Chapter 15. Kamar Mars

1.6K 115 50
                                        

Maaf kalau update-nya lama ya.

Selamat bertemu Mars dan Freya.

***

"Itu bukti perjuangan aku selama empat tahun, yang cuma bisa melihat kamu dari jauh aja. Diem-diem aku foto kamu, sampe sebanyak itu."

✾ ✾ ✾

"Karena Gio yang sakit, aku yang jadi korban." Shila mulai membayangkan ketika dirinya diungsikan ke rumah Oma, orang tuanya berbohong saat bilang kalau dirinya akan liburan di sana. Liburan yang tidak pernah kembali lagi setelah itu.

"Mungkin karena Gio emang lebih membutuhkan orang tua kamu saat itu, Frey. Kamu bisa bayangin nggak, kalau Gio yang diasingkan sementara dia lagi sakit? Nggak mungkin, kan?" Mars mencoba berdiri di pihak orang tua Freya.

"Terus gimana sama aku? Karena aku sehat, jadi dianggap nggak butuh mereka? Saat itu aku masih kecil, Mars. Harusnya mereka ..."

Mars memeluk Freya saat wanita itu menangis. Kedatangan Gio membuat Freya tidak bisa tidur, Mars menemani wanita itu untuk berbagi cerita. Mereka berbaring di dalam selimut yang sama, saling berpelukan.

"Aku ngerti perasaan kamu," bisik Mars dengan lembut. "Kamu kecewa, kamu merasa dibuang, aku ngerti."

"Selama bertahun-tahun aku harus hidup tanpa orang tua, Mars. Kemana mereka saat aku kangen? Mereka cuma mikirin Gio, nggak ada aku sama sekali."

"Itu nggak bener, Frey. Nggak ada Orang Tua yang nggak sayang sama anaknya. Mungkin tanpa kamu tahu, mereka pun sama menderitanya. Mereka pun merindukan kamu. Tapi kondisinya, harus ada yang diprioritaskan agar semuanya hidup. Kamu dan Gio, mereka mau kalian bahagia."

Freya terdiam. Terkadang, dia paham dengan tujuan orang tuanya melakukan ini. Akan tetapi, ada sisi lain dalam dirinya yang tidak puas dan marah, karena diperlakukan tidak adil seperti ini.

"Mereka memilih Gio, bukan karena nggak sayang sama kamu. Tapi karena saat itu, Gio yang lebih membutuhkan mereka. Kamu bisa hidup tanpa mereka, tapi Gio nggak akan bisa, Freya," bujuk Mars.

"Kalau gitu kenapa nggak aku aja yang sakit? Aku rela gantiin Gio, agar ..."

Mars membenamkan wajah Freya ke dadanya. "Nggak, Frey. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu."

Freya memeluk Mars semakin erat, dia memejamkan mata dan menangis. Setiap bertemu dengan salah satu dari keluarganya, entah itu Gio ataupun orang tuanya, Freya selalu merasa kenangan di masa lalu menghantuinya lagi.

Dia ketakutan.

Dia kesepian.

Dan itu sangat menyakitkan.

✾ ✾ ✾

"Mama senang sekali, akhirnya anggota keluarga kita lengkap," ujar Starla terharu. Biasanya, Freya hanya datang untuk melepas rindu, tidak sampai makan bersama seperti ini.

"Belum lengkap Ma, harusnya sekarang dia juga bawa pasangan. Kenapa cowok lo nggak dibawa? Biar bisa mukulin gue lagi," sindir Gio.

"Lo pernah denger ada yang mati tenggelam di danau akhir-akhir ini?" tanya Freya dengan serius.

Gio melotot. "Lo membunuh orang?!" sergahnya.

"Baru mau coba." Freya meminum jus sedikit lalu tersenyum jahat pada Gio, "Lo yang mau gue bunuh."

Tawa pun terdengar.

"Adik kurang ajar!" umpat Gio.

"Heh, kita cuma beda lima menit doang ya lahir ke dunia ini. Lagian harusnya gue yang keluar duluan, dasar lo aja minta dikasihani sok-sok sesak nafas."

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang