Keluar dari toilet, wajah Loui langsung berubah pucat pasi. Dia memuntahkan segala isi di dalam perutnya tanpa terkecuali, gadis itu juga menghabiskan bermenit-menit lamanya di area toilet sampai kepalanya mendadak pusing. Loui butuh sesuatu yang bisa melenyapkan segala rasa mual di perutnya. Tapi Seungwoo nyatanya tidak begitu peka terhadap penanganan yang begituan.
Loui berlari-lari kecil menghampiri tempat yang terakhir kali dia gunakan untuk duduk. Tas dan ponselnya masih tergeletak manis di sana tapi tidak dengan lelaki itu. Sosok Seungyoun sudah tak ada lagi di dalam klab, Loui sejenak berhenti bernapas dan terus saja mempertanyakan kepergian dia.
"Seungyoun mana??" bersama air mata yang jatuh perlahan di pipi, Loui menangisi Seungyoun seolah presensi lelaki itu hanyalah sekelebat bayangan yang bisa datang dan pergi sesuka hati.
Seungwoo berdiri di belakang Loui, dia meremas kedua sisi lengan gadis itu dan berbisik. "Ayo pulang sama gue. Tempat kayak gini nggak cocok buat lo."
Loui segera berbalik, dia menatap manik gelap khas Seungwoo dengan tatapan yang memicing sinis. "Seungyoun mana???"
"Kenapa lo nanyain dia? Udahlah, mending lo pulang aja. Gue anterin."
Loui menggeleng keras. "Nggak mau. Gue mau pulang sama dia."
Seungwoo mendesah halus. "Lo masih dipengaruhi alkohol. Sini ikut gue, nanti gue beliin lo obat pereda mabuk."
Ketika tangannya tertarik lembut, Loui justru menepisnya kasar. "Enggak mau. Gue maunya sama Seungyoun. Gue cuma butuh dia."
Kepala Seungwoo terasa pusing bak dihantam pukulan tinju. Rasanya sedikit menyesakkan ketika dia berpikir putusnya hubungan Loui dan Seungyoun yang dia nantikan sejak lama akhirnya betulan kejadian. Tapi semua yang Seungwoo idamkan tak kunjung ia dapatkan ketika tatapan sinis Loui saat ini membuatnya menyadari dia hanya akan tetap menjadi bayangan diantara mereka berdua.
"Kenapa? Kenapa lo cuma butuh dia? Apa lo nggak pernah mau berbalik dan ngeliat gue? Lo nggak pernah mau sadar tentang perasaan gue sama lo selama ini?"
"Maksud kak Seungwoo apa?"
"Gue suka sama lo. Masa lo nggak pernah sadar itu?"
Loui terkejut, tapi tetap memasang tampang kalem seakan pernyataan barusan hanya gurauan Seungwoo semata. "Ngomong apa lo, kak? Nggak ngerti gue."
"Shit," umpat Seungwoo pelan. Lelaki bertubuh tinggi itu mencoba menyembunyikan kekecewaan samar yang mendekap di hati lewat ekspresi dingin sekaligus hangat di wajahnya. "Gue suka sama lo. Bukan sebagai kakak ke adik, bukan juga sebagai senior ke juniornya. Gue.. Gue ngeliat lo sebagai perempuan, Loui. Perempuan yang mau gue jaga."
Loui tergugu di tempatnya berdiri. Badannya yang lemas malah semakin semakin lemas bak selembar kertas yang siap melayang kesana kemari.
Seungwoo maju selangkah, dia hendak meraih pergelangan Loui dan menariknya. Tapi gadis itu melanting jauh. Dia menggelengkan kepalanya. "Maaf kak, gue nggak bisa. Hati, pikiran, dan semua perasaan gue udah ada yang punya. Dan gue nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Dia ngasih gue kesempatan memperbaiki semuanya, semua yang berantakan. He gives me an excuse to fix what's broken, and i need to reach him out."
"No, you shouldn't." Seungwoo sedikit berusaha menahan. Tapi Loui tak lelah bergeming. Di tengah hiruk pikuk suasana klab malam yang berisik, juga disaat Loui kehilangan sepersekian tenaganya. Loui masih kuat melarikan diri dan mencari Seungyoun dimana pun lelaki itu saat ini berada.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMOUR
FanfictieAsumsi berkeliaran tentang Dia. Tapi Loui tak pernah berusaha mencari tau. Karena tak selamanya asumsi menggariskan secara utuh bagaimana dia yang sebenarnya. Dingin tak selalu membekukan, hangat pun tak selalu meneduhkan. Loui hanya ingin tahu sec...
