Plan baru sadar dari tidurnya, dia merasa ingin membuka mata, punggungnya terlalu panas terlalu karena banyak tidur. Dia merasa butuh melakukan hal lain selain tidur, terakhir kali dia tertidur kala sedang melihat suaminya melatih para warrior. Saat membuka mata, Plan melihat langit-langit kamarnya dengan sang Alpha sudah di depan mata. 'Ah, di kamar.' Ucapnya dalam hati.
Selalu seperti ini, sejak perutnya membesar, Plan mudah sekali kelelahan. Dia bahkan tertidur saat melihat sesuatu, matanya sangat berat. Saat terbangun sudah berada di kamar, tentu saja suaminya yang membawanya. Tidak mungkin orang lain, karena Alpha Phiravich tidak mengijinkannya.
"Bagaimana keadaanmu, Plan?" Suara itu, rasanya Plan sangat merindukannya.
Suara Earth yang mengkhawatirkannya, tapi mana mungkin Earth ada di pack ini? Bukankah dia tidak tahu jika Plan ada disini? Lagi, Earth tidak mungkin tahu jalan kesini. Terlebih, pack terletak jauh di dalam hutan.
"Apakah ada yang tidak nyaman, Plan?" Suara Earth lagi, apa mungkin karena terlalu rindu Plan jadi mendengar suara orang lain menjadi suara Earth?
Jangan-jangan dia masih tertidur? Masih di alam mimpi?
Plan mencoba menarik kesadarannya secara penuh, ingin memastikan sesuatu. Dia terduduk diatas kasurnya, mengedarkan pandangan dan mendapati Earth sedang duduk manis di kursi riasnya.
"Earth?" Setetes airmata jatuh membasahi pipinya.
Earth menatap Plan dengan binar bahagia, tidak tampak kemarahan disana.
"Earth? Bagaimana bisa ada disini?" Plan bertanya karena sejak dirinya sadar secara penuh, Earth belum mengatakan apapun lagi.
Plan mendorong selimutnya kebawah, menurunkan kakinya. Dan saat dia hendak menyentuh tanah, Earth berlari dan memeluknya. Tak membiarkan Plan turun dari ranjang.
"Jangan memaksa turun, tenanglah, Plan." Ucap Earth sangat tenang.
"Hikss hiks.... Bagaimana bisa kau disini? Siapa yang membawamu?" Plan bertanya saat Earth masih memeluknya.
Earth melepaskan pelukannya, menghapus airmata yang turun membasahi pipi Plan. Seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
"Berhenti, jangan menangis." Kata Earth, "Aku akan menjawabnya tapi tenangkan dulu dirimu." Ucapnya menenangkan.
Sejak P'Title menjelaskan jika Luna tengah mengandung, Earth awalnya tak mempercayainya. Tapi P'Mean menjelaskannya padanya, dan salah satu alasan Plan memilih keluar dari kampus karena dia tengah mengandung.
Earth diajak masuk ke kamar sang Alpha untuk melihat keadaan Plan, Plan tertidur dengan tenang. Mean menceritakan jika Plan tertidur saat melihatnya melatih pasukan, ditambah Plan mudah sekali lelah jadi nyaris tidak pernah keluar kamar.
Mean menceritakan bagian dimana tidak mudah manusia mengandung putra dari Werewolf. Dia juga menjelaskan keadaan Plan selama mengandung, termasuk ketika harus setiap hari memakan daging. Bukan untuk Plan, tapi untuk anak yang ada di perutnya. Sesekali Mean menghela nafas berat seolah tak sanggup menceritakannya, tapi dia tak mungkin membiarkan sahabat sang Luna tak tahu apapun mengenai keadaan Lunanya. Terlalu banyak yang disembunyikan dari Earth, Plan benar-benar tak mengatakan apapun pada sahabatnya.
"P'Title yang membawaku dari kampus, katanya untuk bertemu denganmu jadi aku menurut," Earth mulai menjelaskan, "Senang melihatmu baik-baik saja Plan, dan sebentar lagi aku memiliki keponakan. Uhh pasti akan menyenangkan..." Earth merasa gemas meski anak Plan belum lahir ke dunia.
Seulas senyum terbentuk di bibir Plan, kini dia tengah tersenyum seperti saat mereka bersama di kampus.
"Sudah bertemu P'Mean?" Plan bertanya karena tak menemukan Alpha disekitarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHA (2WISH) DICETAK
FanfictionMean Phiravich, menyembunyikan jati dirinya dan hidup sebagai jajaran pengusaha muda sukses di Thailand. Siapa sangka? Ternyata dia adalah seorang Alpha dari bangsa Werewolf, pack Blue Moon. Ada satu hal yang menjadi rahasia besarnya,, dan punya mis...
