Chapter 23 : Malu~

2.7K 293 25
                                        

Mean menjadi diam setelah Perth mengatakannya, banyak ketakutan yang muncul di otaknya. Dia juga tak berani bertanya pada adiknya dimana Plan berada saat ini.

"Hoi...Phi!" Perth mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Mean.

Mean tersentak.

"Jangan melamun!" katanya, "Dia masih disini, sedang membersihkan dirinya."

Diam lagi, kali ini Mean lebih terkejut. Mendengar Perth mengatakan bahwa Plan masih disekitar packnya sungguh membuatnya senang, rasanya di hatinya banyak kupu-kupu beterbangan.

Pintu kamarnya terbuka, seorang Warrior yang diketahui bernama Prem muncul dari luar. Membawa serta seseorang yang amat dikenalnya di punggungnya, yahh Plan digendong oleh Prem. Tentu saja Mean terkejut! Sudah berapa kali Mean terkejut? Astaga.

Plan turun dari gendongan Prem dan duduk di bibir ranjang, Perth berdiri dan membiarkan bocah manusia itu yang menghampiri Mean.

"Kenapa kau minta gendong Prem?" Mean bertanya dengan penuh selidik.

Plan diam sesaat. Memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Mean yang terkesan memandangnya dengan pandangan menuduh.

"Anu...itu Phi, aku....akuuu......" Plan menjawab dengan tergagap. Kepalanya tertunduk.

Niatnya ingin mengatakan yang sebenarnya tapi tiba-tiba dia dihinggapi rasa malu dan takut.

"Tidak bisa jawab?" Mean mendeliki Plan yang masih tertunduk takut.

"Phi!" Perth berdecak, "Berhenti marah padanya, Plan tidak salah!" Katanya.

Prem pamit undur diri dari kamar besar milik Alphanya.

"Mau kemana kau Prem? Mau kabur dariku?" Nadanya sangat sinis, suaranya menggema di kamarnya.

"Sudah, kau boleh kembali ke tempatmu, terimakasih sudah menggendong nong-ku sampai sini." Perth berkata dengan tenang, menatap Mean yang sudah mendelik tajam padanya.

Setelah Prem keluar dari kamar Mean dan pintu kamarnya tertutup sepenuhnya. Perth berdiri tepat di samping kiri Plan. Tangannya membuka 2 kancing teratas kemeja yang dipakai Plan dan memperlihatkan bekas-bekas cumbuan berwarna merah yang berderet di sepanjang leher sampai bagian atas perut (bawah dada) yang masih belum hilang.

Perth meminta Plan untuk menegakkan kepalanya agar seluruh bagian atas tubuhnya terlihat.

"Ini...ini...ini...ini..." Perth menunjuk beberapa bagian yang masih jelas bekasnya, "Kau mencumbunya sampai seperti ini dalam keadaan tubuhmu yang tidak bisa di kendalikan! Ini, di lehernya masih ada bekas tanganmu yang mencekiknya tepat saat purnama," Perth jadi menjelaskan seperti seorang Ayah pada anaknya, "Masih tanya kenapa dia minta gendong Prem?" Perth kesal setengah mati pada kakaknya yang sekarang seperti orang bingung dan amnesia.

Mean diam, dia mendengarkan penjelasan Perth dengan seksama.

"Bagian bawah sampai kakinya sakit, dia bahkan tertatih-tatih pagi tadi saat keluar dari kamarmu! Masih belum jelas?" Perth mendelik, memberi tatapan kesal sekaligus marah pada kakaknya.

"Sudah, sudah jelas!" Mean langsung menjawab sebelum Perth mengamuk di kamarnya.

"Betapa malangnya aku memiliki kakak yang bodoh sekali tentang hal seperti ini. Aku jadi tak yakin kalau dia itu Alpha Mean Phiravich yang selama ini ku kenal." Perth pura-pura mengasihani dirinya sendiri.

Dan di hujani delikan tajam dari Mean Phiravich yang kesal dengan kelakuan adiknya yang menjijikkan menurutnya.

"Ya sudah, jangan bodoh lagi phi!" Kata Perth sembari memberi tanda V pada Mean, "Bicara dengan Plan baik-baik, jangan marah padanya. Lihat? Dia tak berani berkata apapun. Kau harus menyayanginya, dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu." Perth berucap dengan bijak.

ALPHA (2WISH)  DICETAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang