.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang tak ingin Loui ingat-ingat lagi selepas mengumpul selembar kertas ujian tengah semester di mata kuliah fisika dasar yang ia selesaikan lima menit lalu, yakni, jawaban apa yang tertulis di lembaran kertas berserta nilai apa yang akan dia dapatkan dari coretan asal-asalannya tadi. "Bodo amat, gue lupa rumus vektor dan temen-temennya, mau dapet nilai berapa pun gak masalah yang penting ngumpul."
Sekembalinya Loui dari meja dosen, senyuman manis cenderung palsu tersungging di bibir Melinda, kebetulan tadi gadis itu mengambil kursi di sebelah Loui selama ujian berlangsung.
Isi kepala Loui mempertanyakan apa gerangan maksud perempuan ini melempari senyuman begitu tertuju untuknya, sekiranya dia mau mengejek Loui sebab ujian tadi Ia isi asal-asalan, ya, silakan saja dia tersenyum sampai bibirnya kering. Loui tak akan mau repot menggubris, biarkan saja.
Loui tetap akan stay dalam ruangan itu mengingat ujian tengah semester lainnya baru dimulai satu jam lagi. Menjelang jam makan siang, Loui tergoda hendak membeli makanan favoritnya di kantin. Tergesa, Loui mengambil dompet dalam tas selempangnya lalu menarik satu lembar uang dan bergegas keluar ruangan menuju kantin. Diluar dugaan, Melinda ternyata memanggilnya. Suara khas perempuan itu membuat Loui sejenak memejamkan mata, ia menahan sedemikian rupa rasa sebal di hati yang pada akhirnya membuat Loui dengan amat terpaksa berbalik, meskipun enggan. "Kenapa?"
"Lo mau kemana?"
"Kantin, why?" sahutnya datar.
"Gue ada makanan kalo lo mau,"
Diam-diam Loui berdehem ria, jadi, niat Melinda senyam-senyum sedari tadi itu ternyata mencoba mengajak berbaikan lagi selepas Loui sempat dibuat menahan hati sebab ketidakperdulian Melinda atas insiden yang Loui alami dua hari lalu.
Segala kenangan baik mengenai sosok Melinda terputar di kepala, persis seperti kaset kusut yang terus memutar ulang film yang sama. Tak ingin membenci seseorang berlarut-larut, Loui putuskan menghilangkan gengsi lantas bertanya, "Bawa apa?"
Melinda bereaksi, dia mengeluarkan sekotak tupperware yang di dalamnya terdapat beragam makanan olahan rumah. "Nyokap gue dateng ngunjungin gue, dia masak ayam kalasan sama cemilan ringan, terus ada ini juga nih.." Melinda mengabsen satu persatu makanan dalam kotak, dia tersenyum tulus menghadap Loui. "Sini!! Makan bareng aja, gak usah ke kantin. Lo bisa menghemat uang nanti."
Loui mengangguk, gadis ini hanya tak pernah mau bermusuhan lama-lama dan membenci orang terdekat tanpa sebab. "Kok lo gak cerita nyokap lo datang ke Jakarta, sih?!" tanya Loui ketika dia tiba di kursinya seraya menyeberangkan tangan masuk ke dalam kotak bekal, mengambil toping-toping kelapa parut di atas ayam kalasan buatan ibu Melinda.
"Baru semalem, sih. Nyokap gue begitu nyampe kos udah langsung mau masakin gue makanan. Mayan, kan, sejak tiga bulan gue ngekos udah gak pernah makan masakan nyokap."
Tersenyum, Loui menanggapi lantunan suara Melinda seperti halnya Loui yang selalu siap sedia mendengarkan seribu satu cerita sang sahabat. Bahkan jika itu tidak penting sekalipun seperti cerita tentang anak kucing peliharaan Melinda yang mati dua bulan lalu, misalnya.
Loui ialah sosok pendengar yang baik, dia mungkin sungkan bercerita perihal privasi hidupnya. Namun jika kau meminta dia mendengar keluh kesahmu, Loui selalu mau dan tak keberatan.
Semula terjadi jeda yang begitu hening dibalut suasana kaku diantara diamnya Loui dan Melinda. Satu detik setelahnya, Melinda mencoba memberanikan diri bersuara. "Loui.."
Yang di panggil tengah mengemut sendok plastik di mulut lantas berdeham, "Hmm??
"Lo baik-baik aja kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMOUR
FanfictionAsumsi berkeliaran tentang Dia. Tapi Loui tak pernah berusaha mencari tau. Karena tak selamanya asumsi menggariskan secara utuh bagaimana dia yang sebenarnya. Dingin tak selalu membekukan, hangat pun tak selalu meneduhkan. Loui hanya ingin tahu sec...
