Saat hati ini dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, maka tubuh ikut bekerja sama dalam menerima rasa sakitnya.
✾ ✾ ✾
Sejak beberapa hari ini perasaan Starla sudah tidak enak, dia gelisah dan sulit untuk tidur nyenyak. Sekarang, alasan di balik itu semua ada di depan mata. Putrinya satu-satunya, sedang demam tinggi.
"Kenapa kamu nggak pernah hubungin Mama untuk hal sepenting ini, Frey? aku ini masih Mama kamu, jangan lupakan itu," ujar Starla berkeluh kesah.
Freya menggigil kedinginan, suhu tubuhnya benar-benar tinggi saat Starla menemukannya tidur di atas lantai marmer yang dingin. Saat ini mereka sedang menunggu dokter datang, karena Freya tidak mau diajak ke rumah sakit.
Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Freya. Awalnya Freya sempat menolak, tetapi karena kondisinya lemah dia jadi tidak melakukan perlawanan. Ketika dokter menyuntiknya, dia diam saja seakan jarum itu tidak terasa apa-apa saat menembus kulitnya tadi. Dokter Anita menggelengkan kepala, lalu mendesah.
"Gimana, An?" tanya Starla cemas.
"Freya harus di-opname, Star. Dia membutuhkan banyak cairan dan perawatan yang lebih di rumah sakit. Udah berapa hari kamu nggak makan, Frey?" tanya Anita mengamati wajah pucat Starla dengan teliti.
"Aku nggak papa," jawab Freya lemah.
"Sekarang kamu emang merasa nggak papa. Tapi besok? kalau kamu terus seperti ini, kondisi kamu akan semakin memburuk."
"Frey, mau ya dirawat? nanti Mama yang akan jaga kamu di rumah sakit," bujuk Starla sembari mengusap kening putrinya itu.
Freya menepis tangan Starla. Rasa dingin yang tadi menyerang sudah mulai menghilang. Tubuhnya sedikit lebih baik setelah diberikan suntikan. "Cukup kasih aku banyak obat, Tante, khususnya anti depresan."
Anita dan Starla terkejut mendengarnya. "Kamu sudah lama berhenti minum itu, Frey. Kenapa minta itu?" tanya dokter Anita penuh selidik.
"Aku membutuhkannya sekarang atau mungkin untuk selamanya."
"Frey ..." Starla memegang lengan Freya. "Obat-obatan itu nggak baik dikonsumsi setiap terus menerus, kalau kamu ada masalah mending cerita ke Mama."
Freya tersenyum sinis. "Mama kayaknya lupa ya, siapa yang menjadi penyebab aku mulai mengkonsumsi anti depresan? saat itu Mama di mana?" tanyanya.
starla menatap Freya lemah, dia tidak bisa berdebat untuk hal-hal yang selalu disesalinya itu. Dia cuma bisa menangis setiap kali Freya selalu menyalahkannya. Sekeras apapun Starla mencoba memperbaiki keadaan, Freya tetap menutup kemungkinan untuk berdamai.
Anita yang sudah sejak lama menjadi dokter pribadi keluarga Freya, juga tau seperti apa kondisinya. Dia pun tidak bisa banyak menasehati Freya, karena luka di hati wanita itu memang sulit disembuhkan. "Ya sudah, Tante akan resepkan obat untuk demam kamu. Tapi kamu harus tetap diinfus dan istirahat di rumah."
Freya diam saja, dia memang tidak berminat kemana-mana. Tangannya mulai dipasangi infus.
"Ingat ya, Frey, kamu harus istirahat. Setiap enam jam Tante akan datang untuk mengganti infus kamu. Jadi, Tante mohon sama kamu jadilah pasien yang penurut. Kamu nggak mau kan dibawa paksa ke rumah sakit?"
Freya hanya menganggu pelan.
"Untuk obat anti depresan, Tante nggak bisa kasih. Kamu harus melewati berbagai konseling kejiwaan kalau membutuhkannya," ujar Anita lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm the Boss
RomansaUpdate setiap Senin Freya Oceana, pemilik Departement Store "Oceana Mode" yang hanya menjual brand-brand ternama Oceana, ciptaannya sendiri. Dia cantik, sukses di usia muda, namun sangat payah dalam kisah cinta. Banyak yang mengejarnya, mulai dari P...
