Kosong, sudah tidak ada apapun lagi. Andai hati bisa dibuat mudah seperti keadaan rumah ini, di mana bisa dikosongkan sehingga tidak terasa sesak. Tapi jangankan itu, beristirahat sejenak dari sakitnya saja tidak bisa.
✾ ✾ ✾
Life must go on, Freya berusaha untuk meneruskan hidupnya meski belum bisa sembuh dari luka. Dia kembali ke kantor, menyelesaikan yang tertumpuk akibat terlalu lama meninggalkannya. Sekarang, semua sudah tidak sama lagi. Susi pun sudah pergi, membuat Freya harus membangun hubungan baru dengan sekertaris barunya.
Tidaklah mudah, namun Freya tidak ingin menyerah.
"Selamat pagi, Bu." Elsha langsung berdiri begitu Freya datang dan menyapa dengan ramah.
"Pagi," jawab Freya sedikit disertai senyuman tipis. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan Elsha, sedikit ada canggung karena belum mengetahui sifatnya.
Elsha mengikuti Freya dari belakang sembari membawa beberapa proposal titipan serta berkas-berkas penting yang harus ditandatangani.
"Kamu taruh aja semuanya di meja, nanti saya periksa," suruh Freya.
"Baik, Bu." Elsha meletakkan tumpukan map itu ke atas meja. "Ibu mau minum apa pagi ini?" tanyanya.
"Kopi hitam dengan sedikit gula," minta Freya.
"Baik, Bu." Elsha keluar dari ruangan Freya.
Freya memeriksa satu persatu laporan pendapatan departement store yang sudah direvisi oleh bagian keuangan di kantornya. Kemarin saat dikirim ke email-nya, dia meminta revisi karena ada beberapa yang tidak dijelaskan secara terperinci.
Elsha datang kembali dengan secangkir kopi hitam. Dia meletakkannya ke atas meja Freya, "silakan kopinya, Bu."
"Makasih ya." Freya mengambil gelas kopi itu dengan mata yang terfokus pada laporan. Dia menyesapnya sedikit, lalu keningnya berkerut. Dipandangnya kopi itu sejenak, warnanya sangat pekat dan rasanya terlampau manis. Dia menoleh pada Elsha yang memamerkan gigi sejak tadi, ingin protes, tapi ...
Sudahlah, Elsha bukan Susi yang sudah paham seperti apa takaran kopi hitam kesukaannya. Sepertinya dia harus berhenti meminta kopi mulai dari sekarang. "Ya sudah, kamu boleh keluar."
"Baik, Bu." Elsha menunduk dan keluar dari ruangan Freta.
Freya meletakkan gelas kopi ke tatakan, lalu mendorongnya menjauh. Bila dia meminum kopi itu, sebulan lagi berat badannya akan seperti gajah bengkak dan terserang diabetes.
Ting.
Gio: Lo nggak lupa hari pernikahan gue, kan? Jangan terlambat.
Freya: Kenapa lo menikah di hari kerja? Dasar pengangguran.
Gio: Anjir, gue ini CEO sukses. Camkan itu!
Freya mendengkus dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Sebenarnya hubungan mereka perlahan membaik, Freya mulai mau membalas chat dan mengangkat telepon kembarannya itu. Apalagi setelah Gio menjadikan Shila sebagai pendamping, sosok yang lebih Freya sukai ketimbang mantan istrinya.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," suruh Freya.
Elsha masuk membawa sebuah kotak persegi panjang berwarna keemasan dengan pita besar di atasnya. "Bu, ini titipan dari Tim Produksi," berinya pada Freya.
"Makasih ya."
Elsha mengangguk dan berpamitan pergi.
Shila menaruh kotak berisi Sepatu limited edition brand Oceana yang akan dia berikan pada Shila besok. Berhubung calon kakak iparnya itu wanita yang baik, dia rela begadang hanya untuk mendesain model sepatu ini.
"Semoga lo suka, deh."
✾ ✾ ✾
Entah apa yang membawa Freya sampai ke sini, tempat yang sudah tidak dihuni lagi karena dijual oleh pemiliknya. Sebentar lagi, rumah sederhana yang menyimpan banyak kenangan ini akan dihancurkan oleh pemilik barunya untuk dibangun rumah yang lebih mewah.
Sudah satu bulan ini Freya mengetahui kalau Mars dan keluarganya pindah. Saat dia berniat meminta maaf kembali dan memiliki harapan lebih, nyatanya dia dihempaskan ke dasar bumi paling dalam. Mars pergi begitu saja, meninggalkannya dalam keadaan berdarah-darah. Tanpa pesan.
Tiba-tiba kenangan bersama Mars terlihat di depan mata, bermain-main dengan rasa rindu Freya. Langkah Freya pun maju mendekati rumah itu, ternyata tidak terkunci.
Freya masuk ke rumah kosong dengan menginjak debu-debu tebal di lantai. Kenangannya semakin terlihat jelas, di ruang tamu saat mereka sering makan berdua. Paling jelas adalah di dalam kamar Mars, di mana mereka sering diam-diam bermesraan.
Kosong, sudah tidak ada apapun lagi. Andai hati bisa dibuat mudah seperti keadaan rumah ini, di mana bisa dikosongkan sehingga tidak terasa sesak. Tapi jangankan itu, beristirahat sejenak dari sakitnya saja tidak bisa.
Freya menghela nafas panjang. Dia berbalik hendak pergi. Namun tiba-tiba sepasang suami istri masuk ke dalam rumah itu, membuatnya kaget sekaligus merasa tidak enak.
"Kamu siapa ya?" tanya wanita bersanggul tebal dengan kebaya kuno di tubuhnya itu.
"Ma-maaf Bu, saya cuma lihat-lihat. Ini tadinya rumah teman saya," ucap Freya tidak enak.
"Oh, ya tidak apa-apa kalau cuma mau lihat-lihat, toh nggak ada isinya juga ini rumah," sahut wanita itu sambil berkipas kepanasan.
Freya mengangguk dan hendak pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengarkan obrolan sepasang suami istri ini ...
"Papi tuh kenapa sih beli di daerah kumuh seperti ini? Kita itu keluarga Ningrat, masa iya akan tinggal di lingkungan yang tidak selevel," keluh wanita itu pada suaminya.
"Cuma rumah ini yang murah, Mi. Kamu kan tau kondisi keuangan kita sedang sekarat, ini lumayan untuk menghemat pengeluaran."
"Ya terus gimana dong pendapat teman-teman aku kalau main ke sini? Mobil saja masuknya susah," keluh wanita itu lagi.
"Ya sudah, Papi jual lagi saja rumah ini kalau begitu."
Brak!
Freya membuka kembali pintu rumah itu dengan cepat, membuat sepasang suami istri ini kaget karena ternyata dia masih di sana. "Maaf tadi saya nggak sengaja dengar rumah ini mau dijual lagi?"
"Iya benar. Kamu mau membelinya?" tanya wanita bongsor itu langsung mendekati Freya.
"Saya mau," jawab Freya langsung.
Wanita itu dan suaminya saling sikut. Suaminya melangkah lebih maju, "tapi harganya mahal, karena rumah ini cukup banyak peminatnya."
"Berapapun akan saya bayar," sahut Freya yakin.
Wajah wanita itu dan suaminya langsung berseri-seri. Mereka mengajak Freya membicarakan soal harga di luar, karena di dalam sangat panas. Tanpa bernegosiasi, Freya langsung setuju dengan harga yang ditawarkan.
Sepasang suami istri itu pergi dengan wajah cerah karena baru saja mendapatkan peruntungan. Besok, transaksi akan dilakukan di depan Notaris Freya.
Freya berbalik, menatap bangunan tua itu dengan bibir tersenyum. Setidaknya dia akan memiliki kenangan ini untuk seumur hidupnya.
"I miss you, Mars," ucap Freya begitu sesak.
Dia meninggalkan rumah itu dan kembali ke mobilnya. Dilihatnya jam di tangan yang sudah menunjukkan keterlambatan, dia harus bergegas ke pernikahan Gio dan Shila. Pasti begitu sampai, dia akan diomeli habis-habisan oleh Kakak yang lahir lebih dulu beberapa menit darinya itu.
Salah sendiri menikah bukan di hari libur!
✾ ✾ ✾
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansaUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
