Chapter 38. CLBK (Free)

275 44 2
                                        

Ketika dua orang manusia menurunkan ego mereka, maka cinta akan datang dengan mudahnya.

✾ ✾ ✾

"Pergi! Kalau kamu emang nggak perduli sama aku!" suruh Freya di sela rasa sakitnya yang tiada ampun. Dia mengepalkan tinju, membuat kukunya menancap di telapak tangannya itu. Demi apapun rasa perihnya seakan ingin membunuhnya.

Mata Mars berkilat-kilat penuh emosi. Melihat Freya kesakitan seperti itu, dadanya kembali tersiram bara api. Dia tau Freya tidak main-main, pasti sangat sakit.

"Ahhhh." Freya menjerit kembali, matanya terpejam dengan air mata yang mulai tumpah. Ini memang hal tergoblok yang pernah dia lakukan.

Tidak tahan lagi, Mars membuang egonya dan mendekati Freya kembali. "Kamu udah gila, hah?" tanyanya pelan, namun sangat emosional.

"Kamu peduli, kan? iya kan?" tanya Freya terisak, antara rasa sakit dan senang karena dia benar.

Mars ingin sekali memaki wanita bodoh itu. Untuk apa Freya harus menyakiti diri sendiri seperti ini hanya untuk sebuah pengakuan?

Apakah itu berguna di situasi mereka sekarang ini?

"Jawab aku Mars, kamu masih peduli, kan, sama aku?" ulang Freya dengan suara serak. "Kamu nggak tega, kan, lihat aku kesakitan kayak gini?" tambahnya lagi.

"Damn you, Frey!" umpat Mars kesal. Detik setelahnya, Mars menarik tengkuk Freya dan menyatukan bibir mereka.

Ini ciuman pertama mereka setelah dua tahun lamanya berpisah. Bukan jenis ciuman biasa, melainkan penuh dengan ledakan. Bibir mereka saling melumat, meluapkan kerinduan yang menyiksa diri selama ini.

Freya tidak peduli pada rasa sakitnya, dia lebih berfokus membalas setiap pagutan kasar bibir Mars. Menekannya begitu keras, hingga kepalanya terdorong ke belakang dan Mars semakin menggila.

Ciuman itu semakin tidak terkendali saat lidah ikut bermain, saling membelit. Mars menekan tubuh Freya hingga menempel. Dada keduanya bergemuruh oleh detak jantung yang berloncat-loncatan.

Setelah cukup lama, oksigen mulai menyebabkan sesak nafas, Mars melepas ciuman itu. Dia hanya menyisakan sedikit jarak, membiarkan nafas mereka saling bertukar terengah-engah.

Dirasa belum puas, mereka kembali berciuman. Sama dalamnya. Sama bergairahnya. Freya sampai berbaring dan Mars membungkuk menindihnya.

Tetap seperti dulu, ciuman ini tidak terasa asing. Rasanya masih sama. Hanya yang berbeda adalah lonjakan di dada, seperti ini pertama kalinya berciuman saja.

Untuk kedua kalinya, Mars memberikan jarak agar mereka bisa bernafas. Dia menyatukan keningnya dan Freya, saling menatap dalam jarak sedekat itu. Dengan nafas yang masih terengah-engah, mereka memulai kembali ciuman panas itu.

✾ ✾ ✾

Awkward adalah satu kata yang paling tepat untuk mewakili situasi di antara Mars dan Freya saat ini. Keintiman mereka tadi, menyisakan banyak tanda tanya.

Mars sedang memasang kembali perban di kaki Freya, setidaknya memberi waktu untuk mereka sama-sama menetralkan keadaan jantung masing-masing. Tidak ada yang bicara lebih dulu, semua sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.

Tapi lelah, menganggap seakan-akan tidak terjadi apa-apa itu rasanya mustahil.

"Let's talk," ajak Mars akhirnya.

Freya mengangguk.

"Yang kita lakukan tadi, anggap aku yang salah. Kamu nggak harus merasa bersalah sama suami kamu karena ini terjadi di luar keinginan kita. Kita nggak ada maksud untuk ..."

"Wait..." Freya memotong ucapan Mars. "Suami aku?" tanyanya bingung.

"Iya, suami kamu, siapa lagi?" tanya Mars balik. "Aku tau ini nggak bener. Kita udah main-main di belakang dia. This is my fault," ucap Mars dengan berat hati.

"Kamu ngomong apa sih, Mars? Siapa yang udah nikah?" tanya Freya semakin bingung.

Mars jadi ikutan bingung. "Gishi, Panji, mereka ..."

"Gosh! Gishi itu keponakan aku, anak Gio sama Shila. Sementara Panji, kami cuma partner kerja, nggak lebih."

Wajah Mars seketika seperti dibebaskan dari beban berat. Dia menatap Freya tak percaya.

"Jadi, kamu berpikir aku sudah menikah dengan Panji dan punya anak?"

"Ya aku pikir ..."

"Aku bukan kamu, yang gampang banget move on," ujar Freya kecewa.

"Move on? Siapa yang move on?" tanya Mars balik.

"Ya kamu lah, itu sama Oliv," jawab Freya enggan.

"Nggak lah. Oliv itu cuma rekan kerja, Frey. Kami nggak ada hubungan apa-apa," ralat Mars dengan cepat.

Giliran wajah Freya yang nampak sangat lega.

"Jadi selama ini kita ..." ucap keduanya bersamaan. Lantas mereka tertawa geli karena merasa konyol.

"That's why komunikasi itu penting," kata Mars menggelengkan kepala, lucu sekali rasanya.

"Kamu yang block aku," sindir Freya.

Mars menatap Freya kemudian, begitu dalam. "Dua tahun ternyata nggak ngerubah apapun ya, Frey? Bahkan setelah kita ketemu lagi, rasanya masih aja sama."

Freya tersenyum. "Kita membuang-buang waktu selama dua tahun hanya untuk sebuah ego," ucapnya menyesal.

Mars mengangguk. "Maafin aku," ucapnya dengan tulus. "Aku kelewat cemburu, sampe-sampe nggak mau denger alasan kamu. Aku yang nggak pede sebenernya, bodoh banget emang." Mars menunduk menyesali kebodohannya.

Freya mengusap punggung Mars. "Yang udah berlalu, biarin aja berlalu. Kalau kita habiskan hari ini dan seterusnya buat menyesali keadaan, bukannya itu lebih bodoh ya?"

Mars mengangkat wajahnya menatap Freya kembali. "Emangnya... Kamu mau nerima Aku lagi?" tanyanya sedikit ragu.

"Itu sebabnya kenapa aku belum move on sampe sekarang Mars," ujar Freya sebagai jawaban.

Mars menghela nafas lega. "Aku janji, nggak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Sekali pun ada yang coba buat deketin kamu, kali ini aku akan fight buat lawan mereka."

"Iya deh... yang udah sukses sekarang," sindir Freya.

Mars tergelak. "Tetep aja nggak bisa ngalahin kesuksesan kamu," sindirnya balik.

Mereka sama-sama tertawa.

✾ ✾ ✾

I'm the BossCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang