Terkadang, ada saatnya tidak perlu ada "kita" terus menerus. Berilah waktu sedikit untuk diri sendiri.
✾ ✾ ✾
Mars merasa Freya mulai berubah, wanita itu sudah jarang membalas chat darinya. Kalaupun dibalas, pasti dalam waktu yang lama dan sangat singkat. Bila ditelepon, Freya selalu punya sejuta alasan untuk bilang sibuk. Lembur terus menerus, dengan alibi meeting di luar.
Ini hari terakhir Mars magang di sana, dua bulan hubungan mereka.
Mars: Kamu di mana?
Mars: Bisa jalan, kan, sore ini?
Mars: Udah lama kita nggak jalan.
Mars: Please...
Setelah mengirimkan itu, Mars menunggu. Dia sengaja memantau ponselnya tanpa berkedip. Freya online, tetapi pesannya tidak dibaca sampai wanita itu offline kembali. Hal ini sudah berulang kali Mars perhatikan, jelas bukan sesuatu yang biasa.
Merasa tidak tahan lagi, Mars keluar dari ruangannya. Dia melangkah lebar menuju ke lift. Tujuannya adalah lantai paling atas departement store ini, di mana ruangan Freya berada.
"Eh eh eh, mau apa kamu?" Susi dengan cepat mencegah Mars yang hendak masuk sembarangan ke ruangan Freya. Meski dia tahu status keduanya, tetap saja hal ini tidak dibenarkan. Dia yang sudah dekat dengan Freya saja masih harus bersopam santun saat di kantor. Apalagi Mars yang cuma anak magang.
"Freya ada kan, Mbak?" tanya Mars menghentikan langkah karena Susi menghalanginya.
"Ya ada ... tapi lagi ada tamu di dalem." Susi tetap menutupi jalan Mars, dia cemas adiknya itu membuat kekacauan. "Kamu mau ngapain? Kalau masalah pribadi selesaikan di luar kantor, Mars. Kamu nggak lupa kan Freya itu CEO? Harus membuat janji untuk bertemu dia."
Mars menghela nafas yang terasa sesak. "Ada siapa di dalem?" desaknya.
Wajah Susi sedikit gelagapan. "Ya ... Ada. Seseorang. Kamu nggak perlu tau. Sudah sana kembali ke ruangan kamu," usir Susi.
Mars menatap pintu dan Susi bergantian. Fix, dia mencurigai kakaknya itu tau sesuatu. "Sekedar bertamu atau memang penting?" desaknya lagi.
"Mars, ini bukan urusan kamu."
"Jelas urusan aku, Mbak! Dia itu pacar aku!" teriak Mars.
Mata Susi melotot, bisa-bisanya Mars berteriak di sini. "Kamu udah gila, ya?" desisnya marah.
Mars benar-benar lelah. Sudah sejak lima hari yang lalu dia berada dalam kekalutan. Soal perginya Freya saat itu, bekas ciuman, batre ponsel, hingga ada cincin dengan ukiran nama Panji. Ditambah lagi akhir-akhir ini, Freya berubah. Kepalanya terasa mau pecah, dia stress memikirkannya.
✾ ✾ ✾
Pintu ruangan Freya tiba-tiba terbuka, persis setelah Panji keluar. Dia sedikit gelagapan karena Mars yang datang, wajah Pria itu begitu gelap sepertinya sedang marah.
"Itu yang namanya Panji Kusuma?" tanya Mars sinis.
Freya mencoba tidak terkejut, meski rasanya sulit. "I-iya. Dia investor terbesar di Oceana," jawab Freya gugup.
Mars mengangguk. "Pantes," ucapnya ambigu.
"Ka-kamu ngapain ke sini?"
"Emangnya nggak boleh aku nemuin kamu? Aku chat nggak dibales. Aku telepon nggak diangkat. Aku pikir ada apa-apa sama kamu," sindir Mars.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
