Aira sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan. Disana sudah ada nenek, mama juga ayman dan temannya. Aira masih tidak mengerti tetapi ia tidak ingin menanyakan terang – terangan didepan orangnya.
Suasana seperti biasanya Aira yang selalu beradu mulut dengan Ayman hingga nenek merasa pening. Lestari menengahi dengan mengajak Aira pergi ke butik bersamanya.
"mager ah, mah. Udah ada jadwal," sahut Aira.
"Jadwal apa ? paling rebahan doang," timpal Ayman.
"Iri bilang boss," gumam Aira.
"Mama pengen ke butik deh, mau beli dress buat kondangannya temen mama," jelas Lestari. Sejujurnya, ia mengajak Aira agar anaknya keluar rumah. Kalau tidak ada acara penting yang mengharuskan keluar, mana mau Aira keluar rumah kecuali sekolah, itu wajib.
"Kenapa gak sama Ayman aja, mah ?" tanya Aira.
"Emangnya kamu gak mau beli baju juga ?" tawar Lestari.
"Mau si, tapi kan," rengek Aira.
"Udah temenin aja, ai. Kasian mama kamu," ucap Nenek,
"Au lo," timpal Ayman hingga berakhir saling mengejek.
Nasyla hanya menundukkan kepalanya. "Nak Nasyla kalau mau nambah makannya ambil aja jangan malu malu," ucap Lestari yang menyadari ketidaknyamanan Nasyla.
"Iya tante."
Selepas merapikan bekas makannya tadi, Aira bergegas untuk mandi. "Ah, say good bye to drama pelakor, gue gak jadi nonton lagiii. Arghhh, anaknya padahal ganteng bangett," dumelnya.
"Gak usah ngedumel." Aira terlonjak kaget.
"Payah gitu aja kaget." Aira hanya menatap sinis.
Bodoamat.
Aira sudah rapi dengan pakaian casualnya. Kemeja coklat lengan Panjang dipadukan dengan celana jeans hitam, tak lupa sling bag senada dengan kemejanya. Ia juga mengoleskan bedak dan lipbalm tetapi tetap terlihat natural.
Perfect.
"Ayok mah," ajak Aira dengan antusias.
"Semangat banget, tadi ngerengek," ledek Lestari.
"Males ketemu Ayman, yok buruan." Aira menarik tangan mamanya untuk masuk ke dalam taksi online.
Setibanya di butik Aira hanya duduk di bangku dekat dengan jendela. Ia tidak berniat nyari baju atau dress. Dipikirannya untuk apa beli baju bagus toh, pacar gak ada mau dipakai kemana ?
Mata Aira tetap tertuju pada sang mama yang lagi sibuk memilih baju bersama penjaga butiknya. Tak sengaja pandangan Aira bertabrakan dengan seorang pria bertubuh tinggi itu. Sontak bola matanya membulat sempurna.
"Anjir, kok bisa ketemu doi dibutik, apakah pertanda ?" pikiran Aira melayang kemana – mana.
Aira berniat untuk menghampiri tapi pria itu lebih dulu tiba dihadapannya. "Aira, kan ?" tanyanya.
"Iya, kakak inget saya ?" tanya Aira.
"Inget dong, apa kabar ?" tanyanya basa basi.
"Baik, kakak disini ngapain ?"
"Saya, nemein mama nyari baju pengantin kamu sendiri ngapain ?," jawabnya.
"saya juga nyari baju pengantin, jangan – jangan kita jodoh?" timpal Aira.
"Eh ?"
"Hahaha... boong kak, saya lagi nemenin mama saya nyari dress untuk kondangan." Zamas terkekeh.
Lucu anjir, bikin hati gue ambyarr aja, ucap Aira dalam hati.
Mereka saling berbincang sesekali terkekeh bersama, arah mata Aira tak luput dari senyum lebarnya. Jantungg apa kabar ? kenapa berpacu bergitu cepat. Huaa mama tolongg anakmu jadi pingin nikahh sama laki – laki manis inii. Karunggg mana karunggg ?
Antara memilih topik dengan teriak – teriakan dikepalanya membuat Aira terlihat salting. Untuk pertama kalinya setelah lama tidak bertemu.
"Ai, mama udah kelar nih. Kamu gak jadi beli dress ?" tanya Lestari.
"enggak, mah."
"Eh ini siapa ai ?" tanya mama seraya menatap intens. pandangan seorang ibu sekaligus sebuah penilaian supaya anaknya tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. apalagi anaknya seorang perempuan, sekali tergores sudah hilang mahkotanya.
"Ini Kak Zamas, kakak osis yang nolongin aku waktu MPLS." Lestari ngangguk – ngangguk.
"Oh yang kamu suka itu ?" Aira melotot kepada sang mama.
"Eh? Mama." Aira merasa malu, rahasia antara ia dan mamanya dibongkar, tepat didepan muka orangnya. huh! mau ditaruh dimana wajahku iniii, ucap Aira dalam hati.
"Yaudah, kak aku duluan ya." Aira membawa mamanya keluar dari butik, ia juga sempat melirik kalau Zamas tersenyum manis sebagai ucapan sampai jumpa.
"Senyum – senyum terus, baru disenyumin aja sudah ambyarr. Dasar ABG," sindir Lestari.
Mengungkapkan kata – kata saja tak cukup untuk menggambarkan perasaannya hari ini. Bertemu dengan kaka gebetan sejak masuk sekolah lalu berbincang bersama, topik random dan ternyata anaknya supel, tidak kaku seperti yang dibayangkan. Bagaimana bisa dirinya baik – baik saja setelah bertatap mata dengan jarak yang begitu dekat. Huh! Deg degannya sampai sekarang, terbayang senyuman lebar, gigi putih nan rata terpampang jelas. Iris mata coklat yang teduh, ah! Sangat nyaman berada disampingnya.
Zamas, laki – laki sejutapesona tanpa melakukan apapun. Senyum tulus, tatapan seolah – olah seluruhdunia terlihat disana, membayangkan tatapannya sudah membuatnya salting. Ah! Efeknya begitu besar untukku
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*hargailah karya seseorang dengan tidak menjiplak ceritanya serta jangan lupa tinggalkan jejak kalian. terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekolah Militer
Teen FictionSekolah dengan peraturan super ketat, guru super killer dan olahraga yang tak ada hentinya. selain itu, murid disana harus kuat fisik maupun mental. sekolah itu terlihat biasa saja. Namun, begitu mencengkeram jika terjadi sebuah kesalahan. peraturan...
