Mustahil.
Sangat tidak masuk akal.
Itulah yang Chan pikirkan setelah ia mendengar penjelasan dari Woojin. Entah itu untuk Han Jisung yang diculik atau untuk Felix.
Yang saat ini, posisinya sudah menjadi tersangka. Karena terduga sebagai komplotan para pelaku penculikan.
Sekuat apapun, Chan mencoba untuk menyangkal bahkan tidak mempercayai penjelasan Woojin.
Hasilnya selalu sama. Apa yang Woojin katakan memang benar adanya.
Han Jisung memang sudah diculik. Dan Felix membantu sang pelaku untuk menjalankan aksinya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangankan orang lain. Felix sendiri pun juga terkejut dengan apa yang telah ia perbuat pada malam itu.
Bukan karena ia dalam kondisi tidak sadar. Felix sadar, bahkan sangat sadar. Tapi ia terlambat untuk menyadarinya.
Felix terlambat untuk menyadari bahwa dari awal memang bukan dirinya. Dari awal mereka hanya ingin memanfaatkannya.
Dari awal mereka hanya tertarik dengan satu orang. Dan itu jelas bukan dirinya. Melainkan Han Jisung.
Seharusnya Felix mendengarkan apa yang dikatakan oleh para seniornya di Divisi Khusus.
Seharusnya ia tidak pernah bergabung dengan situs web ilegal itu. Hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain, bahwa ia juga seorang good hacker.
Seharusnya Felix menyadari alasan mereka yang sering kali bertanya apakah ia memliki teman yang juga cukup ahli dalam bidang hacking.
Seharusnya malam itu, ia tidak berbohong kepada Han Jisung. Dengan mengatakan bahwa Chan tengah membutuhkan bantuannya.
Hanya agar Han Jisung mau mengikutinya ke tempat dimana para bajingan itu menunggu.
Namun sayangnya, semua telah terjadi.
Han Jisung telah di bawa pergi, entah kemana. Serta dirinya sendiri yang menjadi seorang tersangka. Membuat semua rekannya di Divisi Khusus kecewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan kondisi setengah sadar, Han Jisung mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitarnya.
Gelap
Ia hanya dapat mencium bau busuk serta bau darah. Yang sangat mungkin berasal dari tubuhnya sendiri.
Entah separah apa lukanya. Han Jisung merasa, semua persendian tubuhnya terasa kaku. Susah untuk digerakkan.
Terlebih kedua tangan dan kakinya yang terikat sempurna oleh rantai besi.
Semakin ia mencoba untuk bergerak, maka semakin kuat rantai itu mencengkeram tangan serta kakinya.
“Oh, kamu sudah sadar?”
Sebuah suara yang terdengar tidak asing dapat Han Jisung dengar tepat ketika pintu tempat ia disekap terbuka.
Yang membuatnya sadar bahwa ia tidak disekap didalam ruangan, tapi di sebuah peti kemas.
“Ohh.. Lihatlah bagaimana bocah angkuh ini sekarang”
Tuan Kim
Batin Han Jisung ketika orang tersebut sudah berada tepat di hadapannya.
“Terlihat sangat menyedihkan”
“Sama seperti puluhan mayat yang sebelumnya mati di tempat ini”
Dengan mencengkeram kuat kedua pipi Han Jisung, Tuan Kim memaksa agar sang tawanan melihat kesekeliling. Tempat dimana para mayat berserakan.
“K-au i-ngin..”
“M-emb-unuh-ku?”
Rintih Han Jisung mencoba agar Tuan Kim berhenti memaksanya untuk melihat ke sekeliling.
Karena sungguh, ia merasa mual. Dan itu sangat menjijikkan.
“Eoh! Tentu saja aku ingin membunuh bocah angkuh yang tidak tahu diri sepertimu”
“Tapi...”
Han Jisung segera meringis tertahan akibat ulah Tuan Kim yang semakin mencengkeram kuat pipinya.
Bahkan Tuan Kim sengaja menekan luka goresan yang ada pada wajah Han Jisung.
“Pak Direktur mengatakan..."
"... bahwa akan lebih menguntungkan jika aku memanfaatkan otak genius milikmu itu terlebih dahulu”
“Menjadikanmu sebagai seekor anjing yang akan sangat bermanfaat untukku”
Han Jisung kembali meringis kesakitan akibat Tuan Kim yang semakin menekan kuat lukanya.
Sampai berhasil membuat Han Jisung menangis karena sensasi perih yang ditimbulkan.
“Oleh karena itu, jangan pernah berharap, kamu dapat keluar dari tempat ini”
Jelas Tuan Kim mengakhiri kalimatnya sembari melepas cengkeramannya pada pipi Han Jisung dengan kasar.
Yang berhasil membuat Han Jisung kembali meringis kesakitan.
Belum puas dengan apa yang baru saja ia lakukan, Tuan Kim dengan sengaja meludah tepat ke arah Han Jisung.
Menginjak salah satu kaki sang tawanan sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Meninggalkan Han Jisung yang untuk kesekian kalinya merintih kesakitan, seorang diri di tengah pengap dan gelapnya peti kemas.
###
KAMU SEDANG MEMBACA
RUNNING AWAY PART 2: COMING BACK
Fanfiction"Aku melihatnya bukan karena aku menyukainya" "Tapi karena aku membencinya" "Sangat membencinya" "Dan kenapa aku sering melihatnya adalah agar aku selalu ingat, bahwa aku sangat membencinya" -Han Jisung ; RUNNING AWAY PART I : STAY OR LEAVE Melarika...
