Chapter 29. Diabaikan

370 48 16
                                        

Untuk kesekian kalinya hatiku patah saat kamu menatapku saja tidak mau.

Sebenci Itu kan kau padaku? Hingga untuk melihatku saja kau tidak sudi.

✾ ✾ ✾

Ini adalah hari yang penting untuk Mars, dia akan resmi menyandang status sebagai Sarjana Muda dalam bidang Arsitektur. Kerja kerasnya selama ini akan terbayarkan, apalagi dia menjadi lulusan terbaik di Tahun ini.

"Berikut kami panggilkan lulusan Program Arsitektur jenjang Sarjana, berpredikat Cum Laude dengan IPK empat koma nol."

"Marcello Hakim, S.Ars."

Semua bertepuk tangan menyambut berdirinya Mars saat namanya dipanggil. Pria tampan itu makin berkarisma dengan pakaian wisuda di tubuhnya.

Utari dan Susi berdiri bangga, bertepuk tangan dengan semangat. Keduanya bangga pada Mars yang mampu survive di tengah kesulitan ekonomi keluarga mereka.

"Ibu bangga sekali sama adik kamu, Sus. Dia bener-bener hebat," puji Utari menitikkan air mata.

"Iya Buk, Mars memang keren," jawab Susi tak kalah kagum. "Aku aja yang udah belajar sungguh-sungguh nggak bisa dapetin Cum Laude."

Mars turun dari panggung, tersenyum pada para lulusan yang bertepuk tangan. Tanpa sengaja, matanya melihat keberadaan Freya yang berdiri di belakang, tersenyum ke arahnya. Jantung Mars berdebar keras, ingin rasanya dia berlari memeluk wanita itu saking rindunya. Tetapi kesadarannya mengingatkan kalau mereka sudah tidak memiliki hubungan. Maka mengeraskan hatinya, Mars berpaling. Dia duduk kembali di tempatnya semula, melanjutkan prosesi Wisuda selanjutnya.

"Mars, ini pertama kalinya Mbak mau muji, keren banget kamu," ujar Susi menepuk pipi Mars.

"Ibu bangga, Mars, kamu menunjukkan kepada semua orang kalau Ibu berhasil mendidik kamu dengan baik. Terima kasih," timpal Utari.

Mars menanggapinya hanya dengan tersenyum. Pikirannya terusik oleh keberadaan Freya, ingin sekali rasanya menoleh memastikan wanita itu memang ada di sana, bukan halusinasi semata.

Berjam-jam akhirnya prosesi Wisuda pun selesai. Semua Lulusan berebutan keluar gedung untuk berfoto-foto. Mars dan keluarganya menunggu sampai keadaan tidak ramai lagi. Berbagai ucapan selamat dilayangkan kepada Mars dari Lulusan perempuan yang melewatinya.

"Ternyata kamu punya banyak fans," goda Susi.

"Anak Ibu kan ganteng, pasti banyak fans-nya lah," bela Utari. "Udah ayok, kita harus bikin syukuran kecil-kecilan bagiin nasi kotak ke tetangga."

Ketiganya lantas berdiri. Saat berbalik, Freya sudah berdiri membawa sebuket bunga kelulusan. Utari dan Susi saling sikut. Sementara Mars diam saja.

"Freya, kamu dateng?" Sapa Utari sambil memeluk wanita itu. Dia bingung harus mengatakan apa, takut berlebihan sehingga membuat Mars tidak nyaman.

"Iya Bu," jawab Freya dengan senyum ramah.

Susi tersenyum, Freya pun membalas dengan senyuman. Lalu setelah itu, Utari dan Susi lebih dulu melangkah pergi saling tarik-menarik.

"Mars ini ..." Saat Freya mengangkat bunga hendak memberikannya pada Mars, Pria itu malah lewat begitu saja. Tanpa sengaja pundak mereka bersenggolan, menyebabkan bunga yang Freya pegang jatuh ke lantai.

Mars bahkan tidak menyapa.

✾ ✾ ✾

Freya berdiri mematung dengan posisi tangan seakan masih memegang bunga. Mars meninggalkannya sebelum dia sempat mengucapkan selamat.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang