Chapter 32. Saling Merindu (Free)

416 48 5
                                        

Kamu udah move on sekarang, sementara aku masih stuck di sini dan nggak tau sampe kapan

✾ ✾ ✾

Malam ini Freya kesulitan untuk tidur, sosok Mars muncul seenaknya setiap kali dia memejamkan mata. Berbagai cara sudah dicoba, mulai dari memakai penutup mata seperti kebiasaan lamanya, mematikan lampu atau yang paling ekstrim meminum pil tidur. Tapi sepertinya, Mars tidak ingin membiarkannya terlelap.

"Arrghh!" Freya mengerang frustasi, dia duduk dan memijat keningnya.

Momen ketika wanita itu merangkul lengan Mars, terus terbayang di kepala Freya. Sulit sekali menghapusnya, dia terlampau cemburu.

Come on, Freya, Mars udah move on dari lo. lupain dia atau lo akan hidup sendirian selamanya.

Freya turun dari ranjangnya. Dia mengambil outer tebal selutut untuk musim dingin dan memakainya. Lalu kunci mobil dan ponsel. Ini sudah tengah malam, akan tetapi Freya ingin mencari udara segar.

Sejak tidak mempekerjakan seorang supir lagi, kini Freya lebih merasa bebas kemana pun dia pergi. Seperti saat ini, gilanya dia ingin ke rumah Mars yang telah dibelinya itu.

Rumah itu telah Freya renovasi. Tidak banyak, hanya memperbaiki bagian yang sudah rapuh dan menggantinya dengan yang baru, seperti pintu dan jendela yang tadinya hampir terlepas oleh ulah tangan-tangan jahil saat rumah ini kosong. Keadaan di dalamnya telah bersih, ada beberapa furniture juga. Serta pagar, agar tetap aman.

Freya hidup dalam kenangan yang ada di rumah ini. Dia selalu merasa damai di sini, seperti menghadirkan kembali sosok-sosok yang dirindukan.

Kamar Mars, telah dikembalikan seperti semula, meski perabotannya tak lagi sama. Hanya saja, bagian langit-langit kamar telah tertempel foto kebersamaan mereka, seperti halnya yang Mars lakukan dulu.

"Kamu udah move on sekarang, sementara aku masih stuck di sini dan nggak tau sampe kapan," ujar Freya sambil memandangi foto-foto itu.

Freya memandangi satu persatu foto di atas sana. Berisi banyak kenangan. Meski kebanyakan diambil secara candid karena Freya tidak suka difoto, hasilnya justru bagus. Natural.

"Aku kangen kita yang dulu, Mars. Kita yang nggak bisa jauh meskipun cuma sebentar. Kita yang nggak bisa marahan lama-lama. Aku kangen sama kamu."

Begini rasanya merindu, Freya sampai sesak nafas menahannya. Sakitnya tidak berdarah memang, tapi lukanya menganga besar di hati.

"Sekarang semua udah berubah. Kita berpisah dan marahan sampai selama ini, saat bertemu ternyata semua udah nggak sama lagi. Kamu udah bahagia sama yang lain," ucap Freya miris.

Freya memeluk guling, terasa dingin sekali malam ini.

"Aku harus gimana, Mars? Move on, juga? Karena harapan untuk kita kayak dulu lagi udah nggak ada."

"Kamu bahagia kan sekarang, Mars?"

"Udah move on, kan?"

✾ ✾ ✾

Pagi-pagi sekali, sebelum pergi bekerja Mars mampir ke rumah lamanya. Sudah lama sekali dia tidak ke sini, dia pikir rumah lamanya telah dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru, tapi ternyata belum. Hanya terlihat sedikit renovasi dan tambahan pagar keliling.

Mars rindu, pada semua yang pernah terjadi di rumah ini.

Kenangan tentang masa kecilnya.

Ayahnya.

Ibunya.

Dan juga Freya sebagai penutup segala kenangan itu.

Andai dulu Mars tidak memutuskan untuk pindah, mungkin semuanya tidak akan berubah jauh seperti sekarang. Hubungannya dengan Freya bisa saja membaik kembali saat itu.

Menyesal? Percuma karena sekarang Freya sudah punya kehidupan sendiri.

"Kamu Mars, anaknya Utari, kan?" tanya seorang Ibu-Ibu yang mendatangi Mars.

"Iya, Tante, benar. Hehehe." Mars menggaruk kepalanya, dia masih ingat pada wanita ini, tetangganya yang berada tak jauh dari rumah ini dan sering memesan jahitan pada Ibunya.

"Ya ampun, kamu sekarang beda banget, Mars. Tante sampe pangling. Lihat penampilan kamu, sudah seperti Boss muda," puji wanita itu.

"Hahaha, Tante bisa aja."

"Oh iya, apa kabar Ibu kamu? Sejak dia nggak ada, Tante jadi pindah-pindah langganan jahit, karena nggak ada yang cocok. Tangan Ibu kamu itu memang punya kekuatan magic, hasil jahitannya selalu saja bagus."

Mars tersenyum sendu. Sedikit bersyukur karena kebaikan Ibunya ternyata membekas di ingatan tetangga. "Ibu udah meninggal, Tante," beritahunya.

"Hah?! Innalillahi, kapan Mars? Sakit apa?" Wanita itu nampak sangat terkejut.

"Sekitar lima bulan yang lalu, Tante. Baru ketahuan kalau ternyata selama ini Ibu mengidap kanker."

"Ya ampun, Tante turut berduka cita, ya, Mars." Wanita itu terlihat sangat sedih dan kehilangan. Matanya berkaca-kaca, mungkin teringat pada sosok Utari kala masih hidup.

Mars tersenyum dan mengangguk. Meski sedih, dia sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Ibunya sudah tenang di alam sana, menyusul Ayahnya yang sudah lebih dulu pergi. Meski satu hal yang masih menjadi sesal Mars, semasa hidup Ibunya ingin melihat dia menikah tetapi tidak kesampaian.

"Oh iya Tante, apa rumah ini sudah ditempati sama pemiliknya?" tanya Mars.

Wanita itu menggeleng. "Jarang Mars, datang dan pergi aja. Pemiliknya udah beda sekarang, bukan Jeng Sastro yang kemarin beli rumah kamu."

"Oh, udah dijual lagi Tante?"

Wanita itu mengangguk. "Kayaknya sih yang beli orang kaya, kalau dia dateng mobilnya bagus. Tapi Tante nggak tau siapa, nggak pernah main-main keluar soalnya."

Mars pun mengangguk.

"Ya sudah, Tante mau ke pasar dulu, ya. Main-main ke rumah kalau ada waktu senggang."

"Iya Tante, makasih."

Mars masih berdiri di depan pagar rumah itu. Setelah dirasa cukup, dia pun meninggalkan tempat itu dan masuk ke mobilnya.

✾ ✾ ✾

Ahhh... ini mereka jadinya salah paham kan, mikir udah pada move on padahal nyatanya belum.

Gemes gak sih?

Beli ebooknya aja yuk biar ga greget nungguin update-nya.

Apalagi ini setelah tamat akan dihapus, jadi ga bisa baca ulang.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang