28

1.3K 257 337
                                        

Berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya, kali ini Chan dengan senang hati menerima tawaran Woojin.

Yang mengajaknya untuk bertemu di sebuah cafe, yang terletak tidak jauh dari rumah sakit tempat dimana Han Jisung dirawat.

Sepertinya, kejadian yang menimpa Han Jisung tempo hari.

Yang menjadi awal mula runtuhnya dinding pembatas antara sang Ketua Tim dan mantan anggota Tim Divisi Khusus tersebut.

Woojin memang telah melakukan suatu kesalahan besar.

Ia pernah menjadi seorang pengkhianat. Yang dapat mencelakaan seluruh Tim Divisi Khusus.

Tapi kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu.

Bahkan Woojin sendiri sudah menyesali perbuatannya dan meminta maaf.

Dan anggota Tim Divisi Khusus lainnya juga sudah tidak mempermasalahkan kejadian itu lagi.

Jadi, bukankah sudah saatnya sang Ketua Tim juga berdamai dengan masa lalu?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah kurang lebih sepuluh menit berbasa-basi dengan sang Ketua Tim.

Woojin akhirnya memutuskan untuk segera mmberitahu sang lawan bicara mengenai tujuan awal ia mengajak untuk bertemu.

Dikeluarkannya sebuah kartu undangan yang sebelumnya telah ia sembunyikan. Dan memberikannya kepada sang lawan bicara.

“Ini..?”

“Euhm. Aku akan segera mengakhiri masa lajangku ini...”

“... Aku akan segera menikah”

Ah... Selamat”

Chan segera merubah raut wajah terkejutnya menjadi raut wajah bahagia.

Meskipun rasanya masih sangat canggung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Sebenernya ini sudah direncanakan sejak lama”

Ungkap Woojin yang menyadari raut terkejut yang terlihat jelas pada wajah sang Ketua Tim.

“Tapi...”

“Aku terus menundanya karena masih banyak hal yang harus kulakukan”

Chan hanya dapat menganggukkan kepalanya sembari meminum minuman yang sebelumnya telah mereka pesan.

“Salah satunya tentang Han...”

“Han Jisung”

Mendengar Woojin menyebut nama sang adik. Berhasil menarik perhatian Chan sepenuhnya.

“Tapi sebelumnya, aku ingin memperjelas beberapa hal...”

Chan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Tuan Park benar-benar sangat menyayangimu”

Chan kembali menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham atas apa yang dibicarakan oleh sang lawan bicara.

“Dan Tuan Park sama sekali tidak ada maksud untuk menyembunyikan keberadaan, Han...”

Kali ini Chan hanya diam. Tidak memberikan reaksi apapun.

Membiarkan Woojin melanjutkan ucapannya.

“Ia hanya tidak ingin membuatmu kembali terluka...”

“Karena kebahagianmu adalah prioritas utamanya”

“Oleh karena itu, beliau ingin menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya”

“Menunggu kau siap untuk mengetahui semuanya...”

“... Meskipun itu merupakan skenario terburuk”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Belum cukup membuat, Chan terkejut karena perihal kartu undangan.

Woojin kembali mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat. Dan memberikan map tersebut kepada sang Ketua Tim.

Sedangkan, Chan yang memang tidak tahu isi dari map tersebut hanya menerimanya dengan raut wajah tidak mengerti.

Seakan-akan memberikan isyarat, agar mantan anggota Tim Divisi Khusus tersebut mejelaskan maksud tujuannya.

“Dokumen yang hilang”

###

RUNNING AWAY PART 2: COMING BACKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang