37

1.3K 251 110
                                        

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah Changbin mengambil paksa satu bungkus rokok serta sebuah pemantik api dari tangan Han Jisung.

Sebuah tatapan sinis dan tidak bersahabat langsung Han Jisung layangkan untuk menatap sang senior.

Yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Ahh.. Tidak mengertikah Changbin bahwa Han Jisung membeli semua itu dengan uang.

“Kenapa?”

“Kenapa aku tidak boleh melakukan hal itu?”

Ucap Han Jisung akhirnya setelah sedari tadi ia hanya membiarkan sang senior mengomelinya.

“Kenapa kau melarangku, melakukan sesuatu yang bahkan tidak ada pengaruhnya untukmu?”

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Han Jisung tidak lagi menatap Changbin dengan tatapan sinis dan tidak bersahabatnya.

Melainkan sebuah tatapan yang selalu saja berhasil membuat orang yang ditatap diam tak berkutik.

Bahkan jika Changbin diminta untuk memilih, ia akan lebih memilih Han Jisung menatapnya dengan tatapan sinis dan tidak bersahabatnya.

Dibanding tatapan penuh misteri miliknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah bagaimana, namun pertanyaan yang dilontarkan oleh Han Jisung benar-benar berhasil membuat sang senior terdiam seribu bahasa.

Hanya membiarkan yang lebih muda melanjutkan kembali ucapannya.

“Kenapa?”

“Kenapa kau selalu bersikap seperti ini?”

“Kenapa kau selalu memilih untuk peduli dengan berandalan sepertiku?”

“Padahal kau sendiri tahu bahwa akan lebih baik jika kamu tidak peduli”

“Tapi kenapa...”

“Kau selalu bersikap seperti ini?”

“Kenapa kau lebih memilih untuk peduli..."

"Mengkhawatirkan keadaan seorang berandalan yang tidak tahu etika sepertiku?”

“Kenapa?”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Satu menit telah berlalu, namun baik Changbin maupun Han Jisung masih tetap pada posisi mereka.

Yang sama-sama saling menyelami manik kelam satu sama lain.

Mungkin akibat dari terpaan angin malam, sehingga membuat lidah Changbin terasa kelu.

Mulutnya tertutup rapat tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa.

Untuk menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh yang lebih muda.

Setidaknya, itulah yang Changbin rasakan sebelum ia melihat Han Jisung yang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.

“Ya! Lihatlah wajah bodohmu itu”

Jelas Han Jisung di sela-sela tawanya. Bahkan ia juga memegangi perutnya yang mulai terasa kram akibat banyak tertawa.

“Sumpah! Minta banget diketawain”

“Santai aja, hey!”

“Mana jelek banget lagi”

Berbeda dengan Han Jisung yang masih menertawakan ekpresi sang senior yang menurutnya sangat lucu.

Changbin malah merasa sangat kesal.

Ingin rasanya ia mendaratkan tangannya di kepala Han Jisung dengan sebuah pukulan yang pasti akan tetap terasa perih sampai beberapa hari kedepan.

Namun, melihat ekspresi Han Jisung yang tengah tertawa seperti ini. Seketika membuat Changbin lupa akan niat jahatnya itu.

Dan tanpa sadar sebuah senyuman tulus muncul di bibir sang senior.

Bukankah Han Jisung yang seperti ini jauh lebih baik?

###

RUNNING AWAY PART 2: COMING BACKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang