"Selamat ulang tahun, Marcello Hakim. Aku harap dengan bertambahnya usia kamu hari ini, kamu semakin bahagia dan bisa meraih semua keinginan kamu."
✾ ✾ ✾
Mars menyetop taksi dan meminta untuk diantar ke Ex7 Hotel. Dia ingin mengambil motornya. Sepanjang perjalanan, dia benar-benar mengatup rapat mulutnya.
"Kerja di sana ya, Mas?" tanya Bapak supir taksi itu.
Mars diam saja, dia menoleh ke arah jendela dan menyaksikan rintik-rintik hujan membasahi bumi.
Taksi pun berhenti di depan lobi hotel, Mars memberikan uang sejumlah argo. Lalu dia turun begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa. Taksi pergi dan Mars masuk ke area parkiran.
Motor Mars terparkir di antara motor para karyawan hotel. Dari sini saja dia menyadari statusnya, karena seharusnya dia membawa mobil untuk terlihat pantas datang ke sini. Dia naik ke atas motor, memasang helm dan menyalakan mesin.
Mars suka kebut-kebutan, terutama saat pikirannya kalut. Dia tidak perduli pada resiko kecelakaan yang mencintai, karena rasanya tidak ada yang lebih mengerikan dari kejadian tadi.
Begitu sampai di rumah, Susi langsung mendatangi Mars dan melempar berbagai macam pertanyaan tentang Freya. Namun tidak satu pun jawaban keluar dari mulut Mars. Pria itu berlalu begitu saja ke kamarnya.
"Kenapa dia?" tanya Utari cemas. Tidak biasanya Mars benar-benar mengabaikan mereka berdua seperti ini.
"Nggak tau, Bu," jawab Susi.
Mars menutup pintu kamarnya, tepat di saat itu kakinya terkulai tak berdaya di balik pintu. Dia terduduk, menangis tanpa suara karena tak ingin membuat Ibu dan Kakaknya bertambah khawatir.
Potongan-potongan adegan di dalam video tadi seolah sedang bermain dalam kepala Mars. Terus berputar, berulang-ulang tanpa henti.
"Bisa-bisanya kamu bersikap seolah nggak ada apa-apa setelah itu, Frey. Bahkan sedikit pun kamu nggak merasa bersalah dan terus sembunyikan kebohongan itu." Mars menekan keningnya yang terasa pening dengan telapak tangannya. Tubuhnya terguncang, bergetar akibat isak tangis yang tertahan.
Mars kemudian berdiri, dia menoleh ke atas melihat foto-foto Freya yang masih melekat di langit-langit kamarnya. "Aku udah nggak punya hak simpen ini lagi," katanya sambil menarik tangga lipat yang disimpan di bawah dipan.
Mars mengikis ujung plastik di sudut, lalu sekuat tenaga dia tarik hingga semua yang tertempel di atas sana ikut terlepas. Dia berpindah ke sudut lainnya dan melakukan cara yang sama. Hingga rangkaian foto itu terlepas. Langit-langit kamar Mars kembali polos.
Tok. Tok. Tok.
"Mars, Mbak boleh masuk?" tanya Susi dari luar. Tanpa menunggu persetujuan Mars dia mendorong pintu ke dalam dan melongokan kepalanya. Melihat kekacauan di kamar itu, dia pun terkejut.
"Mars, ada apa? kenapa fotonya kamu lepas?" tanya Susi. Mars tengah meremas kolase foto itu, seperti ingin dihancurkan.
"Mbak tau soal hubungan Freya dan Panji?" tanya Mars dengan mata tajam dan terluka.
Susi tersentak. Dia sudah menduga, memimta Mara menyelamatkan Freya sama saja dengan membongkar segalanya. "Mars ..."
"Kenapa Mbak rahasiakan dari Aku?"
"Mbak bingung, Mars. Kamu sangat mencintai Freya, kalau Mbak kasih tau soal itu kamu pasti akan terluka."
"Aku lebih terluka setelah terlambat tahu semuanya, Mbak!" sentak Mars. "Apa Mbak nggak tau gimana malunya Aku saat tahu kenyataannya di depan Panji? Dia memperjelas bagaimana perbedaan status kami, Mbak."
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansaUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
