Thirty Six

1 1 0
                                        

-flashback 3 years ago-

Faiz berjalan menuju area parkir kampus, masuk kedalam mobil Nissan Juke berwarna kuning. Didalam mobil ia melepas toga dari kepalanya lalu menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan pelataran kampus besar itu.

Hari ini hari wisudahnya tanpa ditemani satu orangpun keluarganya, sedikit kecewa karena mama-papa, kakak ataupun kekasihnya tidak bisa hadir mendampingi satu hari bahagianya. Tapi ia berusaha meredam kekecewaan itu, ia tidak boleh egois karena orangtuanya sedang menemani sang kakak melamar wanita pujaan kakaknya itu.

Faiz tersenyum tipis mengingat satu-satunya saudaranya itu, pria yang terkenal kaku dan jarang mengenal wanita tiba-tiba ingin menikah dan dengan cepat ingin melamar wanita pujaannya itu, luar biasa.

Hari ini ia akan langsung pulang ke rumah orangtuanya di Pangkep. Selama mengenyam pendidikan di Makassar, ia memang tinggal di rumah yang dibelikan oleh orangtuanya. Memang tidak sebesar rumah di Pangkep tapi masih cukup luas untuk menampung puluhan orang teman kampusnya yang kadang menginap atau sekedar berpesta, tapi bukan pesta terlarang pastinya.

Mobil kesayangannya masuk kedalam pekarangan rumah besar nan megah milik orang tuanya. Setelah memarkirkan mobil, ia pun masuk ke rumah dengan perasaan senang, toga yang tadi ia lepas kini kembali bertengger dipuncak kepalanya.

"Assalamualaikum, ma, pa!" Ia menjelajahi rumah besar itu mencari keberadaan orangtuanya, namun tidak menemukannya. Salamnya pun di jawab oleh seorang pelayan rumah senior.

"Waalaikumsalam. Mas Faiz udah pulang?"

"Iya bik. Mama sama Papa mana?" Tanya Faiz masih dengan senyuman.

"Bapak sama Ibu belum pulang mas. Habis dari lamaran tadi langsung ke butik buat fiiting baju pengantinnya mas Yudha dan calonnya."

"Emang acaranya kapan?"

"Minggu depan."

"Wah gercep juga yah kak Yudha. Yaudah Faiz langsung ke kamar aja yah bik. Capek mau langsung istirahat." Faiz terkekeh sambil mangut-mangut lalu meninggalkan  bik Siti yang hanya mengangguk dan tersenyum menatap tuan mudanya berjalan naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.

Faiz turun dari kamar menuju ruang makan dilantai satu. Sekarang sudah waktunya makan malam, mama-papa dan kakaknya sudah duduk di kursi masing-masing. Faiz mendudukkan dirinya dikursi kosong disamping mama.

"Kecapean banget kayaknya, sampe keluar kamar pas makan malam." Mama sambil tersenyum menyendokkan nasi ke piring Faiz setelah melakukan hal yang sama pada Papa dan Yudha.

"Gak juga sih ma, cuman aku masih pengen rebahan aja." Faiz mulai menyendokkan nasi dan lauk kedalam mulutnya.
"Oh iya, gimana lamarannya kak Yudha? Kata bik Siti acaranya minggu depan yah?"

Semua terdiam, Papa berhenti mengunyah lalu berdehem dan menjawab.

"Iya, acaranya minggu depan. Kamu gak ada acara lain kan?" Faiz menggeleng dan tersenyum

"Sekalipun ada acara pasti aku batalin, ini momen sekali seumur hidup kak Yudha masa aku gak hadir." Yudha berdehem mendengar ucapan Faiz lalu bangkit dari duduknya.

"Aku udah selesai, mau langsung ke kantor. Assalamualaikum." Setelah pamit Yudha pun berlalu keluar rumah membuat Faiz mengernyit menatap kepergian sang kakak.

"Aku salah ngomong tadi?" Tanya Faiz menatap mama-papa bergantian.

"Kenapa?" Kali ini mama yang menanggapi.

"Kak Yudha kayak aneh gitu, dan itu sarapannya gak dihabisin, gak biasanya."

"Dia lagi banyak kerjaan, kebanyakan deadline karena dua hari sebelum hari H dia udah cuti buat pernikahannya. Gak usah dipikirin, kamu habisin sarapan aja yah." Mama mengucapkannya dengan senyum lembut favorit Faiz sejak kecil.

Hope Is YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang