Chapter 25. Terbongkar (Free)

683 57 24
                                        

"Come on, Frey. Kita sudah dewasa. Aku yakin kamu pun menginginkan itu. Apa yang kamu dapatkan dari anak kecil itu? Dia bisa membuatmu puas?"

✾ ✾ ✾

Ting. Tong.

Freya berdiri di depan pintu kamar Panji dan menekan bel. Dia memilih untuk tidak sembunyi, bila masalah ini tidak selesai maka selain reputasinya yang hancur, kehidupan percintaannya pun akan berakhir tragis. Mars tidak pernah tahu soal ini, Freya berencana merahasiakannya seumur hidup.

Tapi Panji, pria brengsek itu sangatlah licik.

Pintu terbuka, Panji berdiri di baliknya dengan senyum bak Iblis. "Masuk Frey," suruhnya sembari bergeser.

Freya masuk dengan wajah kelam. Dia langsung berbalik menghadap Panji, tidak ingin berbasa basi. "Apa mau kamu?" tanyanya dengan tatapan tajam.

"Jangan buru-buru, Frey. Aku siapin makan malam buat kita," Panji merangkul Freya dan membawanya ke dalam.

"Aku nggak mau basa-basi, What do you want?!" Freya menepis tangan Panji dan marah.

Panji tersenyum dan tetap tenang. Pria ini memiliki sisi bak malaikat di wajah, tetapi sangat mengerikan. "Aku nggak minta banyak, cuma mau hubungan kita kembali."

"Kita nggak pernah ada hubungan. Aku belum menerima kamu sampai aku kembalikan semua yang kamu kasih, kamu lupa?" desis Freya.

"Apa yang kamu kembalikan hanyalah simbol, Frey. Kamu jangan lupa kalau kita mulai terikat di Singapore," sahut Panji sambil memutari tubuh Freya. Dia berhenti di belakang wanita itu dan berbisik, "kalau aja kamu nggak munafik, malam itu kita udah melakukannya."

Freya berbalik dan mendorong Panji. "Aku beruntung nggak terpedaya sama Buaya kayak kamu," ujarnya tersenyum sinis.

"Oh ya?" Panji tersenyum miring. Dia mengambil sebuah remote dan menekan play pada layar hitam televisi. Tak lama, sebuah Video berputar di situ.

Freya mengepal tangannya. Video ini sama seperti yang dilihatnya di ponsel tadi, berdurasi panjang. Dimulai dari makan malam sialan itu, lamaran yang terkesan seperti Freya menerimanya. Lalu momen ketika Panji mengantar Freya masuk ke kamar, di mana pintu ditutup dan seakan-akan mereka sedang melakukan sesuatu di dalam sana. Potongan adegan selanjutnya, menyoroti tubuh Freya saat berendam di Jacuzzi. Adegan terakhir adalah di kamar itu, saat Freya masuk dan Panji ada di sana.

"Menurut kamu publik akan percaya di antara kita nggak terjadi apa-apa setelah melihat ini?" tanya Panji memainkan intonasi suaranya sehingga terdengar sangat licik. "You sigh, Frey," bisiknya sambil melingkari tangan di pinggang Freya.

Freya langsung mendorong Panji. Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu karena marah. "Kamu licik," desisnya.

"Aku cuma berjaga-jaga, Frey. Aku udah menghabiskan banyak uang untuk kamu, wajar kalau aku mau semua yang terbuang itu nggak berakhir sia-sia, kan? Harus ada yang aku dapatkan atas apa yang aku bayar."

"Berapa? Aku akan ganti semuanya!"

Panji tertawa. "Apa kamu berpikir aku semiskin itu sampai meminta uangku kembali?"

Freya menatap Panji semakin tajam.

Panji mendekati Freya lagi, "I want you," ucapnya kemudian.

Pupil mata Freya melebar, pria ini selalu menyebut ini saat mereka bersama. "Nggak akan," tolak Freya, sekali lagi mendorong Panji.

"Fine, kamu pasti tau aku ini bukan pemaksa. Tapi ingat Frey, kamu akan hancur setelah ini," ancam Panji.

"Kamu bener-bener brengsek, Panji. Aku nyesel kenal sama kamu," desis Freya putus asa.

Panji langsung memegangi pipi Freya, "Jangan seperti ini, Sayang. Kamu membuatku terlihat sangat jahat."

Freya tidak melawan lagi, dia sudah kalah.

"Just once, sleep with me. Setelah itu aku berjanji hubungan di antara kita tidak lebih sebatas partner bisnis."

"Are you crazy?"

"Come on, Frey. Kita sudah dewasa. Aku yakin kamu pun menginginkan itu. Apa yang kamu dapatkan dari anak kecil itu? Dia bisa membuatmu puas?"

Freya seketika tersadar kalau dia harus pulang. Party Planner pasti sudah datang, harusnya dia ikut mengatur segalanya. Bukan malah di sini dengan pria bajingan ini.

"Tatap aku," Panji menangkap pipi Freya dan tidak membiarkan wanita itu berpaling. "Apa anak kecil itu pernah membuatmu orgasme? kamu tau seperti apa rasanya?"

Pikiran Freya tentang kejutan untuk Mars pun teralihkan. Sisi nakal dalam dirinya yang tersembunyi mencoba untuk keluar. Ada gelenyar aneh yang mengalir di sekujur tubuh saat tangan Panji merayapi lengannya. Pria itu berhasil membuka outer-nya, menyisakan tengtop tipis yang mempertontonkan bra hitam miliknya.

"Aku bisa membuatmu puas, Frey. Nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Bisa kamu bayangkan ..." Panji mengecup telinga Freya, wanita itu mendesis tertahan. "Aku akan menjilatinya sampai kamu orgasme berulangkali. Lidahku ini sangat ahli bermain."

Baru mendengarnya saja, Freya merasa miliknya berkedut. Otaknya tiba-tiba saja membayangkan apa yang Panji katakan barusan.

Panji berhasil memperdaya Freya, dia mengalihkan pikiran wanita itu dengan mulut manisnya yang terlatih. Dia membuat Freya tidak berkutik saat tangannya merayap memasuki tengtop wanita itu. "Tubuhmu indah sekali, sayang," pujinya sembari mengecup pundak polos Freya.

Freya memejamkan mata, bisa dia rasakan tangan Panji bergerak ke kaitan bra-nya. Namun kesadarannya cepat kembali saat wajah Mars terbayang di matanya.

"Brengsek!" Freya menendang Panji, tepat di kemaluan pria itu. Dia berniat lari, sudah diambang pintu namun Panji berhasil menangkap pergelangan tangannya.

✾ ✾ ✾

Susi gelisah, Freya sudah pulang sejak lama tapi kata orang dari Party Planner wanita itu tidak ada di Apartemen. Dia mencurigai Panji, karena pria itu sempat menelpon beberapa kali bertanya padanya keberadaan Freya. Panji juga bilang kalau dia sedang menunggu Boss-nya itu untuk meeting di luar, padahal seharusnya bila ada jadwal meeting maka Susi yang lebih dulu tahu.

Ting.

Dani: Jangan bikin gue masuk penjara. Ini terakhir. Temen lo di Ex7 Hotel.

Dugaan Susi benar. Dia bersyukur memiliki teman yang bisa melacak keberadaan ponsel seseorang. Ex7 hotel adalah tempat tinggal Panji, itu artinya ...

Dani: Kok bisa sih temen lo terjebak sama Penjahat Kelamin?

Susi langsung menelpon Mars. Kali ini dia terpaksa melibatkan adiknya itu karena Freya dalam bahaya. Mars yang sedang disibukkan mengantar jahitan milik Pelanggan Ibunya, susah sekali dihubungi.

"Mars, angkat dong ..." kata Susi gelisah. Dia mondar-mandir di depan pintu rumah.

Suara motor Mars terdengar, Susi pun langsung mendatangi adiknya itu. Belum sempat Mars membuka helm, Susi sudah berteriak.

"Mars, Freya dalam bahaya!"

✾ ✾ ✾

Maaf kalau lama update-nya.

Tetep... kalau sepi komen ya lama, no debat, itu udah aturannya.

Next mau update kapan, tergantung kecepatan jari kalian komen huehehe.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang