12. Lucu.

1.2K 55 19
                                        

Kamu lucu deh, jadi pengen nikahin.

****

Devano yang merasa sedang dibicarakan, langsung menghentikan permainan, dan berlari mendekati Naura.

"Halo, kapten," sapa Susan, yang lebih tepat dibilang ejekan. "Gimana mainnya ditungguin pacar?"

Devano malah menyentil pelan dahi Susan. "Sana lo, yang cewe mau game,"

Susan melirik ke tengah lapangan, ternyata benar. Teman-teman nya sedang membagi tim, alhasil dia langsung berlari ke kerumunan teman-temannya.

Devano duduk disamping Naura. Naura langsung menyodorkan botol mineral ke Devano. "Thanks udah mau nemenin."

Naura mengangguk, lalu tersenyum.

Devano mengamati senyum itu. Dan, jauh dalam lubuk hatinya, ia berjanji akan selalu menjaga agar senyum itu tidak luntur.

Permainan basket putri pun dimulai. Kali ini, Susan memegang kendali akan bola basket. Ia men-dribel dengan sangat baik, dan berhenti pada titik 3 point, lalu menembaknya ke ring.

"Nice shoot, three point!" seru pelatih.

Semua bertepuk tangan. Begitupun Naura, ia bertepuk tangan dengan senyum lebar. Bukannya memperhatikan pertandingan, Devano malah memperhatikan raut wajah Naura yang berubah-ubah.

Saat Susan tak berhasil memasukkan bola, ekspresi muka Naura akan berubah menjadi cemberut.

Gemesh banget, sih. Batin Devano. "Kamu lucu deh, jadi pengen nikahin." ucap Devano tiba-tiba.

Naura yang mendengar itu langsung diam. Kaget sekali.

"Bercanda," ucap Devano tiba-tiba. "Tapi nanti tetep bakal aku nikahin, tapi gak sekarang." lanjutnya.

Naura hanya tersenyum kikuk. Padahal, dalam hatinya, dia sudah mengucapkan kata amin. (Now play, Amin paling serius.)

Tak lama, ada bunyi notif dari HP Devano. Naura langsung memberikan Hp itu pada pemiliknya, karena tadi Devano menitipkannya pada Naura.

Ternyata telpon dari Paris--Bunda nya Devano.

"Halo bun," sapa Devano halus.

"....."

"Hah? Beneran?" Raut wajah Devano berubah.

"....."

"Harus banget sekarang? Aku masih mau main, bun,"

"....."

"Iya-iya," jawabnya pasrah. Ia melirik Naura sebentar, lalu tersenyum jahil. "Aku ajak Naura, ya," lalu segera mematikan telpon itu sebelum bunda bertanya siapa itu Naura.

"Kamu kok bawa-bawa nama aku?" protes Naura.

"Yuk, ikut aku." ajaknya tiba-tiba. Devano menarik tangan Naura pelan, lalu melambaikan tangan ke arah teman-temannya. Seakan mengisyaratkan kalau ia akan pulang.

***

Sampai saat ini, Devano belum juga mengatakan kemana mereka akan pergi.

"Kamu boleh kan pulang agak malem?" tanya Devano sambil menyodorkan helm untuk Naura kenakan.

Naura semakin bingung dibuatnya. "Mau kemana, sih?" akhirnya Naura bertanya. Tangannya juga menerima uluran helm dari Devano.

"Ke rumah aku." jawab Devano sambil menyalakan motor. "Ketemu bunda sama ayah aku. Dan, kakak aku juga baru pulang dari Amsterdam."

KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang