35

1.2K 260 100
                                        

Sesuai dengan kesepakatan bersama, Chan dan Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di salah satu penginapan yang memang telah tersedia di resort milik Woojin tersebut.

Alasannya sederhana, hanya karena Woojin yang merasa tidak enak serta khawatir jika tamu spesialnya harus melakukan perjalanan malam.

Akibat jarak tempuh yang harus mereka lalui cukup jauh jika memutuskan untuk pulang malam ini juga.

Dan tentu saja hal itu disambut riang gembira oleh para Tim Divisi Khusus. Bermalam di sebuah resort mahal nan mewah secara gratis.

Tentu saja anggota Tim Divisi Khusus tidak akan menolaknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berbeda dengan anggota Tim Divisi Khusus lainnya yang memilih untuk bersenda gurau bersama di luar kamar.

Menikmati suasana resort mewah pada malam hari.

Sang Ketua Tim lebih memilih untuk menyendiri di balkon kamarnya.

Sembari menatap sendu ke arah gelapnya langit malam. Persis seperti orang yang tengah patah hati.

“Sudah kuduga. Disini rupanya”

Sebuah suara yang sudah sangat Chan kenal, berhasil masuk menyapa indra pendengarannya.

Membuat Chan tersadar dari lamunannya. Namun, masih enggan untuk mengalihkan atensinya.

Karena tanpa perlu dilihatpun, ia sudah tahu siapa orang itu. Siapa lagi jika bukan, Changbin.

Hyung! di cariin tuh sama yang lain”

Changbin kembali bersuara ketika ia sudah berada tepat di sebelah sang Ketua Tim.

Yang masih enggan untuk beralih dari menatap langit.

“Jadi bagaimana? Hyung sudah mendapatkan jawabannya?”

Meskipun masih enggan untuk membuka suaranya.

Setidaknya kali ini Chan memberikan Changbin sebuah jawaban, berupa sebuah anggukan kepala.

“Bukankah itu hal yang bagus?"

"Karena akhirnya hyung mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, empat belas tahun yang lalu?”

Sebuah anggukan kepala kembali Changbin dapatkan sebagai jawaban.

“Lalu kenapa hyung tampak bersedih? Jika sudah mendapatkan jawabannya?”

Kali ini Chan tidak lagi menganggukkan kepalanya. Ia hanya menghela napas pelan dengan atensi yang tetap tertuju pada langit.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Melihat keadaan sang Ketua Tim saat ini, sudah cukup membuat Changbin mengerti bahwa jawaban yang Chan dapatkan tidak sepenuhnya hal baik.

Hyung!”

Panggil Changbin yang akhirnya berhasil membuat Chan mengalihkan atensi menjadi menatap ke arahnya.

“Apapun yang hyung dengar, apapun yang hyung ketahui saat ini. Tidak akan merubah fakta bahwa Han...”

“Han Jisung adalah adikmu yang hlang”

“Dia adalah Peter. Anak laki-laki yang selama ini hyung cari”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah mendengar penjelasan Changin, Chan kembali mengalihkan atensinya menjadi menatap ke arah langit.

Sebenarnya, ia juga tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Karena rasanya seperti semuanya menjadi satu.

“Han..”

“Han Jisung... Anak itu”

Chan nampak menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.

“Memiliki ayah biologis yang berbeda”

“Ayahku bukanlah ayah biologisnya... Bunda mendapatkannya dari laki-laki lain”

“Dan membuat skenario seakan-akan ayahlah pelakunya”

###

RUNNING AWAY PART 2: COMING BACKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang