Chapter 23. Mendapatkan Kembali

687 68 8
                                        

Cara paling benar untuk membuat pasanganmu semakin mencintaimu adalah dengan mendekati orang-orang yang dicintainya.

✾ ✾ ✾

Freya sakit hati?

Terluka?

Tidak!

Dia justru tersenyum lega sepanjang jalan keluar dari hotel itu. Selama ini bagai ada sumbatan tidak nyaman di dada, tapi sekarang sudah benar-benar plong.

Freya baru sadar, kalau cinta ala orang dewasa itu rumit. Semua dijadwalkan dan tersusun rapi, seperti kapan harus mengirim bunga, jadwal dinner, apa saja yang dipersiapkan untuk berkencan, semua itu seakan sudah ada porsinya masing-masing sehingga dia tidak begitu terkejut saat Panji melakukannya.

Berbeda dengan mencintai seperti yang Mars ajarkan, di mana hati siap terkejut kapan saja. Berdebar-debar, hingga bergejolak hebat di perut. Rasanya meledak-ledak. Konyol sih, di usianya ini dia malah seperti remaja belasan tahun. Tapi ... Freya lebih suka yang ini.

Freya menginjak gas lebih dalam agar cepat sampai di rumah Mars, dia sudah tidak sabar ingin melampiaskan rindu pada kekasihnya itu. Sebelum sampai, Freya lebih dulu membeli Mie Ayam di warung tenda kesukaan Mars, kebetulan dia juga lapar.

Mobil pun sampai di depan rumah sederhana yang warna cat-nya sudah pudar dan ada yang mengelupas. Meski tidak semewah apartemennya atau rumah orang tuanya, Freya selalu merasa damai di sini.

"Kenapa gue jadi deg-degan gini sih?" ujar Freya memegangi dadanya. Nafasnya terasa berat di dada, efek berdebar yang berlebihan.

Freya baru saja mengangkat tangan ingin mengetuk pintu berbahan triplek itu, tiba-tiba sudah terbuka dan Mars berdiri di sana. Keduanya terpaku dalam tatap terkejut.

"Mau ngapain ke sini? Mbak Susi di kantor," ujar Mars datar. Dia paling cepat bisa menguasai diri dari rasa terkejut, mengingat Freya yang ingin dia menjauh.

"Aku ke sini cari kamu," beritahu Freya.

Mars diam saja. Dia masuk ke dalam, Freya pun menyusulnya. Seperti tamu, Freya diajaknya duduk di sofa ruang tamu. Duduknya pun di kursi yang cukup untuk satu orang sehingga Freya duduk di kursi lain.

"Aku bawain Mie ayam," beritahu Freya sambil meletakkan bungkusan itu ke atas meja.

"Makasih," jawab Mars tetap datar.

"Kamu marah sama aku?" tanya Freya.

"Nggak," jawab Mars singkat.

Kata-kata yang Freya rangkai untuk disampaikan pada Mars lenyap begitu saja. Sikap Mars yang dingin membuat tenggorokannya kering. "A-aku boleh ambil minum sendiri?" tanyanya. Sejak tadi Mars tidak menawari minum dan dia sedang kehausan akibat terlalu gugup.

Mars mengangguk.

Freya segera berdiri dan masuk dapur. Dia butuh bernafas, melihat Mars yang seperti itu membuat dadanya sulit dikendalikan. Ini sih namanya seperti sedang pedekate, memalukan sekali.

Prang!

Saat mengambil gelas di rak, tiba-tiba saja terjatuh dari tangan Freya. Dia memekik kaget, gelas itu nyaris mengenai kakinya.

Mars datang dengan wajah panik, dia langsung menoleh ke bawah dan melihat pecahan beling di dekat kaki Freya. Dengan cepat, didekatinya Freya dan memegang tangan wanita itu agar menjauh. "Kamu nggak papa?" tanyanya khawatir.

"Nggak." Freya menggeleng. Jantungnya kian berdebar, bukan karena jatuhnya gelas itu, melainkan sentuhan Mars.

"Beneran nggak papa?" ulang Mars sambil mengecek kaki Freya.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang