Chapter 14. Salah Pukul

1.1K 91 18
                                        

Mencintai itu mudah, yang sulit adalah bertahan.

✾ ✾ ✾

Hal baru lainnya yang Freya coba adalah diajak Mars makan di warung tenda pinggir jalan. Bukan hanya ramai oleh pemandangan kendaraan yang lewat, tetapi juga orang-orang yang makan di sana.

"Aku sering banget makan di sini, enak. Aku jamin kamu juga bakalan suka," ujar Mars meyakinkan.

Freya mengangguk, "we'll see ..." tantangnya. "You know lah selera aku cukup tinggi untuk urusan perut," tambahnya berbisik.

"Kalau nggak enak kamu boleh cium bibir aku sepuasnya," balas Mars berbisik.

"Mars!" Freya langsung salah tingkah memperhatikan sekitar. Tidak ada yang mendengar, syukurlah. Dia mencubit perut Mars dari bawah meja.

Mars terkekeh geli.

Makanan pun datang, Mie Ayam yang kata Mars paling enak se-Jakarta. Freya tidak masalah makan di pinggir jalan selama tempat dan penjualnya bersih.

"Suapan pertama," Mars menyodorkan satu lilitan mie di garpu ke mulut Freya. "Gimana?" tanyanya selagi wanita itu mengunyah.

"Not bad," ujar Freya dengan mulut yang masih tersisa kunyahan. Dibilang sangat enak, tidak terlalu. Tapi untuk takaran seleranya, ini sudah lumayan.

"Yah, aku pikir kamu bakalan bilang enak banget," sahut Mars agak kecewa. Dia mengelap bibir Freya yang berminyak dengan ibu jarinya.

"Lumayan kok ini, untuk ukuran warung pinggir jalan. Rasanya nggak sembarangan, bumbunya pas." Freya yang pintar memasak tentu tahu mana yang enak dan tidak.

"Next time, aku mau kamu ajak aku makan di tempat yang kamu suka," minta Mars sambil melahap Mie ayamnya.

"Oke."

Keduanya pun berbincang-bincang selama makan. Tentang film, Freya lebih suka action romantis, sementara Mars lebih ke Full thriller.

Setelah makan, keduanya jalan-jalan di taman tak jauh dari warung tenda tadi. Di sini, suasananya lebih ramai dibanding tempat mojok yang ada di dekat rumah Mars. Banyak keluarga yang membawa anak mereka menikmati kerlap-kerlip lampu taman.

"Duduk sini aja yuk," ajak Mars. Freya menurut, keduanya tetap berpegangan tangan.

"Kamu punya target menikah, nggak?" tanya Mars dengan serius.

Freya menggeleng.

"Santai ya?"

Freya mengangguk.

"Berarti aku ngikut kamu aja," ujar Mars lagi.

Freya tertawa, "kamu yakin banget kita bakal nikah emang?"

"Emang kamu nggak yakin?" tanya Mars serius, tidak merasa ini lucu.

Freya pun mencoba serius. "Ya ... kita, kan, nggak tahu apa yang terjadi di masa depan, Mars," ucapnya realistis.

"Tapi seenggaknya kita, kan, berusaha, Frey."

"Iya, aku tau. Tapi kalau terlalu berharap, nanti jatuhnya sakit."

Mars melepaskan tangan Freya, agak marah dengan ucapan wanita itu. Dia menoleh ke arah lain. "Kalau kamu nggak yakin sama aku, ya wajar sih."

"Apaan sih kamu," Freya menarik wajah Mars agar menatapnya. "Aku nggak bilang kayak gitu, ya."

Mars masih diam dengan wajah super datarnya.

"I'm serious with you. Kalau aku nggak serius, aku nggak akan ada di sini sama kamu sekarang. Aku bukan ABG yang mau iseng-iseng dalam berhubungan, Mars."

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang