Chapter 24. Party Planner

623 58 35
                                        

Aku cuma terlalu sayang sama kamu, Frey. Aku belum punya apa-apa yang bisa dijadikan jaminan untuk bikin kamu bahagia. Kalau aku kalah sama nafsu sekarang, aku takut nggak bisa berhenti dan terus minta itu sama kamu, tanpa ada balasan yang setimpal dari aku.

✾ ✾ ✾

Hubungan Mars dan Freya kembali lagi seperti semula, bahkan bertambah mesra. Mereka sudah go public sekarang, masing-masing suka post foto berduaan di akun instagram. Berbagai komentar berdatangan, pro dan kontra. Dunia serasa milik berdua itu benar, mereka menjalaninya seakan tidak ada manusia lain di muka bumi ini.

"Sebentar lagi aku wisuda, kamu beneran bisa dateng, kan?" tanya Mars berulang kali.

"Iyaaa. Kamu nggak percayaan banget sih." Freya duduk di antara kedua kaki Mars, mereka sedang menonton film di apartemen wanita itu. Pas sekali, momen-nya si Tokoh utama pria sedang wisuda dan pacarnya menemani.

Tangan Mars melingkar di perut Freya, dagunya disandarkan ke pundak wanita itu. "Aku nggak akan wisuda kalau kamu nggak dateng," ancamnya.

"Aku pasti dateng," janji Freya.

"Setelah Wisuda, aku bakalan cari kerja. Aku mau nabung buat bisa nikah sama kamu," kekehnya.

"Amin." Dia lalu menoleh ke belakang agar bisa melihat wajah Mars, "bentar lagi kamu ulang tahun kan, ya?"

"Iyaps."

Freya tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya tersenyum. Sebentar lagi, Mars akan berusia dua puluh satu tahun, dia ingin memberikan sebuah kejutan.

"Kenapa?" tanya Mars penasaran.

"Nggak papa, takut lupa."

"Awas aja sampe lupa."

Freya terkekeh, "Jangan maksa dong."

"Ya maksa lah. Aku cuma minta kamu jadi orang pertama yang ucapin selamat ulang tahun buat aku. Nggak minta yang lain, jadi kalau kamu lupa aku bakal kecewa banget."

"Kalau aku ketiduran gimana?"

"Aku bangunin."

"Ya udah kalau gitu kamu tidur di sini aja nanti, jadi ada garansi aku pasti nggak akan lupa."

Mars terkekeh di ceruk leher Freya, membuat wanita itu bergidik geli dan merasa sedikit kepanasan. "Jangan keseringan ngajak aku nginep, takut nggak kuat."

Freya lantas mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan di pangkuan Mars. "Apa yang bikin kamu selalu nahan diri?" tanyanya penasaran.

Mars sedikit berpikir, "Mungkin belum waktunya aja." Dia merapikan rambut Freya yang menutupi mata.

"Waktu yang pas menurut kamu itu setelah menikah?" Giliran Freya yang membelai wajah Mars.

Mars menggeleng.

"Terus?"

"Nunggu apa yang kita lakukan itu bisa dipertanggungjawabkan. Aku nggak mau kita kalah sama nafsu, berujung menyesal di kemudian hari."

Freya menatap Mars seakan ingin menilai sesuatu.

"Aku tau kamu pasti mau bilang aku ini kuno, kan?" kekeh Mars.

"Sedikit," jawab Freya ikut terkekeh.

"Aku cuma terlalu sayang sama kamu, Frey. Aku belum punya apa-apa yang bisa dijadikan jaminan untuk bikin kamu bahagia. Kalau aku kalah sama nafsu sekarang, aku takut nggak bisa berhenti dan terus minta itu sama kamu, tanpa ada balasan yang setimpal dari aku."

Freya benar-benar terpana mendengarnya. Kalimat indah itu meluncur dari mulut Mars dan menetap di hatinya.

"Dan jangan kamu pikir aku Nggak tergoda sama kamu. Sumpah, butuh banyak kewarasan untuk bisa bertahan dengan kamu yang kayak gini," jujur Mars.

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang