Chapter 19. Mars Rindu

665 71 52
                                        

"Karena bersama kamu, aku yakin kita nggak perlu berubah. Kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri, begitu pun aku. Kita bisa bersama dalam status pernikahan, tetapi tanpa harus terikat."

✾ ✾ ✾

Panji Kusuma memang luar biasa, dia menyiapkan makan malam super mewah yang tidak tanggung-tanggung untuk Freya. Menggunakan Jet pribadi, mereka terbang ke Singapura. Di kapal pesiar yang juga milik Pengusaha tampan itu, mereka dinner romantis di atas lautan lepas.

"This is too much, Panji." Freya masih tak habis pikir dengan cara Panji menghabiskan uang untuknya, tanpa perhitungan sama sekali.

"Absolutely not. This is appropriate for a special woman," sahut Panji penuh karisma.

Freya tersenyum.

Panji mengangkat gelas berisi wine, mengajak Freya bersulang. Mereka sama-sama tersenyum, lalu meminum air berwarna merah itu satu tegukan anggun.

Freya cukup terkesan dengan usaha Panji menarik perhatiannya. Wanita lain mungkin akan langsung meleleh seperti es krim di bawah sinar matahari.

"Frey ..." panggil Panji.

Freya mengangkat matanya menatap pria itu. Panji terlihat merogoh saku dalam jasnya, lalu mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah. Saat dibuka, sebuah cincin berlian bertengger di dalamnya.

"Marry me ..." ucap Panji dengan penuh kelembutan.

Freya tertegun. Dia sudah menebak akan dilamar seperti ini, tapi ternyata hatinya belum sesiap itu. Mars tetap memenuhi kepalanya saat ini, mengingat kekasihnya itu membuat Freya merasa bersalah.

"Frey ..." panggil Panji menunggu respon.

"Panji, aku ..." Freya ragu, bingung harus menjawab apa. "Sorry ... tapi ini terlalu cepat," tolaknya secara halus.

Panji tersenyum teduh. "Aku memang terlalu terburu-buru di kencan pertama kita. Maafkan aku. Tapi kamu bisa simpan ini dan jawab setelah kamu siap?" mintanya tanpa terdengar memaksa.

Freya memandangi cincin itu, lalu menatap Panji. "Oke," jawabnya dengan senyum tak kalah teduh.

"Thanks God." Panji begitu senang. Dia menutup kembali kotak cincin itu dan memberikannya para Freya. "Saat kamu menerimanya, pakailah itu sebagai jawaban."

Freya tidak menjawab, dia melanjutkan makan lezatnya dengan cara mengunyah yang sangat anggun. Saat tangannya digenggam oleh Panji, bisa dia rasakan debaran di jantungnya tidak seheboh saat bersama Mars.

"Kamu tahu, Frey. Aku senang saat tahu kamu nggak begitu suka dengan komitmen. Aku seperti melihat diriku di dalam dirimu. Kita seperti cermin, memiliki pendapat yang sama tentang nggak membutuhkan pasangan."

Freya tersenyum. Dia dan Panji memang pernah membahas masalah ini dulu, saat mereka sudah merasa nyaman untuk berbagi cerita. "Terus kenapa sekarang kamu melamar aku?" tanyanya.

"Karena bersama kamu, aku yakin kita nggak perlu berubah. Kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri, begitu pun aku. Kita bisa bersama dalam status pernikahan, tetapi tanpa harus terikat."

Freya cukup tertarik dengan tawaran itu, karena sejak dulu memang itu yang dia harapkan dari sebuah pernikahan. Tidak mengikat, bisa tetap melakukan apapun yang dia mau. Tentunya, bukan dalam hal-hal negatif.

✾ ✾ ✾

Setelah makan malam dan berbincang banyak hal tentang kesamaan mereka, ada sebuah kejutan lagi yang Panji persiapkan. Pria itu, menyiapkan sebuah kamar spesial untuk mereka menginap malam ini.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang