Mobil yang dikendarai Faiz berhenti didepan minimarket, Atika yang bersiap untuk keluar dari mobil menoleh kearah kemudi dan melihat Faiz bergeming sambil menatapnya.
"Gak turun dulu?" Faiz tersenyum lalu menggeleng.
"Kenapa? Biasanya pasti masuk dulu, biarpun cuma ngecek e-mail toko atau basa basi ama pak Galih." Lanjut Atika.
"Abis ini mau langsung balik ke toko tadi." Atika mengerutkan kening mendengarnya.
"Tokonya Devi?" Atika mendengus setelah mendapatkan anggukan dari Faiz sebagai jawaban.
"Yaudah, pergi sana. Betah-betahin disana". Atika menekankan kalimat terakhirnya lalu keluar dari mobil dan membanting pintu kendaraan tersebut, membuat Faiz geleng-geleng kepala sambil terkekeh.
Atika berjalan masuk ke toko dan terus kedalam pintu karyawan dengan kaki yang menghentak dan bibir yang berkomat-kamit membuat Galih dan Fani yang berdiri didepan meja kasir menatapnya aneh.
"Kamu selalu menuhin pikiran aku, pikiranku terkunci sama kamu. Cih." Atika berbicara dengan mulut dimiring-miringkan lalu berdecih membuat Nindi yang sedang duduk dikursi yang ada didapur mengerutkan kening melihatnya.
"Kenapa lo? Datang-datang langsung ngomel gak jelas."
"Dasar laki-laki labil, gaje." Lanjut Atika masih mengomel lalu meraih botol berisi minuman bulir jeruk lalu meneguknya hingga botolnya kosong, dan Nindi yang menyaksikan itu hanya bisa melongo bego.
"Yang gaje itu elu! Datang-datang ngomel ga jelas, main minum punya orang gak izin." Sergah Nindi dengan sebal melihat botol minumannya sudah tandas lalu berjalan keluar meninggalkan Atika yang masih merengut.
"Perasaan tadi lu beli minuman, ini beli lagi?" Tanya Fani yang berdiri dibelakang meja kasir begitu melihat Nindi mengangsurkan minuman yang sama dengan yang dihabiskan Atika.
"Yang tadi dihabisin sama makhluk gaje didalem." Fani mengkerutkan kening mendengar penuturan Nindi.
"Siapa? Bu Atika?" Nindi menjawab sebagai anggukan sambil meneguk minumannya.
"Lagi berantem ama pak Faiz kali. Soalnya tadi dia dianterin pak Faiz tapi pak Faiz nya gak turun dan bu Atika masuk ngehentak-hentakin kaki sambil ngedumel gitu." Jelas Fani membuat Nindi menjentikkan jari dan membulatkan mata lalu berlari kecil masuk kedalam dimana ada Atika.
"Jadi lo uring-uringan gini karna pak bos?" Tanya Nindi begitu duduk disamping Atika.
"Apasih?" Atika mendelik dan wajah yang masih ditekuk.
"Hmm bener. Gimana ceritanya? Bukannya beberapa minggu ini dia ngehindarin lo? Kok bisa tadi dia yang nganter?" Atika yang mendapat pertanyaan beruntun hanya memutar bola matanya, lalu menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin. Mulai dari ia dijemput Ian, digrebek maminya Ian, lalu dijemput oleh Faiz karena insiden salah sambungnya, hingga adegan Faiz yang menyatakan perasaannya didapur rumahnya, romantis bukan?
"Dia bilang rela dijadiin pelarian sama lo?" Mata Nindi membulat setelah mendengar cerita panjang Atika, yang dijawab dengan anggukan.
"Wahhh daebakk! Trus lo jawab apa?"
"Gue bingung mau jawab apa, jadi gue minta dikasih waktu."
"Aelah, ngapain minta waktu sgala coba? Bukannya waktu beberapa minggu ini kalian lost contact, lo selalu nungguin kabar dari dia? Dan tadi kenapa lagi lo? Datang-datang langsung ngomel gajelas."
"Semalam dia bilang 'pikiranku terkunci sama kamu, kamu selalu menuhin pikiranku' tapi nyatanya tadi dia senyum-senyuman didepan mata gue, dadah-dadahan kek film india. Cih." Atika berdecih dan kembali menekuk wajahnya membuat Nindi menyipitkan mata dan tersenyum menggoda.
"Hmmm cemburu bu? Hayoloh cembokur kan lo? Hahaha." Tawa Nindi menggelegar didapur yang berukuran kecil itu membuat Atika berdecak kesal
"Cerita sama lo gak ada faedahnya." Atika lalu berdiri hendak meninggalkan perempuan berbadan agak gemuk itu.
"Oke oke, duduk dulu." Nindi menahan tangan Atika dan mendudukkannya kembali seperti semula.
"Kalo menurut gue ni yah, mending lo terima dia dulu, urusan lo jadiin dia pelarian atau apalah you name it, itu gak jadi masalah. Toh dia sendiri yang ngaku gak masalah dijadiin pelarian sama lo. Daripada, lo gantungin dia trus dia dideketin sama cewe lain dan dia nyaman beneran, nyesel lo ntar, ujung-ujungnya mewek lagi." Atika lagi-lagi mendelik mendengar penjelasan Nindi tapi tetap merasa ada benarnya juga.
"Trus gue harus gimana skarang?"
"Telfon dia, trus lo bilang 'iya, aku mau nerima kamu, mulai hubungan sama kamu' udah sesimple itu."
"Simple buat lo!" Atika mengerucutkan bibir sambil merogoh ponselnya yang masih ada didalam sling bag nya. Membuka kunci layar ponsel lalu mencari kontak Boss Kulkas, baru saja ia ingin menggeser id kontak tersebut-untuk melakukan panggilan telfon- ia kembali menyimpan ponselnya ke meja dihadapannya lalu membelakanginya.
"Nggak ah."
"Kenapa lagi?" Tanya Nindi yang terlihat heran melihat tingkah sahabatnya.
"Gue belom siap." Ucap Atika sambil menunduk membuat Nindi memutar bolamata malas, lalu diraihnya ponsel Atika yang tergeletak diatas meja dan menggeser id kontak yang terpampang disana. Tidak butuh waktu lama untuk mendengar jawaban dari seberang.
"Tik, bilang halo!" Atika mengerutkan kening tapi tetap mengikuti titah Nindi.
"Halo?" Nindi menempelkan ponsel pada telinga Atika membuat Atika terbelalak saat mendengar suara disana.
"Kenapa?" Suara berat Faiz menyapa telinganya membuat Atika menggeram tanpa suara kearah Nindi.
"Apa-apaan sih lo?" Atika mengucapkannya tanpa suara dan Nindi hanya mengangkat bahu sambil memberi kode untuk Atika berbicara. Dan akhirnya Atika membuka suara sambil berusaha meredam kekesalannya.
"H.halo, lagi dimana?"
"Aku ditokonya.." belum sempat Faiz menyelesaikan jawabannya, terdengar suara manja seorang perempuan dibelakang gadis.
"Pak Faiz, cepettan." Suara itu membuat Atika menajamkan pendengaran dengan kerutan dikening.
"Kamu beneran balik ke tokonya Devi?"
"Iya, tadi kan udah kubilang." Mendengar jawaban Faiz, Atika langsung mematikan sambungan telfon secara sepihak.
"Loh kok udahan? Kan belum ngomong apa-apa?" Tanya Nindi heran yang sejak tadi memperhatikan.
"Gara-gara lo nih. Gue bilang juga apa, lo malah nelfon dia. Dia lagi ditoko cewek itu, dasar emang mulut cowok ga ada yang bisa dipercaya." Nindi yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas.
• • •
Faiz mengecek layar ponselnya yang sudah menampilkan layar utama.
"Kenapa pak?" Tanya seorang perempuan yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Dimatiin."
"Nah kan, makin ngambek deh tuh. Pak Faiz sih, kelewatan jailnya." Ucap perempuan dengan rambut sebahu itu.
"Yah mau gimana lagi, saya cuma mau liat reaksi dia kalo saya deket dengan perempuan selain dia." Faiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hmm. Tapi kalo dia malah jadi ilfeel sama pak Faiz gimana? Kalo dia jadi tambah ngejauhin pak Faiz? Hayo?" Devi, perempuan berambut sebahu itu terus mencecarnya.
"Yah berarti saya harus berusaha lebih keras lagi." Faiz tersenyum miring membuat Devi geleng-geleng kepala melihatnya.
Devi memang satu-satunya bawahan atau rekan kerja perempuan yang lumayan akrab dengannya, karena gadis itu dahulu merupakan adik tingkatnya di perguruan tinggi dan pernah tergabung dalam satu organisasi, dan Devi pun juga tau bagaimana hubungan pria itu dengan Andin-mantan kekasih Faiz.
🖤🖤🖤
Enjoy HIU 🤗😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Hope Is You
Romansa"Harapan itu angan, angan itu imajinasi dan imajinasi itu tak nyata." [Atika Nisfah Hasyim] "Jika aku bisa menjadi aladin dan mendapat keajaiban untuk mengajukan permohonan 1saja, aku akan meminta agar waktu bisa diputar kembali kemasa dimana aku ha...
