bekerja sehari penuh dan itu sukses membuat tubuhnya pegal setengah mati. Di hari ketujuhnya bekerja, Plan merasa tubuhnya remuk dan bangun siang karena kelelahan. Jadilah melewatkan sarapannya yang biasanya disiapkan sendiri.
Earth berlari-lari kecil menuju tempat Plan terduduk disalah satu sisi perpustakaan, duduk tepat didepan Plan. Menyandarkan sikunya pada permukaan meja yang keras, menyunggingkan senyum termanisnya pada sahabat tercintanya.
“Plan….tidakkah kau bosan dengan tulisan yang berjajar didalam kertas berdempet itu?” Earth bertanya dengan mencebikkan bibirnya karena merasa diabaikan oleh orang terdekatnya.
Plan menatap Earth dengan datar, merasa seperti Earth tak tahu saja dirinya seperti apa. Sudah jelas kan Plan itu pintar, tentu saja buku menjadi teman dekatnya selain kau, Earth.
Uhhh Earth memang suka membaca, tapi seberapa keraspun dia membaca buku dan mencoba mencernanya, rasanya otaknya akan meledak jika harus membaca buku yang saat ini sedang dibaca oleh Plan.
“Kau mengabaikan sahabatmu?” tanyanya lagi, mencoba mengalihkan perhatian Plan yang sudah terfokus pada bukunya lagi.
Reaksinya benar-benar tak sesuai dengan ekspektasi Earth sejak memasuki perpustakaan ini, sudah tau akan diabaikan tapi Earth masih saja berharap bahwa realita sesuai dengan ekspektasinya.
“Bukan begitu, bisakah biarkan aku menyelesaikan bacaanku dulu, Earth?” tanyanya dengan sangat tenang, seolah ketika sahabatnya marah bukanlah hal yang aneh yang harus dikhawatirkannya.
Earth hanya menggumam lalu tangannya terulur untuk membuka benda persegi panjang yang selalu dibawanya kemana-mana. Bahkan saat berenang pun, Earth mengantonginya dalam dompet anti air.
Meskipun Plan mengusirnya secara halus, Earth justru memilih tetap duduk dan memfokuskan dirinya pada benda bernama ponsel itu dengan jarinya yang terus menggulir layarnya keatas. Plan masih saja membaca bukunya ketika Earth mulai gaduh dengan menggerakkan tangannya diatas meja baca didalam perpustakaan tersebut.
“Aku bosan, sungguh!” rutuknya dalam hati.
Setelah beberapa lama, akhirnya Plan menutup bukunya. Meletakkannya di pinggir meja di sebelah kanan tangannya. Menepuknya beberapa kali dan menghembuskan nafas lega.
Netranya menatap Earth dengan maklum, Earth pasti bosan menunggui hobinya itu, tapi mau bagaimana lagi, besok keduanya harus sudah berangkat dan Plan sengaja menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan buku yang sejak kemarin belum selesei dibaca.
“Aku sudah selesei,” ucapnya menyadari keterdiaman sahabatnya yang masih bergelung dengan ponsel, “Apa yang ingin kau bicarakan, Earth?” tanyanya dengan penuh penekanan, menarik simpati si mungil Earth.
“Uhh…. kau lama sekali membaca bukunya, sudah setengah jam dan kau baru selesai dengan tulisan berderet itu. Aku bosan tau,” cerocosnya lalu mendengus kasar, memalingkan wajahnya, matanya dijauhkan dari tatapan dalam yang di tujukan Plan padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHA (2WISH) DICETAK
FanfictionMean Phiravich, menyembunyikan jati dirinya dan hidup sebagai jajaran pengusaha muda sukses di Thailand. Siapa sangka? Ternyata dia adalah seorang Alpha dari bangsa Werewolf, pack Blue Moon. Ada satu hal yang menjadi rahasia besarnya,, dan punya mis...
