Jisoo menggeliat, menerjapkan matanya yang telah setengah terbuka. Pusing. Itu yang pertama kali Jisoo rasakan.
Semakin bergerak, Jisoo semakin bisa merasakan keberadaan seseorang. Ia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja.
Jinyoung sedang duduk bersandar di atas kasur, tepat di samping Jisoo. Dengan lengan kanan yang terjulur ke arah Jisoo.
Tidak. Jangan sekarang.
Jisoo memaksakan diri untuk segera bangkit dari tidurnya. Kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tidak sanggup rasanya melihat Jinyoung. Jisoo malu. Ia merasa kotor dan tidak pantas lagi bersama Jinyoung. Menampakkan wajahnya saja Jisoo tidak ingin. Ia bodoh. Memalukan. Kotor.
Tanpa perintah, memorinya kembali pada malam itu. Membuat Jisoo terduduk di balik pintu. Dan lagi-lagi lemas. Ia menyalakan shower. Membiarkan air itu membasuh semua jejak-jejak sentuhan semalam. Dingin.
Jisoo membasuh tubuhnya dengan kasar. Dua kali dibasuh dengan sabun pun Ia tetap merasa jijik. Jisoo meringis. Selama Ia pergi ke club Ia tidak pernah seperti ini.
Sialan.
DUG.
Jisoo melempar botol sabun yang sejak tadi Ia gunakan tapi masih tidak berguna.
TOKTOKTOK.
Jisoo lupa di luar sana masih ada Jinyoung. Jisoo mengecilkan showernya, menandakan siap untuk mendengar apapun yang akan dikatakan orang di balik pintu.
"Kamu baik-baik saja?" Suara Jinyoung terdengar dibalik pintu.
Suara yang biasanya dingin, kini terdengar lembut. Dan ada sedikit kekhawatiran di dalamnya.
Jisoo terdiam. Tidak bisa mengatakan apapun. Lidahnya tercekat. Membayangkan wajah Jinyoung yang akan menatapnya jijik. Jisoo tidak sanggup.
"Sarapan ya, setelah itu kita berangkat" lanjut Jinyoung
Hening.
Sepertinya Jinyoung sudah pergi.
Jisoo melanjutkan aktivitasnya, berharap sabun yang terakhir ini bisa mengurangi rasa jijiknya.
Setelah lima puluh menit berada di dalam kamar mandi. Jisoo meyakinkan diri untuk keluar, berharap tidak ada Jinyoung.
Jisoo menghela napas lega. Keberadaan Jinyoung tidak terlihat. Yang ada hanya sepaket sup yang masih hangat. Lengkap dengan nasi dan kerupuknya.
Jisoo menatap makanan itu tanpa selera. Tapi, Jisoo bukan tipe orang yang suka menyiksa diri. Ia tetap melahap makanan itu, meski pada akhirnya tidak bisa Ia habiskan.
TOKTOKTOK.
"Sudah siap?" suara Jinyoung terdengar di balik pintu.
Jisoo meraih kopernya, menurunkan rambutnya hingga menutupi seluruh wajahnya, sedikit menunduk, kemudian membuka pintu.
Tanpa berkomentar, Jinyoung dengan gesit mengambil alih koper Jisoo.
"Haaaaai, Ji"
Jisoo menoleh ke arah suara. Kini Jackson berada di hadapannya tersenyum. Wajahnya terlihat ceria.
Jisoo membalas sapaan Jackson dengan senyuman singkat.
Jisoo dan Jackson berjalan berdampingan menuju taxi. Sementara Jinyoung mengikuti di belakang.
Sepanjang perjalanan dalam diam Jisoo hanya mengikuti ke manapun Jinyoung pergi. Begitu Jinyoung menoleh ke arahnya, Jisoo akan cepat-cepat menyembunyikan wajahnya.
Beberapa kali Jackson memancing Jisoo untuk bicara dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan singkat. Tapi, Jisoo enggan menanggapi. Membiarkan pertanyaan Jackson menguap dengan sendirinya.
DUG.
Jisoo menabrak seseorang. Tapi, sepatu dan bentuk kakinya tidak asing. Jisoo mendongakkan kepalanya. Jinyoung.
Jinyoung sedang menatapnya lamat-lamat. Terlihat ingin mengatakan sesuatu. Banyak. Tapi, tidak Ia katakan.
Sial.
Buru-buru Jisoo kembali menutup wajahnya. Menghindari tatapan Jinyoung. Takut, ekspresi Jinyoung tiba-tiba berubah menjadi jijik.
"Aku mau ke toilet. Kamu mau ikut?"
Jisoo melihat papan bertanda toilet pria. Ia merutuki kebodohannya. Sementara Jackson terkekeh di belakang.
Sudah empat jam perjalanan. Mereka duduk dalam diam. Jisoo menoleh ke arah Jinyoung yang kini terlelap di sampingnya. Wajahnya lelah seperti biasa, tapi lingkaran di bawah matanya lebih hitam dari biasanya. Apa semalam Ia tidak tidur?
Jisoo menghela napas panjang. Mengingat posisi Jinyoung yang tadi pagi Ia lihat. Lagipula siapa yang bisa tidur dengan posisi duduk seperti itu.
Jisoo tanpa sengaja melihat tangan kanan Jinyoung. Ada beberapa goresan di tangannya, beberapa masih menimbulkan bercak merah. Seperti darah yang sudah mengering.
"Pasti sakit" ucap Jisoo
"Kau memukulnya sekeras itu, sampai menyakiti dirinu sendiri. Huh? Dasar bodoh" batin Jisoo
Tangan Jisoo bergerak mendekati Jinyoung, ingin membenarkan posisi selimutnya. Tapi, dengan cepat Jisoo mengurungkan niatnya dan kembali melihat pemandangan di jendela.
"Kamu bisa jijik disentuh dengan tangan kotorku ini" batin Jisoo
-under the rain-
Setelah meletakkan koper Jisoo ke dalam apartemennya, Jinyoung melangkah keluar.
"Ji"
Jisoo baru saja akan menutup pintu, tapi tangan Jinyoung terulur menahan pintu.
Jisoo terdiam menunggu Jinyoung melanjutkan.
"Besok.." ucap Jinyoung terhenti
Jisoo mengingat kembali ada apa dengan besok? Besok hari minggu. Apakah Jisoo ada janji dengan Jinyoung?
Ah. Pernikahan Asya.
"Aku akan bilang pada mama kalau kamu sakit dan tidak bisa da-"
"Aku akan datang" ucap Jisoo menghentikan ucapan Jinyoung tanpa menoleh
Suara Jisoo samar, tapi masih bisa didengar.
Jinyoung tersentak dengan kalimat pertama yang Jisoo lontarkan. Jinyoung mendekatkan wajahnya tidak yakin dengan apa yang baru saja Jisoo katakan.
Tentu saja Jisoo akan datang. Ingatkan? Jisoo tidak bisa mengecewakan orang tuanya. Cukup dia simpan sendiri kejadian semalam.
Jinyoung tersenyum. Kagum dengan kekuatan gadisnya
"Aku jemput"
Baru akan melangkahkan kaki menjauh, Jisoo menarik lengan baju Jinyoung
"Jangan katakan pada-"
Jinyoung mengangguk tersenyum dan menyentuh puncak kepala Jisoo. Jisoo mundur menjaga jarak. Ia tidak siap dengan perlakuan Jinyoung yang tiba-tiba. Jujur saja, setelah kejadian itu Jisoo jadi lebih berhati-hati dengan sentuhan. Apa namanya? Skinship? Berhati-hati dengan takut berbeda tipis mungkin.
"Aku mengerti, istirahatlah"
ucap Jinyoung kemudian menghilang dibalik pintu.
-under the rain-
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Rain
FanfictionPertemuan pertama kita saat hujan. Kisah kita berlangsung selama musim hujan. Akankah kita bahagia berkat hujan? Tapi, orang bilang hujan menyedihkan. Katanya hujan menandakan langit yang menangis. Jadi, mungkinkah kisah kita berakhir menyakitkan...
