Waktu memang berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah hampir enam tahun Ayra mengarungi rumah tangga bersama Angga. Perdebatan perdebatan kecil memang tak luput dari hari-hari mereka. Namun, Ayra bersyukur rumah tangganya masih bertahan sampai saat ini.
Sore ini, Ayra sedang memasak untuk makan malam nanti. Satu bulan terakhir, Ayra selalu di rumah. Saat ini ia tengah mengandung. Angga melarangnya untuk bekerja lantaran khawatir kalau Ayra kenapa-napa.
"Mommy!" seorang anak laki laki berusia lima tahun berlari kecil ke arah Ayra. Arjuna
Davin Wirasatya, putra pertama Angga dan Ayra.
"Hai, sayang! Anak mommy udah pulang!" Ayra langsung menghampiri Arjuna.
Tadi Arjuna ikut dengan Angga ke rumah Kris. Hari ini Angga memang sedang libur. Dan kebetulan Juna memaksa Angga untuk ke rumah Om nya itu.
"Mommy lagi masak? Kata Daddy kan Mommy gak boleh capek. Ntar kasian adiknya Juna," ujar anak itu yang membuat Ayra gemas. Tangan Ayra bergerak mencubit pipi Arjuna.
"Mommy cuman bantuin bibi masak kok. Nggak bakalan capek, Juna nggak usah khawatir." Anak itu mengangguk.
Ayra melihat ke belakang Juna. Kenapa Angga belum datang? Tidak mungkin kan Juna pulang sendirian? "Juna, Daddy kamu mana?"
"Daddy masih di luar. Lagi ngobrol sama tetangga," jawab Juna.
Ayra mengernyitkan dahinya. Tetangga? Wanita itu menepuk dahinya. Ya, memang ada tetangga baru mereka yang pindah tadi pagi. Mungkin Angga sekedar menyapa.
"Ya udah, sekarang Juna ke kamar terus mandi. Nanti Mommy siapin makanan spesial buat Juna."
"Siap, Mom."
Arjuna lalu berlari kecil menuju kamarnya. Sementara itu Ayra masih heran dengan Angga yang tak kunjung masuk. Ayra pun menitipkan masakannya pada bibi. "Bi, Ayra tinggal bentar ya."
Detik berikutnya Ayra berjalan keluar dari rumahnya. Benar saja, dari depan pintu rumah Ayra bisa melihat Angga mengobrol dengan wanita yang tadi pagi pindah ke rumah yang ada tepat di depan tempat tinggal Ayra. Raut wajah Ayra menunjukkan ekspresi cemburu.
Emang ya, susah punya suami yang gantengnya keterlaluan. Ayra melangkah mendekati Angga dengan wanita itu. Namun tampaknya mereka berdua tidak menyadari.
"Saya awalnya dokter di Surabaya. Tapi ya, sebulan yang lalu saya bercerai dengan suami saya. Dan saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta," ujar wanita itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi samar Ayra masih bisa mendengar.
"Bahaya nih!" gumam Ayra. "Ekhem!" Angga dan wanita itu menoleh sedangkan Ayra berjalan mendekati mereka. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
"Eh, Sayang. Juna tadi udah masuk kan?" tanya Angga.
"Iya, udah. Cuman nunggu Daddy nya aja lama banget. Ternyata lagi ngobrol" ucap Ayra dengan menekankan kalimat tetakhirnya. Angga rasa istrinya ini tengah cemburu. Ia pun mengulas senyumnya.
"Oh iya, Rossa kebetulan istri saya kan sedang mengandung. Boleh saya titipkan dia kalau saya sedang tidak ada di rumah. Tadi kan kamu bilang kalau kamu dokter," ujar Angga yang membuat Ayra malah kesal.
"Kak, aku bukan anak kecil ya. Aku bisa jaga diri aku sendiri."
"Bukan gitu, Sayang. Aku takut kamu ceroboh. Kamu lupa waktu hamil Juna kamu hampir keguguran. Coba kalo nggak ada aku," ucap Angga. Lagi lagi Angga membahas soal itu.
Ya, Ayra memang sempat hampir keguguran saat hamil Juna. Itupun karena kecerobohannya sendiri. Ia tidak sengaja menumpahkan air yang membuat lantai licin dan nyaris saja membuatnya terpeleset. Untungnya Angga datang dan menahan Ayra agar tidak terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Ice Prince 2
Teen FictionSebuah hubungan pasti tak akan selalu berjalan manis. Kadang ada sebuah rintangan yang membuat hubungan itu menjadi lebih erat. Namun tak jarang hubungan itu harus kandas karena rintangan yang tak sanggup untuk dihadapi. *** Entah hanya perasaan Ayr...
