13. Salah

187 25 4
                                        

Jisoo sedang memastikan penampilannya dari pantulan cermin begitu sebuah pesan masuk.

"Hei, Sepertinya kau lupa jam tanganmu"

Deg.

Jisoo sekilas menatap ke arah lengannya yang kosong. Benar. Ia belum mengenakan jam tangannya.

Jisoo begidik ngeri.

"Demi kue coklat lumer! Bagaimana bisa dia tahu?!?!? Sejauh delapan jam perjalanan dari kota Goldstein ke kota ini dia masih bisa melakukan ini. Bagaimana bisa? Sebenarnya dia siapa?" Batin Jisoo

Jisoo bergegas menutup jendela kamar hotelnya yang menghadap keluar.

Untuk sepersekian detik Ia menatap sekeliling kamar hotelnya. Melihat setiap barang dengan detail mencari sesuatu.

Di sela-sela vas bunga, tidak ada. Di balik lukisan, tidak ada. Di balik televisi, tidak ada. Di balik lampu, Ah. Tidak sampai.

Panik.

Takut.

Meski Jisoo tahu orang itu sebelumnya pernah melakukan ini. Tapi, jika orang itu tidak kenal jarak dan bisa sejauh ini. Maka, dia bisa melakukan apapun. Benarkan?

Jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya bergetar. Jisoo mengenggam ponselnya erat-erat. Berusaha menstabilkan detak jantungnya. Dua menit lagi, Ia harus bekerja.

"Jisoo.. tenang.. orang itu tidak mungkin berani mendekat.. hanya sebuah pe-"

Jisoo menutup mulutnya rapat-rapat.
Di..Dia tidak bisa dengar apa yang Jisoo ucapkan kan?

Jisoo mengambil napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Ia terus melakukan itu hingga merasa dirinya lebih tenang.

Suara bel pintu berbunyi.

"Sekarang. Ayo bekerja!" ucap Jisoo tidak lupa memasang senyum manisnya

Rowoon berdiri di depan pintu kamarnya.

"Sudah siap?" tanya Rowoon

Jisoo mengangguk.

"Hari ini kita akan ke beberapa tempat."

"Siap" jawab Jisoo.

Jisoo dan Rowoon mendatangi beberapa gedung kosong. Ternyata Rowoon ingin membuka cabang perusahaannya di kota ini. Rowoon terus saja bertanya pendapat Jisoo tentang gedung-gedung itu. Gedung pertama, terlalu kecil. Gedung kedua, tidak ada tempat parkir. Gedung ketiga, tidak banyak ventilasi udara. Gedung keempat, tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk.

Sampai akhirnya mereka tiba di gedung kelima. Cukup besar, ventilasi udara bagus, cahaya matahari bisa leluasa memenuhi ruang. Namun, tempat parkirnya tidak terlalu besar.

Setelah berdiskusi cukup lama, ternyata ada lahan di samping yang bisa dijadikan lahan parkir. Akhirnya, Rowoon menerima tawaran itu.

Jisoo menghela napas lega. Ia lelah. Sedari tadi Ia terus memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Mencari sosok itu membuatnya jadi tidak fokus.

Rowoon masih bernegosiasi tentang harga, ketika ponsel Jisoo tiba-tiba saja bergetar.

"Dimana?" Terdengar suara berat di seberang telfon

"Hah?"
Jisoo yang terkejut karena tidak sempat membaca nama si penelfon. Akhirnya melihat kembali layar ponselnya.

Park Jinyoung.

"Kamu dimana? Aku di kantormu dan kamu ngga ada" ucap Jinyoung

Jisoo berjalan menjauh dari Rowoon dan pemilik gedung.

Under The RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang