Aku minta maaf karena baru baru bisa update.......Hari ini bakal double up jadi kalian harus jawab pertanyaanku nanti di akhir.
Mean baru saja membuka matanya, meraba kanan kirinya tak ada siapapun.
"Plan.....Plan......." Dia berteriak seperti orang kesetanan, tampak tak sabaran.
Mean hendak keluar dari selimutnya, dia baru sadar bahwa tak memakai sehelai benangpun dalam tubuhnya. Tapi kamarnya tampak rapi di semua bagian, jadi dia pikir yang semalam itu hanya mimpi. Melihat ke atas nakasnya, terdapat handuk di atasnya, dia mengambilnya dan mengenakannya dibagian pinggang.
Bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa sangat lengket dan dia merasa tak kuasa menahannya. Seperti tubuhnya baru saja selesai latih tanding dan tak mandi, lalu tidur dengan serampangan.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan celana kain hitam panjang. Dirinya berniat mengaca, untuk melihat apakah ada yang salah dengan tubuhnya atau tidak, tampaknya tak ada yang salah. Mean bahkan berputar-putar di depan cermin dan menyadari ada yang aneh dengan tato tanda kepemimpinannya yang terletak di bahunya. Warnanya sudah berubah, dari yang awalnya hitam semua sekarang berubah merah di sebagian tatonya. 'Ini aneh!' batinnya penuh selidik.
Dipikirnya kemarin masih hitam, Mean yakin tentang itu. Dia bahkan sudah mengaca untuk terakhir kalinya sebelum tidur, dan masih tetap saja. Tapi bagaimana bisa hanya dalam waktu semalam, warna tatonya mulai berubah. Mean bahkan merasa baik-baik saja meskipun semalam adalah bulan purnama.
"Plan, kau dimana?" Dia bertanya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Bergegas mengenakan kemeja biru putih kotak-kotak yang ia ambil secara acak dari lemari karena sudah tak sabar untuk bertemu dengan Luna tercintanya.
Membuka pintu dengan kasar, hingga kakinya sendiri tersandung pinggiran kusen yang pasti membuat kakinya sakit. Matanya langsung menuju ke segala arah ketika sudah keluar dari kamarnya, melupakan rasa sakitnya karena kecerobohannya sendiri. Menelisik semua bagian mansion besarnya, semua masih sama dan masih utuh, termasuk para Warrior dan SheWolf yang bekerja di rumahnya. Mean tadi bertanya lewat mindlink dan semua yang ada di rumahnya bisa mendengarnya. Hanya satu yang tak bisa Mean lihat dan kabari, itu Plan, matenya sendiri.
"Plan! Dimana kamu?" Mean mulai frustasi, banyak menyesali tentang dirinya yang tak bisa mencium keberadaan matenya sendiri saat ini, padahal satu-satunya petunjuk hanya dari baunya mengingat dirinya bahkan tak bisa membaca pikiran Plan.
Mean bisa gila jika terus-terusan begini, Plan tidak bisa dia cium baunya. Harus apalagi dirinya?
Mean menuruni tangga, berharap bisa mendapat jawaban dari orang-orang kepercayaannya sekaligus seatap dengannya.
Prem datang menghampirinya, jaraknya tiba-tiba sudah dekat, karena Mean melamun jadi tak sadar jika Prem sudah dekat dengannya dari posisinya berdiri saat ini, tepat di depan anak tangga terakhir.
"Selamat pagi Alpha!" Prem menyapa Alphanya yang turun dalam keadaan rapi, "Apa anda mencari sesuatu, Alpha?" Prem bertanya dengan tenang, tak nampak seperti kehilangan sesuatu atau hal yang membuatnya takut untuk menghadap sang Alpha.
"Dimana Plan, Prem?!" Mean bertanya dengan tidak sabaran.
"Bersama Alpha Theo di halaman belakang." Jawabnya segera setelah sang Alpha selesei bertanya, "Dengan Beta Perth juga." Prem melanjutkan informasinya.
"Hah?!" Mean melotot, "P'Theo berkunjung?" Mean seperti orang bingung.
Prem mengangguk yakin.
"Kapan dia sampai?" Tanyanya kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALPHA (2WISH) DICETAK
FanfictionMean Phiravich, menyembunyikan jati dirinya dan hidup sebagai jajaran pengusaha muda sukses di Thailand. Siapa sangka? Ternyata dia adalah seorang Alpha dari bangsa Werewolf, pack Blue Moon. Ada satu hal yang menjadi rahasia besarnya,, dan punya mis...
