London, Inggris

391 45 0
                                        

Keadaan semakin mendesak Setyo yang didesak oleh penanggih, Lestari didesak oleh Setyo dan Aira membuat dirinya sendiri merasa terdesak. Pasalnya Aira tidak tau harus mengambil keputusan apa. Mempertahankan dirinya sang mama diteror, tapi disisi lain dirinya tidak ingin menikah dengan om om tua bangka.

Aira sudah duduk didepan meja belajarnya, dihadapannya tersedia secarik kertas, pulpen dan silet. Tangan kanannya mengambil pulpen dengan gemetar. "come on Aira tulis apapun itu." Aira menyemangati dirinya agar tidak melakukan hal yang melenceng.

"sedikit lagi," gumamnya.

Tangan kiri Aira semakin bergetar hebat keringat bercucuran dari dahinya. "tolong," lirih Aira.

"Aira." Tangan kanan Aira dengan cepat mengantikan posisi pulpen menjadi silet.

"Lo kenapa ? kasih gue siletnya, Ai," bujuk Ayman.

"Ay, kasih gue." Ayman semakin mendekat.

"tolong," lirihnya seraya menatap Ayman sendu.

"Kasih gue, Aira." Sayang sekali, Gerakan Aira lebih cepat dibanding Ayman. Tangan kirinya tersayat sangat dalam mengakibatkan Aira tak sadarkan diri.

Ayman datang kembali dengan membawa P3K ditangannya. "untung gue kuliah kedokteran jadi ngerti kaya ginian," gumamnya pada dirinya sendiri.

Gerakan tangan Ayman sangat hati – hati dan telaten. Membersihkan lukanya lalu membalut luka itu agar tidak terjadi pendarahan. "Ai, jangan lakuin ini lagi. Sakit gue liatnya." Ayman mengelus tangan kirinya yang berbalut perban.

"gue bakal jagain lo, kok. Jangan takut. Hidup lo berarti." Ayman memberikan kecupan didahi Aira lalu keluar dari kamar itu.

"Gimana lukanya, parah ?" tanya Lestari dengan nada panik.

"udah gapapa, kok, tante." Lestari mengangguk lalu masuk kedalam kamar.

Lestari memandang tangan putrinya bergantian dengan wajah polos milik anaknya.

Tatapan sendu saat melihat luka itu "Maafin mama ya, Ai yang gak bisa tegas sama papa kamu. Gara – gara mama kamu harus jadi korban seperti ini. Andai saja, mama menikah dengan laki – laki baik hidup kamu gak akan kaya gini, na."

Sang nenek duduk disebelah Lestari lalu mengelus punggungnya "ibu ada tabungan sedikit, kamu mau pake untuk bantu Setyo ?" tanyanya dengan lembut.

"gak, bu. Itu uang ibu aku gak mau ngerepotin ibu lebih banyak lagi," ujar Lestari.

"sudah jadi kewajiban seorang ibu membantu anaknya." Lestari menatap bimbang.

"kamu pikirkan dulu saja, ibu siap bantu kamu, Tari." Lestari tersenyum tipis.

Aira sadarkan diri, ia kembali menitikkan air mata. "Ai," panggil Ayman.

"hmm."

"tangan lo masih sakit ?" tanya Ayman.

Aira hanya menggeleng geleng lemah. "mau jalan ?" tanya Ayman.

"gak deh, besok gue ulangan semesteran." Aira menolak halus lalu ia beranjak dari kasur untuk belajar.

Melihat tindakan Aira seperti itu membuat Ayman mengundurkan diri dari kamar. Ia membiarkan Aira tenang dalam kesendiriannya. Menerima kehadiran seseorang itu tidak bisa dipaksakan, semua butuh waktu untuk berpikir lebih jauh lagi, dan membutuhkan ketenangan pikiran serta hati. Kadang, kita harus membiarkan orang sendiri sebagai bentuk pendewasaan.

Aira membolak balikan bukunya, lembar demi lembar ia perhatikan, mengingat kata demi kata membuat kepalanya sedikit pening. Aira tipe anak yang harus belajar, jika tidak ia tidak akan bisa mengisi apapun. Oleh karena itu, ia selalu belajar sangat keras demi hasil yang memuaskan. Tetapi hasil suka mengkhianatinya semua tidak sesuai ekspetasi yang diinginkan.

"Aira makan malam dulu," teriak Lestari dari luar kamar.

Aira keluar kamar dengan mata sembab dan bengkak "nanti sebelum tidur mata lo dikompres ya biar besok pagi gak kaya gitu," saran Ayman.

Aira mengacungkan jempol sebagai respon.

Nenek, Lestari, Ayman dan Aira makan dengan khidmat hanya terdengar detingan sendok yang bergesekan dengan piring. Suasana canggung menyelimuti mereka, tidak ada yang berani memulai obrolan saat mengetahui keadaan Aira yang kurang baik. Takut salah bicara akan memperkeruh suasana.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*hargailah karya seseorang dengan tidak menjiplak ceritanya serta jangan lupa tinggalkan jejak kalian. terimakasih.

Sekolah MiliterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang