Minggu, hari yang paling ditunggu oleh setiap orang. Hari dimana mereka bisa bersantai dan bebas dari rutinitas yang melelahkan. Apalagi bagi pelajar, hari itu adalah hari yang sangat dinantikan seperti dia. Namun, Ayra justru menginginkan agar hari ini adalah Senin saja. Pasalnya hari ini adalah hari dimana papa dan mamanya kembali untuk bekerja lagi. Ya, mereka harus pergi ke Jerman untuk urusan bisnis mereka.
Sialnya, hari ini Ayra harus mengantarkan orang tuanya ke bandara bersama Aiden. Lagi-lagi bule songong yang Ayra anggap sebagai musuhnya. Ya, musuh karena mamanya justru terlihat lebih sayang pada Aiden daripada Ayra. Contohnya saja hari ini, pagi-pagi sekali Aiden sudah berada di rumah Ayra dan mengobrol bersama Dara serta sarapan bersama.
"Aiden, nanti kamu jagain Ayra. Setiap hari kamu harus lapor ke tante gimana kondisi Ayra, terus kamu juga harus memastikan Ayra baik-baik saja. Kalau nanti dia ngelawan kamu, aduin aja sama Tante. Nanti Tante marahin dianya," ucap Dara pada Aiden.
Sepertinya mamanya itu belum menyadari keberadaan Ayra di belakangnya hingga terus sibuk membicarakan Ayra. Andai saja itu bukan mamanya, Ayra pasti sudah mengumpat habis-habisan saat ini.
"Ekhem." Ayra sengaja berdeham agar Dara menyadari keberadaannya.
"Terus nanti kalau misalnya-"
"Mama!" Dara terlonjak melihat putrinya yang kini berdiri tepat di belakangnya.
"Astaga, Ayra. Kalau dateng itu bilang-bilang dong. Untung mama nggak jantungan tadi."
"Udah bilang. Mama aja yang dari tadi asik ngegibahin Ayra," ucap Ayra dengan raut wajah yang terlihat kesal. Gadis itu lalu menarik sebuah kursi di samping mamanya lalu duduk.
"Gimana mama sama Aiden nggak ngomongin kamu. Orang dari tadi ditungguin buat sarapan kamunya nggak turun-turun," ucap Dara.
Ayra memutar bola matanya jengah. Apalagi setelah melihat ekspresi wajah Aiden yang tersenyum miring padanya, ia sungguh ingin untuk membunuh cowok itu sekarang juga.
"Oh iya, papa kamu tadi pagi berangkat ke kantor duluan sebelum kamu bangun. Katanya dia mau ngambil berkasnya dulu terus langsung ke bandara. Makanya mama minta Aiden ke sini buat anterin mama ke bandara."
"Kan ada Ayra ma, kenapa nggak Ayra aja?"
"Kan kalau pulang nanti kamu nggak ada temennya," ucap Dara beralasan. "Ya udah ya kalau gitu, mama mau ke kamar dulu. Tadi pagi mama udah sarapan sama papa kamu," ucap Dara yang kemudian berdiri. Selanjutnya ia melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan.
Saat ini hanya ada Ayra dan Aiden. Wajah Ayra menunjukkan ekspresi yang tidak bersahabat. Sementara Aiden, ia malah senyum-senyum sendiri. Entah kenapa dengan sikap Aiden saja Ayra rasanya ingin muntah sekarang.
"Eh, masnya gila ya? Daritadi senyum-senyum sendiri. Gak jelas banget jadi orang," ucap Ayra dengan ketus.
"Apaan sih. Orang gue jelas-jelas ada disini kok. Kalo lo minta kejelasan dari gue, itu yang bikin gue berpikir ulang," ucap Aiden.
"Idih, amit-amit dah gue mau ama lo. Mending juga sama kodok daripada lo."
"Idih, sukanya ama kodok."
"Iyalah, kodok kalau dicium bisa jadi pangeran," ucap Ayra.
"Kebanyakan baca dongeng lu. Ngapain juga nyiumin kodok, mending nyium gue," ucap Aiden yang membuat Ayra bergidik ngeri. Yang pasti Ayra tak akan ingin membayangkan itu.
"Dasar otak mesum! Cue colok juga lo!" ucap Ayra sambil mengarahkan garpu yang ada ditanyannya ke mata Aiden.
"Sini kalo berani."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Ice Prince 2
Teen FictionSebuah hubungan pasti tak akan selalu berjalan manis. Kadang ada sebuah rintangan yang membuat hubungan itu menjadi lebih erat. Namun tak jarang hubungan itu harus kandas karena rintangan yang tak sanggup untuk dihadapi. *** Entah hanya perasaan Ayr...
