Chapter 16. Hadiah

1.1K 84 62
                                        

Hari ini Freya sangat sibuk, dia harus menemani salah seorang Investor terbesar di Oceana yang ingin melihat-lihat departement store. Hal ini memang biasa dilakukan secara rutin setiap tiga bulan sekali. Kebetulan, Oceana Mode Departement Store dan kantor pemasaran berada di gedung yang sama, sehingga setelah meeting mereka langsung ke lokasi pusat perbelanjaan itu.

"Aku merasa beruntung menanamkan modal di perusahaan kamu. Melihat bagaimana grafiknya selalu naik, sangat menyenangkan."

Freya tersenyum. "Semoga setelah project dengan Summerart berhasil, saham Oceana bisa semakin melonjak naik sesuai harapan kita," sahutnya optimis.

"Pasti, Freya. Di tangan kamu, semua yang terjadi selalu sesuai rencana. Nggak ada yang meleset."

Freya kembali tersenyum.

Panji Kusuma, dia adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses. Banyak yang mengincarnya sebagai Investor, karena bila sudah berinvestasi biasanya Panji tidak pernah tanggung-tanggung. Freya beruntung, sejak awal berdiri perusahaannya mendapat banyak bantuan dari Panji. Itu sebabnya, dia sendiri yang selalu turun tangan melayani pria mapan ini setiap kali datang berkunjung.

Langkah Panji terhenti saat melihat store perhiasan Oceana brand yang berkilauan. "Apa ini project baru yang kemarin bekerja sama dengan Diamond Xo?" tanyanya.

"Tepat sekali," jawab Freya. Dia mengulurkan tangan mempersilakan Panji melihat-lihat.

Panji berjalan mengitari lemari-lemari kaca yang berisi macam-macam mode perhiasan. "Waw, ini karya tanganmu, Freya?" tunjuknya pada salah satu kalung yang bertabur berlian mewah.

Freya tersenyum dan mengangguk.

"Mbak, boleh saya lihat?" tanya Panji pada salah seorang pegawai store itu.

Pegawai itu langsung membuka kunci lemari dan mengeluarkan kalung yang Panji minta. "Ini hanya diproduksi satu di dunia, Pak. Kelebihannya adalah kita memakai berlian dengan kualitas terbaik dan paling mahal di kelasnya. Warna merah muda pada liontinnya, akan terlihat semakin cantik untuk si pemakainya."

Panji terkesima. Kalung cantik itu sudah pasti berharga fantastis. Tidak perlu ditanya. "Apa sudah ada yang memesan kalung ini?" tanyanya.

"Kebetulan belum, Pak. Karena kalung ini baru akan kita launching secara resmi minggu depan," jawab pegawai itu lagi.

"Ambil aja, Ji. Buat pacar kamu," goda Freya.

Panji menatap Freya lekat, "kalau buat calon pacar, menurut kamu gimana?"

"Waw, aku yakin dia nggak akan nolak kamu," jawab Freya.

"Really?"

"Sure!"

Pegawai tadi pun tersenyum yakin. Ini adalah kalung yang harga dan kualitasnya tidak main-main. Wanita bodoh mana di dunia ini yang akan menolak pria yang menghadiahkannya kemewahan?

"So ..." Panji berjalan ke belakang Freya. Lalu tiba-tiba kalung itu dia lingkaran ke leher Freya. "Aku kasih ini buat kamu," bisiknya tepat di telinga Freya setelah kalung itu terpasang.

Freya tertegun. Dia menatap cermin, kalung desain tangannya sendiri yang dibuat dengan segenap hati dan mencurahkan seluruh perhatiannya di setiap detilnya, kini tersemat di lehernya. Bagai takdir memang telah mengatur, kebetulan hari ini Freya memakai blouse dengan kerah rendah dan rambut dicepol rapi.

"Cantik banget," bisik Panji.

"Panji, ini ..."

"Hadiah," potong Panji.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang