Rindu adalah cara manusia mencintai dari jarak yang jauh.
✾ ✾ ✾
Pagi yang terombang-ambing di atas lautan lepas, Freya berdiri di pinggiran kapal menatap debur ombak yang berbuih. Dia sulit tidur semalaman, banyak yang dipikirkannya. Kapal mewah ini akan berlabuh nanti malam dan mereka akan kembali ke Jakarta.
"Hei, good morning ..." sapa Panji sembari memeluk Freya dari belakang.
Freya tersenyum.
"Bagaimana tidurmu, Frey?"
"Aku nggak biasa tidur di atas air, so ..."
Panji tergelak. "Ya, pelan-pelan. Kamu harus biasakan diri nanti, karena setelah kita menikah, aku akan mengajakmu berkeliling dunia dengan kapal ini."
Freya tidak bereaksi apa-apa. Tawaran itu memang sangat berkelas dan menjanjikan kemewahan dunia.
Panji mencium leher Freya, mengecup mesra di banyak tempat. "I want you," bisiknya dengan suara serak.
Tubuh Freya berdesir, Panji mencoba memancing hasratnya pagi-pagi. Saat pria itu berniat mencium bibirnya, Freya lagi-lagi menolak. "Jangan terburu-buru," ujarnya melepaskan kedua tangan Panji yang melingkar di pinggang.
Panji terkekeh sembari menggaruk kepalanya. "Sorry. Sulit sekali menahan diri saat bersamamu," jujurnya.
Freya tersenyum, "apa kamu menyiapkan sarapan?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Of course, sudah disiapkan."
Panji menggandeng Freya masuk ke dalam kapal. Dia diajak ke ruangan makan yang begitu mewah. Berbeda dengan tempat dinner tadi malam, ini lebih tertutup.
"Panji, kamu terlalu memanjakan wanita," keluh Freya.
"Hahaha. Bukankah wanita suka dimanjakan?"
Freya mencebik dan mengangguk. "Sebagian," jawabnya kemudian.
"Kalau kamu?"
"Di waktu tertentu mungkin aku suka, seperti sekarang. Ini momen yang pas karena aku emang lagi butuh refreshing."
"Aku beruntung kalau gitu."
Keduanya tersenyum.
Berlayar dengan kapal mewah yang menyediakan fasilitas lengkap kelas atas, tentu tidak membosankan. Freya memanjakan dirinya di Jacuzzi dengan bikini super sexy yang disediakan oleh Panji. Harapan Panji yang ingin berendam bersama pun kandas, karena Freya meminta privasi. Beruntungnya, pria itu memang bukan pemaksa.
Setelah puas berendam, Freya kembali ke kamarnya. Siapa sangka, Panji ada di sana menunggunya.
"Buat menghangatkan diri," kata Panji mengangkat sebotol wine untuk mereka minum bersama.
Freya tersenyum kikuk, dia hanya mengenakan bathrobe basah yang tembus pandang saat ini. Sudah pasti, lekuk tubuhnya terlihat di mata Panji. Meski masih mengenakan bikini two piece, tetap saja Freya merasa kurang nyaman.
Lihat, Panji mendekati Freya.
"Apa kali ini kamu juga akan menolak, Frey?" tanya Panji sambil tangannya menarik pinggang Freya mendekat padanya.
"Panji ..."
"Kita sudah dewasa, kan? Memangnya kamu nggak mau ..." Panji menarik tali bathrobe Freya sampai terlepas.
Sekali lagi, Freya normal. Panji bukanlah pria yang mudah ditolak, akal sehatnya terasa mati setiap kali disentuh dengan cara sesensual ini.
Bathrobe itu jatuh di ujung kaki Freya. Panji memandangi keindahan terbungkus warna hitam itu dengan bola mata menggelap. "Please ... jangan tolak aku lagi," bisik Panji menciumi telinga Freya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansaUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
