Chapter 24 : Bosan dan Jahil ~

2.6K 279 13
                                        

Sudah berapa lama Plan tak pulang ke Bangkok? Dia menjadi betah tinggal di salah satu pack terbaik Werewolf di dalam hutan yang tersembunyi. Dia ingin pulang, tapi tak enak meminta pada Perth dan Mean. Mean juga jarang ke kantor, yang sering mondar mandir justru pria satunya yang bermarga Tanapon.

Mean banyak menghabiskan waktunya di pack dengan semua anggota packnya. Plan beberapa kali turut serta, meskipun yang sering dia lakukan justru mengerjai banyak orang disana. Tidak cerewet memang, tetapi semenjak semua Warrior dan pelayan tahu siapa itu Plan -Kekasih Alpha-, mereka bersikap biasa, beberapa merasa sangat senang ketika anak itu sudah kembali seperti semula. Bukan menjadi Plan yang pemurung dan suka menyendiri di perpustakaan lagi.

Plan baru saja membaca separuh buku cerita cinta legenda dari bangsa Werewolf dan sesuatu yang dianggap sangat sakral dan ajaib yang pernah bangsa mereka alami. Dia mulai bosan karena sendirian di ruang tengah, ditinggalkan oleh sang Alpha yang harus membahas banyak hal dengan para pimpinan Warrior, tentang strategi dan semacamnya yang lumayan menguras pikiran.

Dia naik ke atas dan meletakkan bukunya di kamar Mean, lalu mengaca dan turun lagi ke bawah untuk bermain-main. Tiba-tiba saja dia ingin memasak, jadi dengan riang melangkahkan kakinya ke dapur. Mendapati satu persatu pelayan (perempuan dan laki-laki) menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

Berusaha mengabaikan tatapan mereka, Plan mengambil pisau dari tempatnya dan mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan.

"Apa yang tuan muda lakukan disini?" Salah seorang diantara mereka mengajukan pertanyaan.

Plan menatap si penanya tapi tangannya dengan cekatan melanjutkan kegiatannya.

"Buat sandwich, kenapa?" Plan bertanya balik.

"Alpha melarang anda masuk dapur, jika ingin sesuatu katakan saja. Kami akan membuatkannya untuk anda." Pelayan itu menjawab dengan perlahan, takut dikatakan tak sopan bicara keras pada mate seorang Alpha.

Setelah mendengar pelayan itu bicara, Plan diam. Lebih memilih melanjutkan apa yang ingin dia buat tadi.

Pelayan yang ada di dapur itu tak tahu lagi bagaimana meminta pada manusia manis itu untuk berhenti dari kegiatan memasaknya supaya mereka tak kena marah.

"Aku hanya buat sandwich, ini tak susah jadi jangan melarang-larangku, ya?" Plan menunjukkan senyum manisnya, dan para pelayan tak bisa untuk tak ikut tersenyum.

"Plan!" Suara seseorang mengintrupsi semua orang di dapur itu, "Siapa yang mengijinkanmu masuk dapur?" Pria itu bertanya, masih mengamati manusia imut yang dengan santainya tetap menata makanannya yang hampir selesai tanpa ada ketakutan sedikitpun.

"Kenapa kalian biarkan dia masuk? Sudah ku bilang, Plan tak boleh menyentuh sesuatu yang tajam dan berbahaya." Suaranya meninggi, "Apa kalian tuli lalu mengabaikan perintahku?" Suara Mean meninggi dan menggema di tembok dapur itu.

Plan akhirnya selesai dengan cemilan yang dia buat, kebetulan tadi memang niatnya buat enam potong, dua potong dia makan sekarang dan sisanya untuk nanti atau jika P'Meannya mau maka dia akan membaginya.

"Phi!" Yang lebih mungil memanggil, "Jangan marah-marah, mereka tak salah. Aku yang ingin buat sendiri." Dia menjelaskan dengan tenang, menetralkan kemarahan sang Alpha, "Lagi pula ini hanya sandwich jadi jangan marah-marah! Aku tak suka!" Dia mencebikkan bibirnya.

Mean diam mengamati Plan yang sedang memindahkan Sandwichnya ke atas piring. Dia memperhatikan seseorang yang di kaguminya sangat telaten dan hati-hati.

"Kalian mengabaikan perintahku!" Mean menunjuk pada para pelayannya.

Membuang nafas kesal setengah mati setelahnya.

ALPHA (2WISH)  DICETAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang