Chapter 40. I'll kill you, seriously!

208 36 1
                                        

Cinta tidak menghitung berapa banyak yang biasa Ia dapatkan, tetapi senantiasa memberi.

✾ ✾ ✾

Freya seperti memiliki perawat pribadi saat Mars dengan penuh ketelatenan mengganti perban kakinya. Rasa sakit yang terkadang menyerang, bisa dilewati dengan mudah bersama pria itu di sampingnya. Mars sekaligus menjadi alarm untuk jadwal minum obat.

"Lukanya udah mulai kering, Frey. Jari kaki kamu juga udah nggak bengkak. Tinggal nunggu beberapa hari lagi pasti sembuh," beritahu Mars.

Freya ikut mengamati kakinya. "Tapi berbekas," keluhnya. Bekas melepuh itu memenuhi punggung kakinya, meski yang paling parah hanya berdiameter kecil.

"Kan bisa diilangin nanti."

Tetap saja Freya merasa tidak puas. Dia sangat menjaga tubuhnya dari atas hingga bawah. Jadi, bekas luka seperti ini sangat mengganggu penampilan. Memang mudah menghilangkannya, dia tinggal datang ke klinik kecantikan dan melakukan berbagai metode modern.

"Udah selesai," kata Mars setelah luka Freya tertutup perban lagi. Freya pun menurunkan kakinya dari paha Mars, memindahkannya ke atas meja. "Kamu minta digaji berapa?" candanya.

"Pay with a kiss," jawab Mars menunjuk bibirnya.

Freya mencebik, namun tetap saja menurutinya. Dia mencondongkan tubuh ke arah Mars, mengecup bibir pria itu. Lalu menjauhkan wajahnya lagi.

"Makasih," cengir Mars sembari mengusap puncak kepala Freya. Dia pun merapikan sisa-sisa perban yang memenuhi meja. Membuang yang kotor ke kotak sampah dan menyimpan koyak P3K ke tempat semula.

"Mars, aku boleh nanya sesuatu?"

Mars duduk kembali di sebelah Freya, meraih tangan Freya dan menggenggamnya erat. "Mau nanya apa?"

"Kamu bisa kenal Oliv, di mana?"

"Sebenernya Oliv itu satu Fakultas sama aku, tapi beda Jurusan. Katanya sih dia sering lihat aku di Kampus, tapi aku nggak ngeh kalau dia ada."

"Terus-terus?"

"Nah, kebetulan banget kita melamar di perusahaan yang sama waktu itu dan sama-sama nggak diterima. Dari situ kita tukeran nomor telepon, ya buat saling ngabarin kalau misalnya ada loker yang bagus."

"Terus kalian sering komunikasi, dong?"

"Lumayan."

"Berarti kamu sempet deket dong sama dia?"

"Ya deket, cuma bahas soal cari kerja. Sampe kita udah ngelamar ke mana-mana dan capek, akhirnya muncul lah ide buat bikin usaha sendiri."

"Oooh, berarti kamu sama Oliv join?"

"Yep. Kita sama-sama cari modal saat itu. Dia minta sama orang tuanya dan aku jual motor. Uangnya kita kumpulin dan kita pakek buat sewa ruko."

"Kamu tau nggak, Frey, setelah kami semangat banget dan yakin pasti pasti bisa, malah nggak ada satu orang pun yang mau pakek jasa kami. Padahal, itu harganya udah ancur-ancuran banget," lanjut Mars merasa konyol.

"Terus gimana bisa sampe sebesar sekarang?"

"Belum besar banget sih, Frey. Lumayan lah, hehehe." Mars menarik nafas sebelum akhirnya melanjutkan, Freya berpindah duduk ke pangkuannya mencari posisi nyaman. Mars memeluk wanita itu. "Karena kita udah abis-abisan banget buat modalin usaha itu, kita pun muter otak gimana caranya agar dapet pelanggan. Oliv kasih ide buat kita terjun ke lapangan, bagi-bagi brosur gitu."

Freya mendengarkan dengan serius.

"Pas hari ke tujuh kita masih bagi-bagi brosur di depan Bank gitu, tiba-tiba ada sekelompok orang yang mau merampok bapak-bapak yang baru aja keluar dari Bank. Karena aku merasa kasihan, aku tolongin."

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang