Eleven

1 1 0
                                        

Author POV

Selepas keluar dari hotel, Atika mengendarai motornya tanpa berpikir arah nya, dia tidak ingin pulang saat ini, dia ingin menenangkan hati nya sejenak karena dia tau kalau dia pulang saat ini dia pasti akan ditanyai oleh orang rumah tentang Ian dan satu-satunya yang bisa ia lakukan pasti hanyalah menangis, dia tidak ingin membuat orang-orang yang dia sayangi ikut sedih dengan pengalaman buruk nya ini.

Atika masuk ke area parkir pantai, memarkir motor nya lalu berjalan gontai kedalam area pantai, sesampai di tepi pantai ia menjatuhkan diri terduduk dipasir sambil memeluk lutut dan menangis menyembunyikan wajah dilututnya, mengeluarkan segala kesedihan yang ia tahan selama 2bulan ini, 2bulan terbodoh yang pernah ia lalui dengan menunggu dan terus percaya pada orang yang dikiranya tulus menjalani 4tahun ini dengannya.

Isak tangisnya semakin keras terdengar apalagi dikesunyian pantai malam ini, hingga ia berdiri dan berjalan kearah hamparan air laut didepannya dan berteriak berharap bisa melegakan sesak didadanya

"Aaaaaarghhhhhhhh" tangisnya pun semakin terdengar "yang aku lihat sudah cukup menjelaskan semuanya,  dan aku akan menutup telinga dari apapun yang berhubungan denganmu hiks hiks. It's over! "

Ia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan pantai, menuju motor yang ia parkir. Tanpa sadar ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan nya hingga ia menghilang bersama motor yang dikendarainya digelap malam.

• • •

Drrrtttt ddrrtttt
Getaran ponsel disampingnya membuatnya terpaksa membuka mata, Atika meraba ponsel lalu menekan tombol hijau pada layar ponselnya

"Halo?" Suara serak khas bangun tidur bercampur serak kelamaan nangispun masih terdengar jelas

"Halo? Bu Atika dimana? Ini udah jam berapa toko belum buka juga"

Atika menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap id penelpon 'Nindi' lalu melirik jam didinding kamar nya yang sudah menunjukkan pukul 08:25

"Ya ampun nin, sorry gue ketiduran. Ini gue lansung mandi trus ke toko yah"

"Woi, lu ingat ga sih ini hari apa?" Suara Nindi yang tiba-tiba berubah jadi tidak formal dan setengah berbisik membuat Atika mengerutkan kening

"Hari? Hari rabu kalo gak salah. Kenapa?"

"Astagah tika. Hari ini kunjungan pertama Supervisior baru pengganti pak Dayat, kok lo bisa lup.." ucapan Nindi tiba-tiba berhenti dan terganti dengan suara berat lelaki

"Halo? Kamu kalo gak tiba di toko dalam waktu 20 menit, saya kasih kamu Surat peringatan" mata Atika terbelalak mendengar suara berat itu, baru saja ingin menjawab suara sambungan telefon terputus sudah mendahuluinya.

Ia dengan cepat berlari keluar kamar lalau menuju kamar mandi, secepat kilat menyelesaikan segala ritual mandi, pakaian dan makeupnya, sebisa mungkin tidak lewat dari waktu yang disebutkan oleh atasan barunya tadi, ia benar-benar lupa kalau hari ini hari pertama supervisior yang baru akan berkunjung setelah 2hari yang lalu supervisior lama nya-pak Hidayat, mengundurkan diri. Ini pasti gara-gara ia terlalu lelah menangis semalaman hingga ia begitu lelap tertidur hingga lupa jika ia masuk shift pagi hari ini.

Atika menatap pantulan dirinya di cermin, melihat matanya yang masih sembab lalu dengan cepat menggelengkan kepala agar tidak terus-terusan kepikiran tentang patah hati nya lalu segera berangkat ke tempat kerja nya dengan menggunakan motor Ayah walaupun sebenarnya jarak toko tempatnya bekerja tidak jauh dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki tapi Atika lebih memilih mengendarai motor agar lebih menghemat waktu dan tenaga

Hope Is YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang