CON-2

93.8K 8.4K 1.8K
                                        

"Salah satu bridge kamu di bagian introduction itu saja sih, yang perlu di perbaiki. Yang lainnya sudah memuaskan."

Aku meletakkan skripsi milik Aninda di atas meja setelah memberikan revisi di beberapa bagian, "Bridge bagian communication ke politenessnya masih mentah, terus bagian keywordsnya bisa kamu tambahkan pragmatic analysis."

"Baik, miss." Aninda terlihat mencatat penjelasanku barusan. Dugaanku salah, saat kupikir gadis berumur 20 tahun itu akan segera keluar ruangan begitu aku menandatangani kertas jadwal bimbingan, nyatanya Aninda masih duduk di kursinya-menatapku sebentar lalu menundukkan kepalanya.

"Saya butuh memberikan penjelasan, Miss."

"Huh?"

Aninda kembali menegakkan kepalanya. "Saya tidak bisa membiarkan orang di luar sana berbicara yang tidak benar tentang saya dan menganggap kalau Miss Najmi adalah korban."

But wait... Oh, I had no idea she'd bring it up...

"Beberapa dosen dan teman-teman berani mencela saya secara terang-terangan-menyebut saya perebut calon suami orang."

Aku menghela napas perlahan. "Lalu, salahnya di mana?"

"Sebelumnya saya nggak tahu soal itu," jawabnya cepat mencoba membela diri.

Well... "Tapi, kamu sekarang sudah tahu, kan?" tanyaku balik.

Wajah Aninda memerah, sementara tangannya mengepal kuat di atas meja. "Nin, you have to know this..." Aku berucap tenang, berusaha tidak kehilangan kesabaran. "... stop caring about what others think of you. Kalau kamu merasa tidak adil karena mereka menghakimi kamu dan secara tidak langsung membela saya, jelas kamu salah." Bisa kulihat kalau Aninda ingin manyelaku, namun cepat-cepat aku kembali melanjutkan. "Situasi yang kamu hadapi saat ini harusnya sudah kamu pikirkan setelah tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan pria yang akan menikah. I know you're really well, Nin dan saya cukup terkejut dengan konfrontasi gegabah yang kamu lakukan sekarang."

Well, sudah terlanjur juga bukan? Aku mengakui bahwa perilaku ku barusan sangat tidak professional, but I need a closure for this problem. Sudah enam bulan sejak pernikahan yang harus kujalani gagal dan berhubung Aninda cukup berani untuk langsung bicara denganku, jadi tidak akan ku sia-siakan begitu saja.

Aninda terlihat menundukkan wajahnya kembali. Dengan suara lirih, dia kembali berucap. "Saya juga tidak sedang hamil."

"I know, Nin." Aku menganggukan kepalaku beberapa kali. Jawabanku sepertinya menarik perhatian Aninda, hingga gadis itu kembali menatapku dengan heran. "Saya tidak akan pernah mau menikahi seorang pria yang tidak bisa menghargai wanita. Dan, saat itu Fian menjadi pilihan saya, karena dia memenuhi kriteria tersebut. And when he told me about you, pilihan bahwa dia menghamili seorang perempuan tidak pernah terpikirkan sama sekali. And I've told you before, kan? Saya mengenal kamu dengan baik. You are an intellectual and a courageous girlkamu jelas nggak mungkin menghancurkan rencana masa depan kamu dengan cara seperti itu, Nin."

Kami berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat, sebelum pintu ruanganku terbuka dan memunculkan sosok Adelia di balik pintu. "Oh, maaf menganggu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau program KRS online sudah diperbaiki."

Aku mengangguk lantas mengucap terima kasih. Setelah memastikan Adelia sudah pergi, aku kembali menaruh perhatian pada sosok Aninda yang masih terdiam di tempat duduknya. "Sudah?" tanyaku merujuk pada sesi tanya jawab yang sangat pribadi hari ini.

CONNECTED (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang