Chapter 36. Mars Salah Menduga

237 44 1
                                        

Terkadang, apa yang kau lihat belum tentu seperti apa yang kau pikirkan.

✾ ✾ ✾

Mars membawa Freya ke rumah sakit, saking cemasnya dia tidak mau disuruh menunggu di luar saat dokter ingin memeriksa wanita itu. Mars sampai berbohong dengan bilang kalau Freya adalah istrinya.

Namun tak hanya Mars, Freya pun ingin pria itu di dekatnya. Selama dokter mengobati kakinya, dia berpegangan pada tangan Mars karena kesakitan.

Mars memeluk Freya, membenamkan kepala wanita itu ke dadanya. Bisa dia rasakan tubuh Freya bergetar akibat rasa sakit saat dokter mengobati kakinya. Diusapnya kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.

Di tengah rasa sakit, Freya mencium aroma maskulin yang masih sama. Dia merindukan ini, teramat sangat. Saat dirasakannya bibir Mars menempel di puncak kepalanya, Freya merasakan sesuatu yang hangat luar biasa.

"Gimana, dok?" tanya Mars cepat.

"Syukurlah, pertolongan pertama yang Bapak lakukan sangat membantu. Luka bakarnya memang agak berat, mungkin butuh waktu dua sampai tiga minggu untuk sembuh. Sementara luka lecetnya tidak masalah, hanya goresan ringan akan sembuh dalam beberapa hari. Tapi untuk bagian memar di jari, bisa jadi akan bengkak."

Mars mendesah, ini gara-gara pegawai coffee shop yang ceroboh tadi. Kalau saja tidak memikirkan nasib pegawai itu yang mungkin akan kehilangan pekerjaan, sudah dia maki-maki untuk melegakan pikirannya.

"Saya akan resepkan salep untuk luka bakar dan obat yang harus diminum rutin. Perbannya juga harus diganti rutin, ya, Bu Freya."

Freya menoleh pada dokter dan mengangguk. Dia menoleh pada kakinya, bagian atas jari-jarinya yang terkena luka bakar sudah diperban.

"Kalau dalam beberapa hari ke depan rasa nyerinya masih terasa, sampai menyebabkan demam, Mbak bisa temui dokter kembali. Tapi semoga saja tidak terjadi," saran dokter itu dengan ramah.

"Baik, dok, terima kasih."

Mars pun diminta menyelesaikan administrasi dan menebus obat, meski rasanya dia tidak ingin meninggalkan Freta barang sedetik pun.

Mars kembali dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran. Dia berlarian tadi, tidak sabaran ingin menemui Freya lagi. "Aku udah tebus obatnya, kita pulang."

Freya mengerutkan keningnya, "Kamu kenapa ngos-ngosan gini?" tanyanya bingung.

"Hah?" Mars masih menormalkan nafasnya, lalu menggeleng. "Udah siap pulang?"

Freya mengangguk.

Freya tidak bisa berjalan dulu, sehingga harus menggunakan kursi roda sampai ke mobil. Sebenarnya dia tidak semanja itu, masih bisa pelan-pelan melangkah meski pastinya akan sakit. Hanya saja, Mars begitu memanjakan. Begitu sampai di mobil pun, Mars menggendongnya masuk.

Mars memegang kendali setir mobil Freya itu, dia terbiasa karena dulu mobil ini memang sering dibawanya. Bahkan tidak ada yang berubah, termasuk varian pengharum mobil yang masih sama.

"Kita mau pulang ke mana?" tanya Mars lebih dulu.

"Ke Pondok Indah, Mars."

Pondok Indah?

✾ ✾ ✾

Rasa penasaran Mars terbayarkan saat mobil yang dibawanya berhenti di depan rumah mewah bertingkat dua. Baginya Freya sudah menikah, jadi wajar saja tidak lagi tinggal di Apartemen. Pria yang menikahinya itu memberikan rumah semewah ini, lucu sekali bila Mars masih berharap.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang