"Jadi, kita balikan nih?" tanya Mars tercengir.
"Ck! Kebiasaan dari dulu nggak pernah nembak, tau-tau udah jadian aja," protes Freya.
"Kita bukan anak kecil lagi main tembak-tembakan. Nggak usah alay," sahut Mars minta dijitak. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Freya. "Pacaran orang dewasa itu gini caranya," ujarnya sembari menciumi telinga Freya.
Sekujur tubuh Freya merinding dicium seperti itu oleh Mars, kini lehernya yang jadi sasaran. Terasa ada sengatan kecil di beberapa titik, membuat Freya menggigit bibir bawahnya karena efek geli.
Setelah itu, barulah ciuman beralih ke bibir Freya lagi, melumatnya begitu dalam dan penuh penekanan.
Mars berhenti beberapa menit setelahnya, dia menatap dengan senyum geli pada leher Freya. "Aku udah tandain kamu, itu artinya kita resmi berpacaran." Wajah jahilnya itu terlihat puas sekali.
"Kamu apain?" Freya mengusap lehernya yang basah.
"Bikin lukisan," jawab Mars santai. Dia merebahkan tubuhnya telentang di samping Freya.
Freya lupa kalau kakinya sakit, dia pun berniat turun dari ranjang untuk melihat cermin. "Ahh!" jerit Freya begitu kakinya menginjak lantai.
Mars refleks bangun dan melompat dari ranjang. "Kenapa sih selalu ceroboh gini?" marahnya. Pelan-pelan diangkatnya kaki Freya ke atas ranjang lagi.
Freya mengulum senyum, "Berasa dejavu nggak sih, Mars? Dulu kaki aku sakit, kamu juga sepanik ini. Sekarang, sama aja nggak berubah."
"Dan kenapa selalu kaki kamu yang jadi perantara buat bikin kita deket?" tanya Mars begitu takjub.
"Iya juga ya," sahut Freya membenarkan.
Keduanya tertawa geli.
"By the way, Ibu sama Susi apa kabar? Aku kangen sama mereka," tanya Freya.
"Mbak Susi baik. Udah nikah dia, punya anak juga."
"Hah, serius?" Freya kaget sekaligus senang.
Mars mengangguk. "Kalau Ibu, udah meninggal Frey."
Senyum Freya seketika lenyap. "Apa? Kok ... kapan?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Sekitar lima bulan yang lalu," jawab Mars sedih. "Abis Shalat subuh Ibu pingsan, kita bawa ke rumah sakit. Setelah berbagai test, baru ketahuan kalau Ibu kena Kanker getah bening. Satu bulan dirawat, Ibu menyerah sama penyakitnya." Mata Mars memerah, dia selalu ingin menangis bila ingat perjuangan Utari melawan penyakitnya.
Freya memeluk Mars dari samping. "Aku tau kamu pasti sedih banget, tapi Ibu pasti bahagia di sana. Ibu orang yang baik, Allah pasti menempatkan beliau di tempat yang terbaik."
"Amin," sahut Mars. Dia mencium puncak kepala Freya. "Ibu pasti seneng banget, karena sekarang kamu udah kembali sama aku."
"Oh ya?"
"Kamu tau, nggak, semasa hidupnya Ibu selalu nanyain kamu. Katanya, Freya apa kabar ya, Ibu kangen. Terus bilang, kamu kenapa nggak baikan aja sama Freya, dia cocok buat kamu. Pokoknya Ibu tuh selalu berharap kita ini berjodoh."
Freya tersenyum sedih, "Aku nggak nyangka Ibu segitu sayangnya sama aku."
"Ibu bisa menilai mana yang emang baik dan nggak, Frey. Bagi Ibu, kamu itu baik banget."
Freya memeluk Mars semakin erat, dia membenamkan kepalanya ke pundak pria itu. "Semoga sekarang Ibu makin bahagia lihat kita udah sama-sama lagi."
"Pasti."
✾ ✾ ✾
Suara Alarm jam enam pagi memecah keheningan, sepasang manusia yang tengah berpelukan dalam lelap itu sama-sama menggeliat dari bawah selimut. Semalam, mereka tidur di atas ranjang yang sama, menghabiskan berjam-jam waktu untuk bercerita dan bercumbu mesra.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansaUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
