Berbeda dengan hari-hari biasanya kali ini, malam sang Ketua Tim Divisi Khusus terasa jauh lebih tenang nan damai.
Selain karena faktor tidak adanya misi khusus, yang biasanya membuat Chan dan Tim kerja lembur bagai kuda.
Malam ini Han Jisung juga sudah melarang Chan dan Tim untuk datang menemuinya.
Alasannya sederhana, hanya karena memang malam ini Han Jisung sedang tidak dirumah.
Entah apa yang sedang dilakukannya, Chan juga tidak tahu pasti.
Tapi tenang saja, tidak perlu terlalu penasaran.
Karena belum sampai sepuluh menit Chan tiba di rumahnya. Ia sudah mendapatkan sebuah panggilan.
Panggilan dari Woojin, yang sudah pulang dari kegiatan bulan madunya dua hari yang lalu.
Dimana ia mengungkapkan bahwa saat ini Han Jisung tengah berada di kantor polisi.
Maka dari itu, Chan tidak perlu terlalu penasaran karena nantinya ia akan tahu sendiri jawabannya.
Justru ia harus segera mengucapkan selamat tinggal pada malam yang tenang nan damai.
Karena sudah pasti hal itu tidak akan terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan tergesa, Chan berlari masuk ke dalam sebuah kantor polisi sesuai dengan yang di informasikan oleh Woojin ditelfon sebelumnya.
Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan guna menemukan sosok Han Jisung.
Yang menjadi satu-satunya alasan Chan datang ke kantor polisi pada waktu malam seperti ini.
Setelah menemukan sosok yang dicari, Chan segera berjalan mendekat.
Dapat ia lihat tiga pria dewasa dalam keadaan babak belur duduk bersebelahan dengan sang adik yang bisa dikatakan dalam kondisi yang tidak jauh berbeda.
Dengan proporsi tubuh Han Jisung yang mungil berhadapan dengan tiga pria raksasa, tentu saja apa yang diharapkan.
“Selamat malam! Saya-“
“Ah... Apakah kau wali dari bocah sialan ini?”
Potong salah satu dari tiga pria dewasa yang terlihat seperti pemimpinnya, tepat setelah Chan berada di dekat mereka.
“Iya, saya kakaknya”
Jawab Chan sembari melihat ke arah Han Jisung yang segera membuang muka enggan untuk menatapnya.
Dengan tangan yang disilangkan di depan dada dan raut wajah yang terlihat kesal.
“Bagus sekali jika kau adalah kakak dari bocah sialan ini"
"Asal kau tahu... berandalan itu, telah membuat keributan di tempat kami dan juga membuat kami babak belur seperti ini”
Lapor pria tersebut dengan memperlihatkan luka memar di wajahnya serta luka memar pada dua orang rekannya yang duduk disampingnya.
“Sangat sulit dipercaya..."
"Bagaimana bisa kau membiarkan bocah dibawah umur sepertinya berkeliaran di luar untuk berjudi dan minum minuman beralkohol”
Lanjutnya lagi mengabaikan keberadaan petugas kepolisian yang ada dihadapan mereka.
“Ck. Payah”
Rutuk Han Jisung setelah ia mendengar ucapan pria tersebut.
“Apakah kau tidak malu?! Bagaimana bisa pecundang sepertimu menyebutku bocah"
"Sedangkan dirimu saja tidak mampu mengalahkan bocah sepertiku?”
“Berhentilah banyak tingkah! Jika bermain kartu saja kau tidak mampu”
“YA!”
Bentak pria tersebut yang kembali tersulut emosinya. Dalam sekejap ia sudah menarik kerah baju Han Jisung dan mencengkramnya kuat.
“Kenapa? Kau kesal karena apa yang kukatakan adalah kebenarannya?”
“Akui saja jika kau terlalu bodoh dan terlalu miskin untuk bermain kartu dengan bocah sepertiku”
Untungnya saat ini Han Jisung tengah berada di kantor polisi ditambah dengan adanya sang Ketua Tim Divisi Khusus disampingnya.
Jadilah ia selamat dari pukulan maut yang hendak dilayangkan oleh pria tersebut.
Syukurlah.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
RUNNING AWAY PART 2: COMING BACK
Fanfiction"Aku melihatnya bukan karena aku menyukainya" "Tapi karena aku membencinya" "Sangat membencinya" "Dan kenapa aku sering melihatnya adalah agar aku selalu ingat, bahwa aku sangat membencinya" -Han Jisung ; RUNNING AWAY PART I : STAY OR LEAVE Melarika...
