Pagi-pagi sekali, Earth dan Plan sudah berangkat dari kost mereka masing-masing, bertemu di halte dekat kost an Earth. Earth sebenarnya memaksa untuk menjemput Plan tapi Plan melarangnya dengan alasan membuang tenaga dan uang untuk bolak balik ke rumah Plan.
Plan hanya tidak ingin orang terdekatnya itu kelelahan sebelum mereka memulai liburan mereka di pinggiran kota Bangkok. Earth mengatakan hutannya ada dipinggiran kota Bangkok, padahal sebenarnya sudah melewati batas Bangkok dengan kota lain. Hanya saja karena itu daerah hutan jadi mereka tidak bisa mengira atau bahkan mengetahui dimana batasnya yang sebenarnya.
Menaiki bus dengan membawa beberapa tas bukanlah hal yang mudah bagi Earth dan Plan yang notabenenya memiliki tubuh kecil, bahkan untuk naik saja mereka kesusahan. Dari halte ke stasiun saja jaraknya lumayan menguras tenaga. Tapi karena Plan menghargai usaha Earth untuk membujuknya ikut berlibur, Plan tak mengeluhkan apapun. Faktanya kakinya sudah cukup pegal, tapi karena stasiun sudah dekat dia merasa cukup lega juga.
“Ah….akhirnya stasiun sudah terlihat.” Earth membuka suaranya dengan suara yang masih putus-putus karena terengah-engah.
Mereka menuruni bus, dan berjalan dengan susah payah dengan tubuh kecil mereka. Orang-orang sedikit merasa iba melihat anak-anak kecil membawa beberapa tas dan terlihat cukup berat, meskipun mereka bahkan merasa iba tapi hanya memandanginya tanpa bermaksud membantu keduanya.
Memasuki stasiun dengan perasaan senang luar biasa, Earth terduduk di kursi tunggu kereta didalam stasiun. Meskipun kelelahan, tapi Earth sepertinya sangat antusias, berulang kali membuka ponselnya untuk mengecek jaraknya dengan tempat tujuan. Lalu mendesah pelan dan mengedarkan pandangannya pada sekitarnya.
“Plan….” Panggilnya.
Yang dipanggil tentu saja menoleh, dan mendapati Earth sedang menatapnya dengan senyum yang sangat lebar, khas seorang Earth, puppy eyesnya terlihat.
“Perjalanan kita tinggal dua jam lagi, jadi sabarlah sedikit lagi.” Earth mengingatkan, menunjuk jam tangannya.
Plan mengangguk singkat, tersenyum karena Earth yang sepertinya kelelahan tapi tak merengek padanya.
Plan sejak tadi merasa risih, merasa seperti ada yang sedang mengawasinya. Sejak pulang beberapa waktu yang lalu dan bertemu tatap dengan pemuda tampan dengan mata yang berwarna merah yang Plan anggap sebagai lensa mata, Plan merasa selalu diawasi, bahkan diikuti kemanapun. Saat menutup jendela kamarnya pun, Plan merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, tapi Plan tak bisa menebaknya.
Lingkup pertemanan Plan sangatlah sempit, dia bahkan tidak banyak mengenal mahasiswa dari fakultas lain. Meskipun tanpa dirinya ketahui, Plan justru dikenal oleh mahasiswa dari fakultas lain karena otaknya yang cerdas dan juga karena usianya yang lebih muda dari kebanyakan maba. Di semester pertamanya mendapat medali mahasiswa teladan dari semua fakultas, wajahnya yang manis dan juga senyum simpulnya selalu berhasil menarik perhatian banyak mahasiswa, baik laki-laki ataupun perempuan. Plan ramah tentu saja, dia hanya terlalu tertutup untuk sekedar menceritakan perihal hidupnya pada orang lain. Earth adalah satu-satunya yang mengetahui siapa Plan dan seperti apa hidupnya, Earth bahkan mengetahui kebiasaan aneh yang dimiliki sahabatnya itu. Earth satu-satunya yang mengetahui perihal Plan adalah anak yatim piatu, selain pihak kampus tentu saja.
Plan memang bukan mahasiswa kaya seperti teman-temannya, dia dan Earth adalah siswa beruntung yang bisa masuk universitas ternama tanpa harus mengeluarkan biaya untuk menuntut ilmu. Teman-temannya membawa kendaraan, motor, mobil bagus dan bahkan ada yang dijemput pulang pergi, sedangkan dia dan Earth, setiap harinya hanya merasakan naik bus dari halte didepan sekolah. Plan harus bekerja sepulangnya, berganti pakaian di café dan melayani pembeli dengan ramah, Plan rajin dan juga cekatan, dia bahkan mampu menghandle karyawan lain ditempat kerjanya, hingga menjadi orang kepercayaan boss nya tanpa boss nya ragukan sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHA (2WISH) DICETAK
Fan-FictionMean Phiravich, menyembunyikan jati dirinya dan hidup sebagai jajaran pengusaha muda sukses di Thailand. Siapa sangka? Ternyata dia adalah seorang Alpha dari bangsa Werewolf, pack Blue Moon. Ada satu hal yang menjadi rahasia besarnya,, dan punya mis...
